
Devia duduk di tepi ranjang menunggu Skala yang masih mandi di kamar mandi. Gadis itu mengelus-ngelus perut buncitnya, tak terasa dia akan menjadi seorang ibu dan melahirkan anaknya.
Ceklek
Skala membuka pintu kamar mandi , dia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Devia menatap Skala dan memalingkan wajahnya, walau sudah sering melihat suaminya bertelanjang dada ,dia tetap malu untuk melihatnya .
"Mas, aku tunggu di luar ya " ujar Devia.
"Iya" sahut Skala yang membuka lemari mencari baju kemeja dan celananya. Devia keluar dari kamar, gadis tersebut menuruni anak tangga dan berjalan ke pintu keluar. Matanya memperhatikan gerombolan ibu-ibu komplek yang ada di depan luar pagar rumahnya sedang membeli sayur, tapi matanya fokus pada pria yang ikut dalam perkumpulan ibu-ibu tersebut.
"Itu bukannya Azka, kenapa ngumpul di situ " gumam Devia. Dia keluar dari pagar memastikan bahwa itu Azka, adik iparnya.
"Beneran Azka, kalau tetangga sebelah kemaren bertengkar" tanya salah satu ibu -ibu tersebut.
"Beneran, aku gak bohong tadi aku nggak sengaja lewat tadi malam beli bakso " ujar Azka.
"Nggak nyangka ya, rumah tangganya kelihatan harmonis tapi ternyata cuma nutupi keretakan rumah tangganya " ujar Ami.
"Pasti suaminya, selingkuh tuh makanya bertengkar" timpal Dea.
"Azka " panggil Devia. Azka yang di panggil nama menengok kebelakang termasuk ibu-ibu yang bergosip tadi.
"Eh, kakak ipar mau beli sayur " ujar Azka ramah. Devia merasa aneh dengan adik iparnya ini, biasanya suka mencari gara-gara padanya sekarang bersikap ramah .
"Nggak, kamu ngapain ngumpul disini ? Beli sayur ? " tanya Devia.
"Nggak kak, kami lagi gosipin tetangga sebelah rumah aku. Tadi aku lihat mereka berantem, pasti suaminya selingkuh makanya berantem" ujar Azka mengajak Devia untuk bergosip.
"Astagfirullah ,kamu nggak boleh suudzon sama orang, belum tentu apa yang kamu lihat dan kamu tuduhkan itu benar " ujar Devia sok alim , dan di angguki beberapa ibu-ibu yang lain.
"Tapi mbak kalau gosip tanpa suuzhon nggak seru, karna dengan suuzhonlah gosip semakin hangat dan menarik " ujar Mia.
"Betul kata mbak Mia ,suuzhon itu ibarat garam dalam masakan tanpa garam masakan tidak akan enak sama juga suuzhon. Kalau nggak suuzhon pergosipan nggak akan seru " timpal Dea.Devia menggelengkan kepalanya, kenapa dia bisa satu komplek dengan ibu-ibu yang suka bergosip dan dia yakin Azka jadi suka bergosip juga karna keseringan bergaul dengan ibu-ibu ini. Ternyata mereka bukan hanya beli sayur tapi juga sekalian bergosip.
__ADS_1
"Ayo ikut aku " ujar Devia menarik tangan Azka masuk kedalam rumah.
"Kakak apaan sih, narik-narik sakit tau " ujar Azka mendramatis.
"Nggak usah pura-pura kesakitan" ujar Devia.
"Azka aku ingatkan ya kamu itu laki-laki kenapa malah gabung sama ibu-ibu itu ,pakai acara bergosip lagi " gerutu Devia.
"Kenapa sih? Aku cuma menceritakan tetangga sebelah bukan bergosip" bantah Azka.
"Sama aja itu bergosip namanya, laki-laki itu seharusnya berwibawa ,tegas kaya mas Skaka " ujar Devia.
"Kenapa aku di bandingin dengan abang Skala, jauh beda lah "ujar Azka.
