Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Fira


__ADS_3

Skala mengusap sudut bibir Devia dengan tissue karna blepotan. Sudah dua cup istrinya memakan es krim dan ini yang ketiga. Devia terus menjilati es krimnya tanpa berbicara apapun pada Skala. Suasana hatinya sedang buruk karena masalah di bandara tadi.


"Sudah jangan makan es krim lagi, nanti batuk" ujar Skala mengambil cup es krim tersebut dari tangan Devia.


"Kembalikan es krimnya, aku masih mau " ujar Devia berdiri dari tempat duduknya dan menjijitkan kakinya meraih es krim di tangan Skala.Pria tersebut mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat Devia kesulitan meraih es krimnya . Gadis itu juga kalah tinggi dengan suaminya, dia hanya tinggi sebatas dada Skala.


"Ayo kita pulang " ujar Skala menarik tangan Devia.


"Tapi kembalikan es krimnya, aku masih mau " ujar Devia yang masih berusaha menjangkau es krimnya di tangan Skala. Pria tersebut membukakan pintu mobil untuk Devia.


"Masuk mobil " ujar Skala.


"Gak mau,siniin dulu es krimnya... Uhuk uhuk.. " ujar Devia di sertai batuk.


"Nah tuhkan, batuk. Ayo masuk mobil Devia Alisya" ujar Skala. Devia langsung masuk ke dalam mobil, bila Skala sudah memanggil dengan nama panjangnya berarti pria itu sudah kesal dengannya.


Skala masuk ke dalam mobil dengan tangan yang masih memegangi cup es krim. Devia kembali mencoba meraih es krimnya tapi lebih dulu Skala menjauhkan es krim tersebut dari jangkauan istrinya.Gadis itu merenggut ketika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.Pria itu menjilati es krim tersebut sampai habis di depan istrinya yang menatapnya dengan wajah memelas .


"Kenapa di habisin? Aku masih mau es krimnya" ujar Devia melengkung bibirnya ke bawah.


"Nanti kamu batuk kebanyakan makan es krim, tadi sudah dua kali tambah " ujar Skala yang mulai menjalankan mobilnya.Di perjalanan Devia memiringkan posisi duduknya menghadap Skala . Pria itu menoleh pada istrinya dan mengusap kepala Devia lembut dan kembali fokus menyetir.


"Kamu tau gak kak Fira itu baik, lho. Dia sudah mau donorin ginjalnya buat aku. Mas, tau gak aku sama abang Dafa sudah lama kenal sama kakak Fira. Dia dulu tetangga aku, kami sering main bareng waktu kecil " ujar Devia .


"Sayang mau, makan di luar " tawar Skala untuk mengalihkan pembicaraan agar istrinya jangan terlalu menceritakan masalah Fira, bisa saja Devia akan sedih lagi mengingat saat Dafa membentaknya karna membela wanita itu.


"Gak mau" tolak Devia.


"Terus mau makan apa hmm? Kamu belum makan dari tadi siang. Pasti dedek lapar ya " ujar Skala mengusap perut buncit Devia.

__ADS_1


"Ya sudah aku mau makan, kasihan pasti si kembar lapar " ujar Devia mengusap perutnya.


"Kita makan di restoran dekat sini aja" ujar Skala. Dia menjalankan mobilnya menuju restoran yang tak jauh dari sini. Skala memasuki area restoran dan memarkirkan mobilnya.


"Sudah sampai" ujar Skala. Pria itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Devia. Dia mengenggam tangan istrinya saat turun dari mobil.Setelah turun Skala menggandeng tangan Devia dan membawa masuk ke dalam restoran.


Suasana restoran cukup ramai, Skala membawa Devia ke meja paling ujung. Tapi seseorang menabrak Devia ,hampir saja dia jatuh bila Skala tidak memegangi tubuhnya. Gadis tersebut berbalik kebelakang menghadap ke arah Devia.Fira kaget ketika tau orang yang dia tabrak adalah Devia.


"Kakak Fira " ujar Devia dengan mata berbinar. Dia langsung memeluk wanita tersebut. Tapi dia merasa aneh dengan perut Fira. Devia melepaskan pelukannya dan menatap perut Fira yang juga membuncit.


