
Devia mencium putra pertamanya yang tengah meminum ASI . Skala memperhatikan istrinya yang terus menciumi anak mereka berdua.
"Lucu ya mas. Jadi pengen gendong terus. Mata, dan hidungnya mirip sama kamu sedangkan alis, bibir dan matanya mirip sama aku "ujar Devia yang terus menatap putra pertamanya
" Iya, sayang, apalagi kalau dia perempuan pasti cantik kaya kamu. Mau tambah anak lagi gak? "tawar Skala dan langsung mendapat tatapan tajam dari Devia.
" Kamu enak ngomong kaya gitu sedangkan aku setengah mati lahirin anak kamu . Mau tambah anak lagi "gerutu Devia.
" Kalau Allah ngasih anak lagi untuk kita, ya jangan di tolak "ujar Skala mengusap pipi chubby putranya yang terus meminum ASI.
" Tapi aku sudah gak mau lagi, sakit tau gak melahirkan itu "rengek Devia seperti anak kecil dan mengerucut bibirnya. Skala malah tertawa melihat Devia seperti itu, dia jadi dibuat gemas oleh tingkah istrinya.
" Kenapa bibir di majuin? Mau di cium hmm? "goda Skala.
" Aahh. Mas jangan bercanda aku serius. Aku gak mau hamil lagi sudah kapok. Mas lupa apa kata pemerintah "ujar Devia. Skala mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Devia , tapi dia yakin ucapan Devia pasti ngelantur.
" Apa? "tanya Skala.
" Kata pemerintah dua anak sudah lebih dari cukup. Karna aku rakyat yang mematuhi peraturan dan juga mendukung program tersebut, jadi jangan tambah anak lagi, ya "ujar Devia.
" Sedangkan Rasulullah bersabda:Nikahilah perempuan pencinta (yakni istri yang mencintai suaminya) dan yang dapat memiliki banyak anak , karna sesungguhnya aku(Rasulullah) akan berbangga sebab (banyak) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu ) . [Shahih riwayat Abu Dawud, Nasa,i' Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma'qil bin Yasar ].Itu lah hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah yang menyuruh atau memerintah untuk memiliki banyak keturunan tapi balik lagi Rasulullah juga tidak memaksakan umatnya untuk memiliki banyak anak tapi Rasulullah akan bangga ketika umatnya memiliki banyak keturunan, seperti itu sayang "jelas Skala mencubit hidung mancung Devia gemas, bagaimana tidak, istrinya seperti anak kecil yang mendengarkan penjelasan gurunya.
" Tapi mas, pemerintah menyuruh untuk memiliki dua anak saja pada rakyat "ujar Devia. Skala tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.
" Jadi awal mula kenapa pemerintah menyuruh seluruh rakyat melakukan program dua anak sudah dari cukup ,itu karna saat pemerintahan soeharto keadaan negara saat itu sedang krisis ekonomi jadi beliau mencetuskan program dua anak lebih dari cukup,itu agar perekonomian tidak semakin memburuk dan juga alasannya agar tidak membuat penyempitan lahan . Kurang lebih dan setahu aku seperti itu. Tapi kita juga harus ingat rezeki, jodoh dan maut juga sudah Allah yang menentukan dan seharusnya kita yakin dengan ketetapan Allah. Bahwa rezeki kita sudah Allah yang mengatur jangan pernah berpikir kalau punya banyak anak, rezeki jadi seret, itu pemikiran yang salah. Tapi aku juga tidak akan memaksakan kamu untuk memiliki banyak anak, karna seorang suami juga tidak boleh memberatkan istrinya. Membuat istri menjadi susah karna permintaan dan kemauan suami "jelas Skala dengan penyampaian yang begitu lembut pada istrinya.
" Kamu pintar banget sih? Jadi makin cinta "ujar Devia tersenyum malu-malu pada suaminya.
" Aku dosen tentulah pintar "ujar Skala tertawa bersamaan dengan Devia. Mereka hanya berdua di ruangan ini dan juga dengan si kembar. Karna keluarga mereka sedang berada di kantin rumah sakit mengisi perut.
