Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Kedatangan mertua


__ADS_3

Devia duduk bersandar di sofa, matanya fokus menatap film di televisi. Skala keluar dari dapur membawa piring yang berisi potongan apel yang sudah dia kupas untuk istrinya.


"Sayang ,makan buah dulu" ujar Skala duduk di sebelah Devia dan menyuapi apel pada istrinya . Devia menerima potongan apel dari Skala dan memakannya. Matanya masih fokus menatap film kesukaannya. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat Devia lebih fokus pada film yang dia tonton.Skala mengambil remot televisi dan mematikannya.


"Kenapa dimatiin " ujar Devia dengan apel yang masih belum selesai dia kunyah di mulutnya.


"Kamu lama ngunyahnya kalau nonton film " ujar Skala kembali menyuapi potongan apel pada Devia.


"Tapi setelah habis apelnya, mau nonton film lagi " ujar Devia dengan mengerucut bibirnya.


"Iya sayang ,habisin dulu apelnya baru nonton lagi " ujar Skala mencubit pipi istrinya pelan.


Suara bel rumah membuat pasangan suami istri itu menatap kearah pintu. Skala meletakkan piring di meja dan berjalan ke pintu keluar. Dia membuka pintu rumahnya, mertua dan adik iparnya berdiri didepan pintu.


"Mah, pah " ujar Skala mencium tangan mertuanya tersebut. Dan kemudian Dafa mencium tangan Skala .


"Apa kabar kamu, Skala? " tanya Devan.


"Alhamdulillah, baik pah " jawab Skala dengan tersenyum ramah pada mertuanya tersebut.


"Silakan masuk mah, pah, Dafa" ujar Skala memberikan jalan untuk ketiganya masuk kedalam.Dinda langsung mendekati putrinya yang tengah memakan apel.


"Devia " panggil Dinda. Gadis itu menatap orang yang memanggilnya, matanya berbinar melihat mama, papa dan abangnya datang kesini.


"Mama! " ujar Devia hendak berdiri mendekati mama-nya tapi lebih dulu Dinda mendekati Putrinya dan menyuruh Devia untuk duduk lagi. Dia tau pasti kaki Devia sakit saat berdiri karna melihat kaki putrinya yang membengkak.


"Sayang, mama kangen kamu, nak " ujar Dinda memeluk Devia erat. Dia mengusap surai rambut putrinya lembut. Dinda melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajahnya Devia yang terlihat chubby.


"Aduh kamu makin gendut nak, tambah gemesin " ujar Dinda mencium pipi Devia bergantian dengan gemas.Devan duduk disebelah Devia, memperhatikan istrinya yang begitu merindukan putrinya.


"Papah, gak dipeluk nih " ujar Devan. Devia menatap papahnya yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


"Kangen papah " ujar Devia memeluk Devan erat. Pria paruh baya itu mengusap punggung putrinya lembut.


"Kamu makin cantik nak, terus gemesin gak kaya dulu kurus " ujar Devan melepaskan pelukannya.


"Devia, kan hamil pastilah tubuhnya berisi " ujar Devia. Devan hanya tersenyum dan mengusap kepala putrinya dengan sayang.


"Sudah berapa bulan, kandungan kamu nak? " tanya Dinda mengelus perut buncit Devia.


"Sudah lima bulan, mah " jawab Devia.


"Wah, sebentar lagi kamu bakal lahirin cucu buat papah sama mamah " ujar Devan sambil terkekeh. Devia hanya tersenyum menanggapi ucapan papahnya.


"Sama abang gak kangen " ujar Dafa berdiri di sebelah Dinda yang duduk di dekat Devia.


"Aku lupa kalau ada abang, sini Devia peluk dulu " ujar Devia memeluk Dafa yang mendekat padanya. Dinda menggeser tubuhnya agar Dafa bisa duduk di sebelah Devia. Dafa mencium pipi kembarannya dengan gemas.


"Abang kangen kamu dek, dirumah sepi gak ada kamu " ujar Dafa mengusap pipi adiknya lembut. Mata Devia berkaca-kaca mendengar itu, dia juga rindu berkumpul dengan keluarganya tapi dia sudah menikah dan harus ikut dengan suaminya.


"Dafa ,kamu ini buat adik kamu nangis "ujar Devan mengusap air mata yang menetes dari pipi putrinya.


"Kami juga kangen kamu nak, tapi kamu sekarang sudah jadi tanggung jawab Skala untuk menjaga dan membimbing kamu. Tapi kamu bahagiakan menikah dengan Skala? " tanya Devan .