"Kakak Hamil ? " tanya Devia, melihat perut Fira lebih besar darinya.


"Kakak sudah nikah? Kok gak bilang sama aku sih " ujar Devia.Fira menggelengkan kepalanya lemah , matanya sudah berair menatap wajah Devia yang mengingatnya dengan pria yang sudah merampas semuanya dan meniggalkannya begitu saja setelah mengambil semuanya.


"Maaf Devia, kakak harus pergi ada urusan mendadak " ujar Fira langsung pergi dari hadapan Devia sambil memegangi perutnya.


"Mas, kak Fira gak nikah tapi kenapa dia bisa hamil, apa Jangan-jangan dia hamil di luar nikah " ujar Devia dengan polosnya.


"Ayo kita duduk dulu, katanya mau makan " ujar Skala. Mereka berdua berjalan kearah meja dan duduk di kursi. Seorang pelayan restoran tersebut datang mendekati meja Skala.


"Mau pesan apa, pak ? " tanya pelayan pria tersebut dengan memegangi buku kecil dan pulpen untuk mencatat pesanan mereka berdua.


"Kamu mau makan apa? " tanya Skala. Devia membuka buku menu dan memilih makanan apa yang akan dia pesan.


"Mau spagetti , nasi goreng, udang asam manis , Macarooniskotel, terus minumanya es teh sama air putih pakai es batu " ujar Devia. Skala membelalakan matanya mendengar pesanan Devia yang sangat banyak. Bukan dia tidak mampu membayarnya tapi apa istrinya bisa menghabiskan makanan sebegitu banyaknya.


"Bapak mau pesan apa? " tanya pelayan tersebut.


"Saya es jeruk saja " ujar Skala. Pelayan tersebut mencatat pesanan Skala.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi " ujar pelayan tersebut pergi dari hadapan Skala.


"Kamu yakin habis makan sebanyak itu? " tanya Skala yang tak yakin istrinya bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.


"Pasti habislah , kan yang makan bukan hanya aku tapi anak kita " ujar Devia mengusap perutnya. Skala mendekati istrinya dan mengusap dan mencium perut Devia yang tertutup oleh kain.


"Pasti anak kita laki-laki, soalnya kamu makannya banyak banget " ujar Skala.


"Kalau laki-laki pasti gantengnya kaya kamu" ujar Devia. Skala mencium pipi istrinya lembut.


******


"Jadi kandungan ibu baik-baik saja, itu sudah biasa terjadi pada ibu hamil tua. Terkadang kontraksi palsu sering terjadi " ujar dokter Reni menjelaskan pada Fira.


"Tapi dokter, kalau bisa di perkiraan saya kapan ya, melahirkannya. Supaya saya bisa mempersiapkan keperluan untuk bayi saya nanti saat melahirkan" ujar Fira.


"Mungkin ssetengah bulan lagi, tapi itu masih perkiraan saja " ujar dokter Reni. Fira mendengar dengan seksama ucapan dokter Reni.


"Maaf kalau boleh bertanya, suami ibu Fira kemana? Kenapa setiap cek kandungan pasti selalu tidak ada suaminya? " tanya dokter Reni, dia penasaran dengan Fira yang selalu mencek kandungannya sendirian. Apalagi saat wanita ini kontraksi palsu , dia sendirian datang ke rumah sakit tanpa ada yang mengantarkannya, baik orang tua , suami maupun saudaranya.


"S-suami saya sedang kerja di luar kota " jawab Fira dengan wajah yang terlihat gugup. Reni hanya manggut-manggutkan kepalanya mendengar jawaban Fira.


"Kalau begitu terima kasih dokter Reni " ujar Fira bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu kesini pakai apa? " tanya dokter Reni.


"Pakai taksi, dok" jawab Fira.


"Hati-hati ya, semoga kamu selamat sampai tujuan" ujar dokter Reni.

__ADS_1


"Iya dokter Reni" ujar Fira berjalan menuju pintu keluar.


"Kasihan kamu Fira, suami kamu gak bertanggung jawab banget. istri lagi hamil tua di tinggal kerja " gerutu dokter Reni, dia jadi kesal sendiri pada suami Fira yang belum dia ketahui nama suami dari pasiennya tersebut.


__ADS_2