" Mas abang Dafa mana ya? Kok lama banget beliin air mineral sama roti "ujar Devia.
" Tunggu sebentar mungkin dia lagi makan "ujar Skala mengusap surai rambut panjang Devia.
**********
Dafa tertawa dan terus mencubit pipi El karna gemas, bukannya menangis bayi itu juga ikut tertawa . Azka juga ikut mencubit pipi El dengan gemas tapi bayi itu malah menangis merasakan sakit di pipinya bekas cubitan Azka yang begitu kuat.
"Kamu jangan terlalu kencang cubit pipinya, iyakan ,nak " ujar Dafa mengusap kepala El lembut.
"Aku pelan cubit pipinya, cuma nih bayi mandang fisik. Mentang-mentang kamu lebih ganteng dari aku, dia lebih suka sama kamu " celetuk Azka.
"Kamu jangan ngelantur kalau bicara. Dia bukan milih-milih tapi memang kamu terlalu kuat cubit pipinya" ujar Dafa. Pria itu benar-benar gemas di buatnya.Dia terus mengusap kepala El dengan sayang.
"Azka, ibu dari anak ini mana? " tanya Dafa.
"Lagi ke toilet, dia nitipin anaknya ke aku " jawab Azka. Dafa hanya ber"oh"saja sebagai jawaban. Pria itu merasa penasaran dengan ibu si bayi , kenapa bayi ini wajahnya begitu mirip dengan dirinya.
"Dafa, wajah kamu mirip sama bayi ini ya . sepertinya kamu ayah dari bayi ini , kali aja itu beneran anak kamu hahaha.... " ujar Azka dengan nada bercanda. Dafa hanya tersenyum kikuk mendengar candaan Azka, dia jadi teringat saat Fira mengatakan tengah mengandung anaknya. Apa gadis itu sudah melahirkan atau menggugurkan janin yang dia kandungnya? Kalau bayi itu masih hidup dan tidak di gugurkan Fira pasti sudah seumuran bayi yang dia gendong ini, pikir Dafa. Pria itu menggelengkan kepalanya kenapa dia malah memikirkan Fira, gadis itu sudah menjadi masa lalunya kenapa harus di ingat lagi?
__ADS_1
"Azka, aku harus mengantarkan makanan ke ruang rawat Devia . Ini aku kembalikan bayinya ke kamu " ujar Dafa. El lebih dulu mencengkram kerah baju pria tersebut, seakan tau akan di tinggal.
Ueeeeeeeekkkk
Tangis El kembali pecah saat akan di berikan pada Azka. Dia mencengkram baju Dafa begitu kuat dengan wajah yang memerah. El menengok kearah Azka dan dengan sengajanya pria itu memelototi bayi tersebut, membuat El semakin takut pada Azka.
"Kamu jangan kaya gitu, dia jadi takut " tegur Dafa.
"Cuma bercanda, lho " ujar Azka sambil cengengesan.
"Lihat sekarang , dia tidak mau di gendong sama kamu. Aku harus mengantarkan makanan ini ke Devia, sedangkan bayi ini tidak mau lepas dari aku " ujar Dafa yang kesal dengan kelakuan Azka.
"Sini biar aku yang mengantar makanannya ke Devia . Kamu jaga bayinya jangan di bawa kabur. Nanti emaknya datang ke sini, kamu tinggal tunggu aja mungkin sebentar lagi datang " ujar Azka. Dafa memberikan plastik hitam pada pria tersebut, sebelum memberikan pada Azka dia mengambil roti dan air mineral dalam kantongan plastik tersebut baru memberikannya pada Azka .
Dafa duduk di kursi tunggu, dia membuka segel air mineral dan meminumkannya dengan pelan-pelan pada El yang terlihat ke hausan.
"Haus ya , kamu mau roti, nak " tawar Dafa .
