Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Ulangan


__ADS_3

"Pagi pak Skala " sapa Aryo menyeimbangkan langkah kaki Skala.


"Pagi " jawab Skala sambil terus melangkah berjalan.


"Apa boleh saya bertanya? " ujar Aryo.


"Silahkan " ujar Skala.


"Apa benar Devia istri pak Skala? Karna banyak isu yang beredar bahwa bapak Skala mengakui Devia sebagai istri agar melindungi siswi tersebut. Yang kabarnya Devia yang menggoda bapak duluan " ujar Aryo yang merupakan dosen berumur 57 tahun.


Skala menghentikan langkahnya dia menatap Aryo dengan tatapan datar.


"Devia memang istri saya " ujar Skala.


"Ooh begitu, saya fikir cuma isu saja. Karna saya ingin menjodohkan anak gadis saya dengan bapak Skala " ujar Aryo. Skala mengkerutkan dahinya, dia tidak habis fikir dengan Aryo yang ingin menjodohkannya dengan anak gadisnya sedangkan dia sudah menikah .


"Maaf tapi saya sudah ada Devia , jadi saya tidak bisa menerima perjodohan dengan putri anda " jawab Skala.


"Apa anda yakin bisa bahagia menjalani pernikahan dengan Devia. Sedangkan siswi itu terkenal dengan sikap bandel dan juga selalu terlambat datang saat pelajaran berlangsung" ujar Aryo menjelekkan Devia. Skala mengepalkan tangannya karna emosi tapi dia masih memasang wajah tenangnya seakan tidak terpancing dengan ucapan Aryo.


"Maaf tapi anda jangan ikut campur dengan rumah tangga saya dan Devia.Masalah Devia terlambat masuk kelas itu urusan saya jadi anda tidak usah memojokkan istri saya " ujar Skala tegas. Dia memilih meninggalkan Aryo yang mungkin dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


Aryo tersenyum kecut melihat kepergian Skala. Gagal keinginan dia menjadikan Skala sebagai menantu untuk anak gadisnya. Apalagi dia sudah mengetahui bahwa Skala bukan hanya menjadi dosen tapi seorang CEO di perusahaan yang cukup terkenal .


*****


"Pagi semuanya" ujar Skala menyapa para siswinya . Pria itu meletakkan kumpulan kertas ulangan di mejanya


"Selamat pagi pak Skala " sahut mereka semua serentak .Pria itu melirik Devia sekilas memastikan istrinya baik-baik saja.


"Hari ini kita ulangan seperti janji saya kemaren " ujar Skala.Devia membelalakan matanya dia tidak tau sama sekali bila hari ini ulangan dan belum ada persiapan sama sekali. Gadis itu menengok kanan -kiri melihat teman-temannya yang terlihat tenang saja sedangkan dia kalang kabut sendiri antara gelisah dan panik .


"Ssssst, Lili " panggil Devia. Lili yang di panggil namanya menatap kearah Devia.


"Apa? " tanya Lili.


"Hari ini beneran ulangan? " tanya balik Devia sambil melihat kearah suaminya memastikan tidak dia ketahuan sedang bicara.

__ADS_1


"Iya hari ini memang ulangan, dua hari yang lalu bapak Skala kasih tau " jawab Lili.


"Aduh gimana dong aku belum ada persiapan sama sekali, terus belum belajar juga " ujar Devia.


"Lah pak Skala suami kamu masa gak di kasih tau " ujar Lili.


"Yang di belakang sedang apa! " ujar Skala dengan volume suara sedikit keras .


"Gak lagi apa-apa pak, saya cuma mau minjem pulpen aja pak sama Lili" sahut Devia. Skala hanya menganggukkan kepalanya.


"Rio tolong bagikan keras ulangannya " suruh Skala. Rio bangkit dari tempat duduknya dan mengambil keras ulangannya. Pria itu membagikan kertas ulangannya tersebut pada teman-temannya.


