
Dafa sibuk mengotak-atik ponselnya. Makanan yang dia pesan mulai dingin karna terlalu sibuk dengan gadgetnya. Pria itu sekarang berada di kantin kantor, dia sangat jarang makan siang di ruangannya. Nevia membawa nampan makanan ,matanya menatap sekitar mencari meja kosong tapi semua meja sudah di penuhi oleh karyawan yang lain. Sorot mata Nevia jatuh pada Dafa tengah duduk sendirian. Senyuman gadis itu mengembang, segera dia berjalan mendekati meja Dafa.
"Permisi pak, boleh saya duduk disini? " tanya Nevia dengan sopan dan suara yang di lembutkan. Nevia akan bersikap manis pada pria incarannya dan akan bersikap ketus pada pria yang tidak di sukai.
Dafa mendongak menatap Nevia sekilas dan kembali fokus pada ponselnya. Gadis itu mendengus kesal dengan sikap Dafa yang acuh padanya. Tanpa persetujuan Dafa ,dia langsung duduk di bangku dengan posisi menghadap bosnya.Dafa menatap tajam pada Nevia. Sedangkan gadis itu mengangkat satu alisnya dengan tatapan tajam yang mengarah padanya.
"Siapa yang mengizinkan kamu duduk di sini? Sana pindah " usir Dafa masih menampilkan tatapan tajam pada Nevia.Gadis tersebut merengut marah pada Dafa, biasanya pria yang dia dekati akan jatuh hati padanya bukan hanya karna kecantikan wajahnya tapi bentuk tubuhnya yang sangat sempurna dari pada wanita di luaran sana.
"Maaf pak, tapi semua meja sudah penuh . Hanya meja bapak yang kosong " ujar Nevia berusaha menampilkan senyuman terbaiknya.
Mata Dafa memperhatikan setiap meja yang memang sudah di penuhi karyawan lain.
"Boleh'kan pak? " tanya Nevia.
"Hmm" dehem Dafa menggerakkan sendok dan memasukkan makanan ke mulutnya. Nevia menopang dagunya memperhatikan setiap lekuk wajah bosnya yang menurutnya sangat tampan .
"Saya gabung di sini ya, pak " ujar Aldo yang tiba-tiba datang dan meletakkan makanannya di meja . Dafa menatap asistennya dan menganggukan kepalanya. Nevia mendelik sebal pada Aldo yang menganggu dan mengagalkan rencananya untuk pendekatan pada Dafa.
__ADS_1
"Saya duluan" ujar Dafa bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi pak, itu makanannya belum habis, kan sayang pak gak di habisin" ujar Nevia.
"Kalau saya tidak habis makannya apa urusan kamu? " ujar Dafa dengan nada ketus dan langsung pergi dari sana . Nevia langsung tertohok dengan ucapan Dafa yang membuat dirinya malu dan juga kesal. Para karyawan di sana berbisik sambil menatap kearah Nevia . Tentu dia tau mereka sedang membicarakan dirinya.
"Kamu karyawan baru? " tanya Aldo . Nevia menoleh menatap Aldo yang juga menatap dirinya.
"Iya, kenapa tanya-tanya? " ketus Nevia. Aldo tertawa pelan, gadis yang ada di depannya ini sudah mengeluarkan sifat aslinya.
"Aku tau kamu pasti mau dekatin pak, Dafa'kan ? Tapi sebaiknya jangan? " ujar Aldo.
"Pak Dafa sudah menikah dan sudah punya anak. Jangan jadi perusak rumah tangga orang lain. Kamu lebih baik cari laki-laki lain saja untuk jadi korban kamu . Atau aku adukan kamu kepada Dirga, suami kamu. Kamu pikir aku tidak tau kamu itu istri dari CEO Dirgantara" ujar Aldo.
Nampak jelas di wajah Nevia yang nampak syok. Dari mana Aldo tau dia sudah menikah dengan Dirga? Wajah Nevia memucat seperti mayat hidup dengan keringat dingin mengucur membasahi wajahnya.
"K-kamu jangan adukan pada Dirga. Aku tidak bermaksud untuk merusak rumah tangga pak Dafa, aku pikir dia belum menikah. Jangan adukan pada Dirga ya " ujar Nevia dengan wajah memohon.
__ADS_1
"Iya, tapi kamu kenapa mencari laki-laki lain sedangkan kamu sudah menikah? " tanya Aldo penasaran.
"Aku tidak menyukainya, dia terlalu baik dan selalu memaafkan aku saat berbuat salah. Aku ingin mencari suaminya yang bisa di ajak berdebat " ujar Nevia yang langsung pergi meninggalkan Aldo setelah berucap seperti itu .Aldo tertawa dengan alasan Nevia.
Di mana-mana wanita mencari suami yang baik dan sabar sedangkan gadis itu mencari suami yang bisa di ajak berdebat. Itulah wanita sulit di pahami dan di mengerti.Tapi saat di sakiti hatinya oleh salah satu laki-laki ,wanita pasti menyalahkan semua laki-laki dengan mengatakan "semua laki-laki sama saja "seakan sifat mereka sama brengseknya dengan laki-laki yang menyakitinya, walau tidak semua wanita seperti itu . Itu uniknya wanita.
*******
Fira menghembuskan napas kecewa menatap alat tes kehamilan yang menampilkan garis satu bukan dua. Dia fikir, dia hamil karna merasakan mual dan pusing seminggu ini.
" Mungkin belum saatnya aku hamil "gumam Fira membuang alat tes kehamilan ke bak sampah . Wanita itu keluar dari kamar mandi dan membuka lemari menyiapkan baju santai untuk suaminya.Sebentar lagi suaminya akan pulang, dan biasanya akan langsung mandi..
Tes kehamilan yang di buang Fira ke bak sampah perlahan menampilkan garis dua.
Fira membuka pintu dan tersenyum lebar menatap suaminya yang baru pulang . Dia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya . Dafa mencium kening Fira lembut dan tersenyum pada istrinya.
" Kamu mau aku buatin teh atau kopi, mas? "tanya Fira meraih tas kerja Dafa.
__ADS_1
" Tidak usah, pasti kamu capek seharian bersihin rumah dan jagain Elang. Aku mau langsung mandi dan istirahat "ujar Dafa mengusap kepala istrinya pelan dan berjalan menaiki anak tangan.
Bersambung...