"Yayayayaaya" El hanya menggerakan tangannya meraih roti di tangan Dafa. Pria itu tersenyum dengan respon El yang begitu paham apa yang dia bicarakan. Dafa membuka bungkus roti dan menyuapi sedikit roti pada mulut mungil El. Dia tidak tau apakah bayi umur enam bulan boleh makan-makanan padat seperti ini , tapi dia tidak melihat bayi ini kelaparan.
Fira berjalan mendekati pria yang tengah duduk membelakanginya. Dia mengkerutkan dahinya , melihat prawakan tubuh pria yang menjaga anaknya lebih besar dari sebelumnya, dia merasa tidak asing dengan prawakan tubuh pria tersebut . Warna bajunya juga berbeda dari sebelumnya ,seingat dia pria yang menjaga El bajunya berwarna merah muda sedangkan baju yang di pakai pria yang tengah duduk itu agar berbeda yaitu berwarna hitam.
Fira langsung mendekati pria tersebut dan tubuh gadis itu langsung menegang.
"D-dafa" ujar Fira. Dafa mendongakkan kepalanya menatap gadis yang memanggilnya,dia langsung terdiam dengan jantung yang berdegub kencang, darahnya seakan berdesir melihat cinta masa lalunya.Fira langsung merebut El dari Dafa membuat bayi itu menangis seakan tak rela pisah dari Dafa.
"A-anak, jadi ini anak kamu? " tanya Dafa dengan suara yang terbata-bata.
"Kenapa? Ini anak yang aku kandung dulu ,tapi sayang ayah kandungnya tidak mau mengakuinya ! " ujar Fira dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Ingatan saat Dafa tidak mau bertanggungjawab dan tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri berputar dalam kepala Fira.Dafa masih diam membisu menatap Fira dan beralih melihat pada El yang terus menangis menatap dirinya yang minta di gendong olehnya.
Fira mengusap air matanya kasar, dia harus kuat, dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Dafa. Cukup sudah pria ini merendahkannya dan masih jelas di ingatannya Dafa menyuruh untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya.
"KENAPA DIAM HAH!!! APA KAMU SEKARANG BARU SADAR EL ANAK KANDUNG KAMU, IYA? !! " teriak Fira dengan air mata yang mengucur deras.
"SEKARANG LIHAT BEGITU ADILNYA TUHAN MEMBUAT EL MEMILIKI WAJAH YANG MIRIP DENGAN MU !AGAR KAMU TAU KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA BAHWA BAYI INI DARAH DAGING KAMU. KAMU ADALAH PRIA PENGECUT DAN MUDAH TERPROVOKASI DENGAN FOTO YANG DI KIRIM OLEH ORANG YANG TIDAK KAMU KENAL TANPA MENCARI INFORMASI DENGAN KEBENARAN FOTO ITU!!! SEHARUSNYA KAMU CEK CCTV YANG ADA DI RUANGAN KAMU ITU DAN KAMU AKAN MELIHAT KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA!!" teriak Fira dengan napas yang terengah-engah. Dia langsung pergi dari hadapan Dafa yang diam membeku . Gadis itu pergi menjauh dari lelaki yang begitu tidak mempercayainya. El menangis dengan kencang ketika Fira membawa pergi menjauh dari Dafa, ayah kandungnya. Bahkan tangisan El begitu menyayat hati Dafa, rasa tidak rela Fira merebut El darinya. Seakan dia dan bayi itu memiliki ikatan batin yang kuat, yang tidak bisa di pisahkan.
Fira hanya bisa menangis di sepanjang koridor rumah sakit yang sepi . Tubuhnya meluruh ke lantai ,dia tidak peduli lagi dengan tangisan El yang dalam gendongannya. Saat ini hatinya benar-benar sakit dan hancur, luka lama yang sudah dia tutup rapat-rapat kini kembali menganga lagi. Fira mencium pucuk kepala El dengan air mata yang jatuh di pipi bayi itu , dia harus pergi dari kota ini. Dia tidak mau Dafa mengambil El darinya, bila pria itu sudah tau kebenarannya yang sesungguhnya, bahwa El benar-benar anak kandungnya, pikir Fira.