Skala mengedarkan pandangan menatap dan mengawasi para siswinya mengerjakan keras ulangan mereka. Matanya fokus menatap Devia yang terlihat kesusahan mengerjakannya.Dia lupa memberitahu Devia bahwa hari ini ulangan.


********


"Bapak " panggil Devia menyamakan langkah kakinya dengan Skala.


"Kenapa Devia? " tanya Skala yang memberhentikan langkah kakinya dan menarik tangan istrinya agar kepinggir supaya tidak menghalangi jalan orang yang lewat.


"Bapak kenapa gak bilang kalau hari ini ulangan ?Kan aku jadi keteteran tau "ujar Devia.


" Bapak kalau ada ulangan lagi kasih tau saya ya, supaya saya ada persiapan.Karna ulangannya dadakan terpaksa saya mengeluarkan jurus cap cip cup "ujar Devia.


" Jadi kamu sembarangan jawabnya? "tanya Skala.


" Gak semua sih, ada beberapa yang sembarangan "ujar Devia cengengesan.


" Sekarang ikut saya ke ruangan "ujar Skala menarik tangan Devia. Devia tersenyum ketika berpapasan dengan siswi yang lain.


" Ini apa pak ? "tanya Devia ketika Skala memberikan kotak makanan.


" Jangan panggil bapak lagi bila berduaan panggil mas seperti biasa"ujar Skala.


"Iya, soalnya aku lupa " ujar Devia.


"Buka kotak makanannya " ujar Skala. Devia membuka kotak makanan dan menatap nasi goreng dengan dua sosis dan brokoli mentah.

__ADS_1



"Wah beli di mana nih mas, kayanya enak " ujar Devia mencium aroma nasi goreng yang sudah membuat perutnya keroncongan.


"Aku buat sendiri, jam lima shubuh buat " ujar Skala.


"Iih mas so sweet banget sih " ujar Devia.


"Sekarang makan dulu" ujar skala.


"Duduknya di pangkuan aku " ujar Skala.


"Kenapa? Aku mau duduk di sofa " ujar Devia.


"Devia nurut sama aku " ujar Skala. Devia duduk di pangkuan suaminya sambil memakan nasi gorengnya.


"Kamu kebiasaan nggak ikat rambut kalau lagi makan " ujar Skala mengeluarkan ikat rambut dari saku celananya dan mencepol rambut Devia asal.


"Enak nggak nasi gorengnya? " tanya Skala.


"Enek beunget " jawab Devia dengan mulut penuh.


"Di habisin dulu nasi gorengnya di mulut kamu itu " tegur. Devia mengambil botol air mineral dan meminumnya.


"Mas juga orang lagi makan di tanya-tanya " gerutu Devia.


"Sayang perut kamu makin buncit ya.Sudah tidak sabar mau gendong anak kita " ujar Skala mengelus perut buncit Devia sedangkan gadis itu tidak merasa risih dengan usapan tangan Skala di perutnya dia terus memakan nasi gorengnya karna benar-benar lapar padahal tadi pagi sudah banyak makannya mungkin karna kehamilannya.


"Iih geli jangan kaya gitu " ujar Devia. Skala memberikan kecupan di leher istrinya membuat Devia kegelian.


"Mas, jangan kaya gitu nanti kalau ada dosen atau siswi yang masuk ke ruangan kamu gimana?Kan aku malu kalau ketahuan" ujar Devia.


"Kita juga sudah jadi pasangan suami istri , buat apa malu " ujar Skala kembali menciumi dan menyesap leher Devia.


"Mas jangan di leher nanti ketahuan ada bercak merahnya " omel Devia. Skala malah tertawa mendengar omelan Devia padanya membuat gadis itu makin kesal.


"Gak pa-pa habis ini kita juga pulang" ujar Skala memeluk Devia erat meletakkan dagunya di bahu sang istri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2