
Devia duduk di kursi taman belakang rumahnya dengan Dafa, kembarannya. Gadis itu bersandarkan kepalanya dibahu abangnya . Dafa mengusap kepala adiknya, dia sesekali mencium kening adiknya. Mereka berdua sangat merindukan saat berdua seperti ini. Tapi karna Devia sudah menikah membuat mereka berdua tidak ada waktu luang untuk bertemu. Dafa sibuk mengurus perusahaan papahnya yang di serahkan padanya untuk mengelolanya, sedangkan Devia sibuk dengan kuliahnya, apalagi gadis ini sedang hamil harus banyak istirahat, dan Skala begitu membatasi istrinya untuk beraktivitas takut terjadi apa-apa dengan kandungan Devia.
"Aku kangen berduaan kaya gini sama ,abang . Biasanya aku sering cerita sama abang Dafa kalau ada masalah" ujar Devia menatap pada Dafa.
"Tapi sekarang beda dek, kamu juga sudah nikah jadi gak bisa ketemu abang terus. kan ada suami kamu, kalau ada masalah cerita sama dia. Abang juga mau papah kirim ke Paris buat ngelola perusahaan cabang di negeri tersebut dan melanjutkan kuliah disana" ujar Dafa menatap lurus pada matahari yang mulai tenggelam. Devia menatap pada pria yang ada di depannya ini.
"Terus kalau aku melahirkan nanti, abang gak ada gitu. Aku mau abang tetap disini , aku mau saat aku melahirkan anak pertama ku nanti seluruh keluarga berkumpul termasuk abang Dafa" ujar Devia menggoyangkan lengan Dafa.
Sebenarnya dia ke Paris bukan hanya mengurus perusahaan dan kuliah. Tapi menjalani mengobatan pada penyakit yang dia derita.Entah dia masih bisa hidup dan bisa berkumpul dengan keluarganya . Dafa mengusap kepala adiknya , wanita kedua yang paling dia sayangi setelah mamanya.Dafa sedari kecil sudah di ajarkan oleh Devan harus menjadi pria tegar dan kuat. Dan pria yang bisa menjaga mama dan adik perempuannya.
"Jaga diri kamu baik-baik dek, abang titip mama sama papa " ujar Dafa.
"Abang kok gitu sih, kita sama-sama jaga mama sama papa. Abang juga pasti balik lagi, kan ke Indonesia" ujar Devia.
"Abang gak bisa janji bakal balik lagi ke sini, tapi yang pasti kamu harus jaga mama, kamu tau sendirikan mama itu biasanya gak bisa pisah dari kita. Apalagi setelah kamu gak tinggal dirumah lagi mama keliatan sedih " ujar Dafa.
"Iya, pasti aku jagain mama sama papa, tapi balik ya. Pasti abang juga mau lihat anak aku yang lahir nanti " ujar Devia tersenyum manis pada Dafa. Devia menyandarkan kepalanya dibahu abangnya. Tanpa di sadari Devia air mata Dafa menetes membasahi pipinya . Pria itu dengan cepat menghapus air matanya, sebelum adiknya melihat.
__ADS_1
"Devia, Dafa masuk dulu , nak " ujar Dinda yang berjalan mendekati anak kembarnya itu. Devan juga baru datang mendekati mereka bertiga.
"Ayo kita masuk kedalam rumah sudah mau magrib, gak baik wanita hamil diluar rumah magrib-magrib " ujar Dinda. Devia bangkit dari tempat duduknya di bantu Dafa. Gadis itu berjalan masuk kedalam rumah di tuntun oleh Dinda.
Devan mengusap rambut putranya lembut.
"Sudah kamu bilang sama adik kamu kalau kamu bakal ke Paris ? " tanya Devan.
"Sudah pah, tapi Dafa takut kalau operasi ini gagal . Dafa belum siap pisah dari kalian " ujar Dafa menangis terisak di hadapan papahnya. Hanya Devan yang tau serapuh apa putranya ini dan hanya dia yang tau penyakit yang di idap Dafa sedangkan Devia dan Dinda tidak mengetahuinya.Di umur yang masih muda Dafa harus mengidap penyakit yang begitu mematikan. Pria paruh baya itu memeluk putranya dan menepuk punggung putranya pelan.
"Sudah jangan nangis kaya gitu , malu sudah besar, gimana mau jadi kepala rumah tangga kalau cengeng kaya gini " ujar Devan. Dafa mengusap air matanya kasar dan tersenyum pada papah nya.
"Ayo kita masuk, nanti mama kamu ngomel-ngomel" ujar Devan.Dua pria beda usia itu tertawa bersamaan dan masuk kedalam rumah.
********
Mereka semua berkumpul di meja makan setelah selesai sholat maghrib berjamaah yang di imami Skala. Karna Devan yang menunjuk menantunya itu menjadi imamnya.
__ADS_1
Makanan sudah tersusun rapi, karna bahan-bahan seperti sayur, daging dan lainnya sudah habis. Skala memesan makanan online dengan jumlah banyak.Mereka duduk di bangku masing-masing .
"Silakan dimakan, maaf cuma ini yang bisa aku sediakan " ujar Skala.
"Ahh, kamu dari tadi minta maaf terus ,ini sudah sangat cukup untuk kamu " ujar Dinda pada menantunya tersebut.Skala hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya.
Suara garpu dan sedok beradu terdengar di ruangan ini. Mereka menyantap makan malam mereka dengan tenang.
"Sayang coba dulu sayur, enak " ujar Skala. Devia menerima suapan dari suaminya. Pria itu mengusap sudut bibir istrinya lembut. Dinda dan Devan saling bertatapan melihat perhatian Skala pada Devia.
"Ekhhmm" dehem Devan. Membuat Skala menoleh pada mertuanya itu. Dia langsung menjauhkan tangannya dari bibir Devia. Skala hampir lupa bahwa di sini bukan hanya ada dia dan Devia tapi ada mertuanya juga. Karna terlalu fokus menatap istrinya. Skala menggaruk tengkuknya yang tak gatal menghilangkan rasa gugup dan salah tingkahnya.
"Ya ampun, romantis banget kamu sama Devia. Jadi inget waktu mamah sama papah dulu. Papah Devia sering nyuapin mamah kalau lagi makan, jadi nostalgia lihat kalian berdua ,iyakan pah ?" ujar Dinda menyikut suaminya yang ada disebelahnya .
"Iya mah, jadi nostalgia waktu kita muda dulu. Tapi kalau sudah tua suap-suapan gak romantis tapi malah lucu hahahah.." Devan tertawa agak kencang. Skala hanya tersenyum kikuk sedangkan Devia tersenyum karna tersipu malu. Dafa lebih banyak diam tapi pria itu mendengarkan dan memperhatikan keluarganya.
Bersambung....
__ADS_1