*******
Tubuh Dafa meluruh ke lantai dengan tatapan mata kosong.
"Apa bayi itu benar anak ku?" lirih Dafa dengan tatapan mata kosong. Dia masih belum percaya bahwa El putranya,bisa saja,kan hanya kebetulan anak Fira mirip dengannya. Dafa merogoh ponsel di saku celananya , dia menghubungi asistennya untuk mencek CCTV sekitar satu tahun lebih itu, untuk memastikan kebenaran yang di katakan Fira.
"Hallo Aldo, tolong cek CCTV yang sekitar satu tahun dua bulan yang lalu dan kirim ke ponsel saya " ujar Dafa memerintahkan asistennya untuk mencek CCTV ,dia langsung mematikan sambungan ponselnya dan menunggu kiriman dari Aldo.
**********
Fira berjalan menyusuri jalan yang sepi dengan El yang sudah tertidur dalam gendongannya. Awan mendung menutupi cahaya bulan yang saat itu sedang terang dan sekarang menjadi gelap karna tertutup awan hitam. Rintik-rintik hujan mulai turun, Fira mendongakkan kepalanya keatas langit merasakan rintikan hujan tersebut jatuh membasahi permukaan kulit wajahnya bersamaan dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya.
__ADS_1
Fira langsung mencari tempat berteduh ketika hujan semakin deras . Aroma tanah basah tercium di indra penciuman Fira. Gadis itu berteduh di sebuah halte, dia memilih untuk pulang, tidak jadi memeriksakan keadaan putranya. Hatinya benar-benar hancur dan remuk saat ini, setelah bertemu kembali dengan pria masa lalunya yang dia cintai dan juga orang yang begitu menyakiti hatinya dan membuat dia menderita. Keluarga , teman dan orang-orang terdekatnya menjauhi dirinya.
Fira memeluk erat tubuh Elang . Hanya Elang yang menjadi penyemangatnya untuk menjalani hidup ini. Dia memutuskan untuk pergi menjauh dari Dafa. Mungkin keputusannya memang salah memisahkan Elang dari ayah kandungnya. Tapi saat putranya beranjak dewasa nanti ,mungkin dia akan membenci ayah kandungnya sendiri. Bila mengetahui kebenarannya bahwa ayah kandungnya sendiri ingin membunuhnya , tidak menerima kehadirannya.
Flashback
Fira menangis dengan memeluk kaki Dafa, dia tidak peduli dengan karyawan yang menatap kearah dirinya . Dia hanya ingin Dafa bertanggungjawab dengan kehamilannya. Demi anak yang dia kandung, dia rela merendahkan dirinya persetan dengan rasa malunya dan cibiran karyawan Dafa , yang terpenting anaknya memiliki sosok seorang ayah. Dia tidak bisa membayangkan bila anaknya dihina, di maki dan dicibir orang-orang karna tidak memiliki seorang ayah, pasti orang-orang akan berpikiran anaknya hasil hubungan gelap.
Dafa melemparkan botol kecil berisi obat pil penggugur kandungan pada wajah Fira membuat gadis itu meringis kesakitan merasakan sakit di keningnya. Dafa berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada telinga Fira.
"Gugurkan janin itu, baru aku akan memaafkan kamu dan akan segera menikahi kamu . Aku tidak mau memiliki anak dari pria lain " bisik Dafa pada telinga Fira.
Plakk
Fira menampar dengan kencang pipi kiri Dafa membuat wajah pria itu terhempas ke samping. Mata gadis itu memerah dengan rahang yang mengeras, dia benar-benar emosi dan juga marah yang kini bercampur jadi satu. Jelas-jelas yang dia kandung anak pria tersebut, dan darah daging Dafa. Pria itu hanya terdiam merasakan perih dan kebas di pipi kirinya akibat tamparan Fira . Netranya menatap manik mata Fira yang begitu terluka dengan ucapannya. Andai gadis ini tau, dia juga terluka dan hati seperti di tusuk oleh pisau dengan pengkhianatan Fira padanya.