" Kamu itu nggak boleh menceritakan permasalahan rumah tangga orang lain pada ibu-ibu itu. Itu rumah tangga mereka kenapa kamu malah ikut campur sampai suuzhon segala "ujar Devia.
" Enak aja gosipin rumah tangga orang lain apalagi kalau mereka bertengkar "ujar Azka. Devia langsung mencubit adiknya itu.
" Kayanya kamu perlu ruqyah deh"celetuk Devia.
"Nggak kenapa-kenapa kok, mas. Cuma kasih pencerahan sama adik kamu " ujar Devia. Skala hanya manggut-manggutkan kepalanya saja.
"Ayo kita ke kampus, aku udah mau telat " ujar Devia menarik tangan Skala.
"Iya, tapi jangan tarik-tarik nanti kamu jatuh " tegur Skala. Devia hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya .
"Azka nanti kunciin rumah abang ya kalau kamu keluar " ujar Skala melemparkan kunci rumah pada Azka. Pria itu dengan sigap mengambil kunci yang di lempar Skala.
"Ok bang, tenang aja pasti aku kunciin" ujar Azka .
Skala masuk kedalam mobil setelah Devia lebih dulu masuk.
"Devia pakai dulu salt beatnya, nanti kalau aku rem mendadak lagi kamu takutnya kenapa-kenapa" ujar Skala.
__ADS_1
"Iya " ujar Devia, dia memasang salt beat sesuai perintah suaminya.Skala mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
"Hari ini siapa dosen yang mengajar di kelas kamu?" tanya Skala melirik sekilas istrinya dan kembali fokus ke depan menyetir.
"Hari ini bapak Aryo lagi " ujar Devia dengan nada lesu, dia takut di marahi lagi.
"Kamu kenapa lesu kaya gitu? " tanya Skala .
"Takut di marahi lagi, dia lebih galak dari kamu kalau ngajar, tapi galaknya cuma sama aku aja, kemaren aku di marahi gara-gara terlambat masuk kelas " ujar Devia.
"Nanti dia nggak akan marahi kamu lagi " ujar Skala mengusap kepala Devia.
"Masa sih, tau dari mana dia nggak marahi aku lagi " ujar Devia.
"Nanti kamu lihat aja " ujar Skala. Devia hanya mengerutkan dahinya menatap tak paham maksud dari suaminya.
"Kalau aku yang ngajarin kamu tentang pelajaran pak Aryo kamu mau? " tanya Skala lagi.
"Maksudnya? " tanya Devia tak paham. Skala menepikan mobilnya dan memberhentikan mobilnya.
"Gini aja, kalau pelajaran pak Aryo kamu sama aku aja . Biar aku yang ngajarin pelajaran pak Aryo sama kamu tapi itu privat antara aku dan kamu " ujar Skala.
"Memang boleh "ujar Devia.
" Tentu boleh sayang, aku Rektor di kampus itu "ujar Skala membelai pipi istrinya.
" Mau!! "ujar Devia antusias. Gadis itu tersenyum senang dia bisa belajar berduaan dengan suaminya.
Skala akan memberikan teguran atau pelajaran pada Aryo, awalnya dia ingin memecat tapi setelah mendapat informasi dari anak buahnya bahwa Aryo harus menghidupi ke dua anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Sedangkan istrinya sudah meninggal sejak 10 tahun silam dan pria paruh baya itu harus berperan menjadi sosok ibu bagi kedua putrinya . Jadi apa salahnya dia memberi kesempatan kedua, tapi Aryo akan tetap di beri hukuman karna telah berbuat kasar pada Devia.
Setiap orang berhak di beri kesempatan kedua, untuk kesalahan yang dia perbuat dan semoga kesempatan kedua yang di berikan bisa membuat dirinya berubah lebih baik lagi. *Skala *
Terimah kasih telah memberi dukungan pada cerita ini.
__ADS_1
Terima kasih 1 M nya para readersđŸ˜˜