"Devia bahagia menikah dengan mas Skala, dia baik, penyayang dan lembut sama Devia. Dia juga gak marah kalau Devia buat salah tapi dia tegas kalau nasehati Devia" jelas Devia. Dinda tersenyum mendengar penuturan Devia, dia bahagia mendengar itu semua,ternyata suaminya tidak salah menjodohkan Devia dengan Skala .


Skala keluar dari dapur, pria itu membawa nampan berisi minuman dan kue . Dia meletakkan dimeja tempat mertua dan istrinya berkumpul.


"Mah, pah, Dafa. Diminum dulu tehnya maaf aku cuma bisa nyediain ini aja " ujar Skala sopan.


"Ya ampun gak usah repot-repot Skala. Mama bisa buat sendiri" ujar Dinda dan diangguki oleh Devan.


"Tidak pa-pa ,mah. Aku gak enak bila tidak menyuguhkan minuman dan kue untuk kalian.Maaf mah, pah bila aku menyuruh kalian datang kesini ,mungkin terlihat tidak sopan seorang menantu menyuruh mertuanya datangnya kesini . Tapi karna keadaan Devia yang tidak memungkinkan ,membuat aku khawatir bila membawa dia keluar rumah apalagi dia harus banyak istirahat. " Jelas Skala.

__ADS_1


Devan bangkit dari tempat duduknya dan mengusap bahu menantunya itu.


"Papah, malah bangga sama kamu karna begitu menjaga Devia.Tidak salah papah menikahkan Devia dengan kamu. Maaf bila sikap Devia masih kekanak-kanakan,susah diatur, dan bandel " ujar Devan.


"Papah , apaan sih aku gak kaya gitu " sahut Devia memajukan bibirnya. Dafa mencubit bibir adiknya membuat gadis itu memekik kesal pada abangnya.


"Abang jail, ihh" ujar Devia memukul Dafa kencang di pahanya, membuat kembarannya itu meringis kesakitan.


"Sakit dek, ternyata kamu masih ganas kaya dulu, aku kira kalau sudah nikah berubah sikap kamu " ujar Dafa.


"Mah, lihat abang Dafa ngatain aku " adu Devia.


"Devia sudah nak, gak malu di lihat Skala " tegur Dinda . Devia menatap suaminya yang begitu intens menatap dirinya. Gadis itu memalingkan wajahnya karna malu dengan Skala.


"Tuh kamu lihatkan, Devia kalau sudah sama abangnya berantem terus. Tapi setelah tidak ada Devia rumah jadi sepi" ujar Devan. Skala tersenyum kikuk mendengarnya ucapan mertuanya.


"Maaf papah, bila aku sudah membuat kalian tidak bisa bertemu dengan Devia karna kesibukan aku yang tidak bisa membawa dia berlibur kerumah papah . Dan maaf bila aku menbuat kalian merasa jauh dari Devia, aku tidak bermaksud membatasi Devia bertemu kalian" ujar Skala menundukkan kepalanya.


"Sudah Skala tidak usah memikirkan itu.Yang penting Devia baik-baik saja bila bersama kamu, kami sudah senang. Kalau kamu sibuk dengan pekerjaan kamu , biar kami yang datang kesini menemui Devia" ujar Devan menepuk bahu menantunya lembut.


"Sekali lagi maaf pah, mah " ujar Skala merasa bersalah.


"Sudah jangan di bahas lagi, Skala " ujar Devan.


"Skala bagaimana kabar Ayah dan bunda kamu? " tanya Devan.


"Ayah sama bunda ada di London. Karna ada masalah di perusahaan cabang di negara tersebut terpaksa orang tua aku kesana . Awalnya ayah menyuruh aku yang kesana untuk menyelesaikan masalah di perusahaan tersebut . Tapi karna Devia juga sedang hamil aku tidak mungkin meniggalkannya , jadi aku menolaknya " ujar Skala.


"Sebenarnya kamu bisa mengantar Devia kerumah kamu atau kamu yang tidak bisa jauh-jauh dari Devia" goda devan pada Skala. Pria itu tersipu malu karna sebagian besar alasannya tidak bisa meninggalkan Devia karna tidak bisa jauh dan tidak bisa tidur bila tidak memeluk gadis tersebut.


Dinda tertawa mendengarnya, Skala lebih parah dari Devan. Suaminya tidak sampai seperti itu, tidak memeluk dirinya pun Devan sudah tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Mana Devia? " tanya Devan tidak melihat putrinya.


"Ke taman belakang sama Dafa, gak tau lagi ngapain" ujar Dinda.


__ADS_2