"Aku akan memberikan mu dua pilihan. Gugurkan janin itu dan kita akan kembali seperti dulu . Bila kamu tidak mau menggugurkan janin itu, jangan pernah muncul lagi di kehidupan ku. Aku beri waktu kamu dua hari untuk mengambil keputusan itu. Fira aku sangat mencintai kamu, dan aku memang gila tetap mau menerima kamu asalkan kamu menggugurkan janin dari pria itu " bisik Dafa dan setelah itu dia bangkit, dan meninggalkan Fira .
Gadis itu hanya menampilkan tatapan mata yang terlihat kosong. Kristal bening jatuh dengan bebas membasahi permukaan kulit wajah Fira. Dia menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak-isak, dadanya terasa sesak. Begitu teganya Dafa menyuruhnya untuk menggugurkan janin yang dia kandung dan jelas-jelas itu darah dagingnya sendiri.
Fira tersentak merasakan pelukan dan usapan lembut pada punggungnya. Meisya memeluk gadis tersebut, setidaknya dengan pelukan ini , Fira bisa kuat dan sabar dengan ujian ini. Dia yakin gadis ini benar-benar mengandung anak dari bosnya.
"Sudah mbak jangan menangis lagi, jangan sedih ataupun stres,itu akan berdampak pada kandungan mbak Fira. Aku percaya yang mbak kandung adalah anak pak Dafa. Mbak Fira harus kuat dan sabar ini merupakan ujian untuk mbak. Suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, bahwa anak itu memang anak pak Dafa . Sekarang bangun mbak jangan merendahkan diri mbak, hanya agar pak Dafa percaya " ujar Meisya membantu Fira bangkit dari lantai. Fira langsung memeluk Meisya dengan erat, dia benar-benar butuh seseorang yang bisa mengerti dan percaya padanya.
Sedangkan seorang gadis dengan hijab berwarna hitam dengan pakaian serba hitam tersenyum melihat kehancuran Fira.
*******
Fira tersadar dari lamunannya ketika seseorang menyodorkan jaket padanya . Dia mendongak menatap dokter Irfan yang berdiri di hadapannya.
"Kamu tengah malam begini kenapa ada disini? Dari tadi anak kamu menangis terus tapi saya lihat kamu melamun sampai tidak mendengar tangisan anak kamu . Pakai jaketnya, sini biar saya yang menggendong anak kamu " ujar Irfan yang begitu dingin pada Fira.
Gadis tersebut memberikan El pada Irfan. Pria itu menggendong El dan mengambil sesuatu dari dalam tas hitamnya.
"Kenapa lihatin saya, pakai jaketnya" ujar Irfan menggeleng kepalanya melihat Fira yang hanya memperhatikannya.
Ueeeeekkkk
"Ooh sayang, kenapa hmm? Kedinginan ya " ujar Irfan yang begitu lembut pada El beda saat berbicara dengan Fira yang begitu dingin. Irfan memasang jaket milik anaknya pada El yang sangat pas pada tubuh bayi itu dan memberikan dodot pada El.
"Kenapa berkeliaran malam-malam begini kalau kenapa-napa bagaimana? Apa lagi kamu membawa anak kecil " omel Irfan pada Fira sedangkan mereka tidak saling kenal. Fira hanya tau Irfan yang dulu mengazani putranya.
"Tadi anak saya demam tinggi, saya mau membawa kerumah sakit tapi dokter Reni tengah penangani pasien lain " jawab Fira.
"Ooh, tadi saya juga di beritahu suster ada pasien yang ingin memeriksakan anaknya tapi saya bilang mau sholat isya dulu. Tapi saat saya keluar ruangan tidak ada pasien yang di sebutkan suster tersebut.Apa pasien itu kamu? " tanya Irfan.
"I-iya " jawab Fira.
"Kenapa ngilang ? Dan tiba-tiba sudah ada di halte . Untung saya lewat sini coba gak. Saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan kamu dan anak kamu " ujar Irfan sambil menepuk pantat El pelan yang berada dalam gendongannya.
__ADS_1