Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Pura-pura amnesia


__ADS_3

Skala masuk ke dalam ruangan tempat Devia di rawat. Pria itu berjalan ke arah brankar istrinya, dia mengusap kepalanya istrinya lembut.Devia yang tertidur perlahan membuka matanya dan langsung menatap Skala yang berada tepat di depan wajahnya.


"Sayang, akhirnya kamu sadar " ujar Skala mencium kening istrinya lembut. Devia mengerjapkan matanya menatap Skala yang terlihat khawatir.


"Kamu siapa? " tanya Devia dengan wajah bingung.Skala mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Devia.


"Aku Skala suami kamu " jawab Skala .


"Aku gak punya suami , aku belum menikah mana mungkin punya suami, om jangan nipu aku ya " ujar Devia.


"O-om kamu panggil aku om" ujar Skala yang nampak kaget.


Azka yang baru datang mendekati brankar dan dia melihat wajah abangnya yang nampak panik.


"Bang kenapa wajah kamu panik kaya gitu? Devia kenapa? " tanya Azka yang ikutan panik.


"Devia hilang ingatan" jawab Skala. Azka menatap Devia yang juga menatap dirinya dia merasa miris mendengar kakak iparnya hilang ingatan.


"Kamu ingat aku gak, aku Azka adik ipar kakak? " tanya Azka.


"Aku gak mungkin punya adik ipar jelek kaya kamu dan aku tidak kenal sama kamu " ketus Devia. Azka kaget mendengar respon Devia ternyata tidak ada bedanya gadis ini hilang ingatan atau tidak tetap ketus bila berbicara dengannya.

__ADS_1


"Azka jaga Devia dan jangan terledor lagi. Abang mau temui dokter yang menangani Devia tadi " ujar Skala yang pergi dari ruangan tersebut. Devia yang mendengar itu langsung membulat matanya dia takut Skala tau kebohongannya. Azka menyipitkan matanya melihat wajah Devia seperti maling ayam yang ketangkap basah.


"Pura-pura amnesia ya " celetuk Azka sambil tertawa mengejek. Devia langsung melototkan matanya pada Azka.


"Diam, awas kamu bilang mas Skala ,aku pura-pura amnesia " ancam Devia.


"Gak ah, mau aku bilangin ke abang Skala biar kamu di marahin " ujar Azka berjalan ke pintu keluar.


"Azka jangan!!! Jangan bilangin mas Skala!! " teriak Devia. Namun belum Azka membuka pintu ,Skala sudah masuk kedalam ruangan tersebut.


"Abang ,si kak Devia pura-pura amnesia supaya gak di marahin abang Skala! " ujar Azka dengan heboh.Skala menatap Devia yang memalingkan wajah dari dirinya . Sebenarnya dia sudah tau ketika bertanya dengan dokter yang menangani istrinya, gadis kecilnya ini ingin bermain-main dengannya .


"Azka kamu keluar, abang ingin bicara dengan Devia berdua " ujar Skala.


Azka keluar dari ruangan tersebut ,kini hanya ada Skala dan Devia. Pria itu mendekati istrinya dia menatap Devia yang masih tidak mau menatap wajahnya.


"Kenapa harus pura-pura amnesia? " tanya Skala. Perlahan Devia menatap wajah Skala yang tidak terlihat marah.


"Takut kamu nanti marahin aku karna keluar apartemen tanpa ijin " cicit Devia .


"Perbuatan kamu salah tidak? Keluar dari rumah tanpa izin aku? " tanya Skala tegas.

__ADS_1


"Salah , tapi aku minta maaf karna gak nurut sama kamu tapi sekarang aku udah jera gak ngulangin lagi " jawab Devia.


"Janji gak ngulangin lagi? "tanya Skala .


" Janji gak ngulangin lagi, nanti kalau mau keluar apartemen pasti izin sama kamu "ujar Devia.Skala mengusap rambut Devia lembut dan membelai pipi istrinya lembut.


" Kamu gak marah sama aku? "tanya Devia.


" Kamu tadi pura-pura amnesia supaya apa? "tanya balik Skala.


" Supaya gak di marahin kamu "jawab Devia.


" Walau kamu tidak pura-pura amnesia pun aku tidak akan marah sama kamu. Karna wanita itu akan menerima nasehat bila di sampaikan dengan lembut dan sebaliknya wanita akan memberontak bila di nasehati dengan cara membentak atau main fisik.Makanya aku menasehati kamu tegas namun tetap lembut, karena istriku ini nanti nangis kalau di marahin "ujar Skala mencubit pipi Devia.


" Tapi beruntung kamu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu selamat. Mungkin ini teguran buat kamu supaya jangan membantah apa yang di larang suami. Aku melarang kamu keluar dari apartemen bukan mengekang atau membatasi kebebasan kamu. Tapi kamu dilihat-lihat orangnya ceroboh jadi kalau mau keluar dari apartemen tunggu aku pulang dari kantor "ujar Skala.Devia hanya diam mendengarkan penjelasan dari suaminya, dia merasa sedang mendengarkan ceramah .


Bersambung....


***Susah buat Skala marah sama Devia author juga bingung. Mungkin karna sifat Skala yang tegas, dewasa dan lembut.


Tapi mungkin ada beberapa pembaca yang bosan dengan cerita ini karna cerita nya yang datar tidak ada konflik beratnya. Author sengaja buat cerita ini ringan dan tidak ada pelakor ataupun pembinor agar beda dari cerita yang lain.Kalaupun pinta konflik berat harus ada pelakornya.

__ADS_1


Terima kasih 🙏udah dukung cerita author yang masih acak-acakan ceritanya😅***


__ADS_2