Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Balas dendam


__ADS_3

Devia duduk di sofa di sebelah Skala yang tengah sibuk dengan ponselnya . Dia memperhatikan suaminya yang tengah memainkan ponselnya.


"Mas, " panggil Devia membuat Skala menoleh menatap istrinya.


"Kenapa? " tanya Skala meletakan ponselnya di meja dan duduk menghadap Devia.


"Aku mau kuliah lagi, boleh? " tanya Devia dengan wajah penuh harap. Skala mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Devia.


"Kenapa harus kuliah? Nanti yang jaga si kembar siapa ,sayang " ujar Skala mencium pipi istrinya.


"Kan ada Azka, dia aja yang jagain si kembar . Aku pengen banget kuliah lagi" ujar Skala. Pria itu mengusap surai rambut panjang istrinya dengan lembut.


"Aku gak harap Azka bisa jaga anak kita, lebih baik kamu urusin si kembar . Aku masih sanggup dan sangat sanggup memberikan nafkah buat kamu. Bila kamu sudah lulus kuliah kamu gak boleh kerja , karna aku melarang " ujar Skala dengan tegas. Devia melengkungkan bibirnya kebawah mendapatkan penolakan dari Skala . Dia sangat merindukan saat-saat dia berkumpul dengan teman-temannya di kampus, walau dia tau sekarang tidak sebebas dulu karna sudah menikah dan memiliki anak.


"Kenapa diam? Kamu marah dengan keputusan aku? " tanya Skala melihat Devia hanya diam. Gadis berumur 21 tahun itu Menggelengkan kepalanya pelan dan bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Skala yang menatap dirinya heran.


Devia masuk ke dalam kamar anaknya dan mendapati Albian menangis setelah mendapatkan pukulan dari Alvian.


"Alvian gak boleh gitu sama adeknya" tegur Devia mengangkat Albian yang terus menangis dalam gendongannya. Skala masuk kedalam kamar menyusul istrinya dan mendekati Devia.


"Bian kenapa sayang? " tanya Skala pada Devia sambil mengusap kepala anaknya yang mulai tenang dalam gendongan sang istri.


"Vian mukul Bian, anak satu ini suka banget bikin adeknya nangis " ujar Devia menatap Alvian, sedangkan bayi itu kembali memainkan mainan yang dia rebut dari saudara kembarnya. Skala hanya tersenyum dan menggendong Vian yang menatap datar Papahnya, bayi yang satu ini memang minim ekspresi.


"Vian gak boleh mukul adeknya ya, kan kakak seharusnya melindungi bukan mukulin" ujar Skala menasehati Vian seakan bayi itu mengerti dengan ucapannya. Devia tertawa dengan kencang membuat anak dan suaminya menatap dirinya.


"Kenapa ketawa? " tanya Skala sedangkan Bian sudah mengerucutkan bibirnya ketakutan melihat Mamahnya yang menurutnya sangat mengerikan saat tertawa.


"Memangnya Vian paham sama apa yang kamu bicarakan, dia masih bayi mana paham hahaha.


" ujar Devia tertawa sambil memegangi perutnya yang sudah sangat sakit karna tertawa.Skala hanya Mengelengkan kepalanya melihat istrinya.


"Sudah jangan ketawa terus tuh Bian takut lihat kamu " ujar Skala terkikik pelan membuat Devia merengut menatap suaminya.


"Gak lucu! " celetuk Devia langsung meninggalkan Skala keluar dari kamar dengan membawa Bian.


Azka berjalan masuk kedalam rumah Skala sambil bersenandung ria dengan pakaian yang rapi. Devia yang baru turun dari tangga memperhatikan adik iparnya dari ujung rambut sampai ujung kaki .


"Mau kemana? " tanya Devia membuat Azka berhenti melangkahkan lakinya.


"Mau ketemuan sama calon istri dan mertua " ujar Azka dengan bangga, sambil menyisir rambutnya dengan rapi.

__ADS_1


"Memang ada perempuan yang mau sama laki-laki tukang ghibah kaya kamu" cibir Devia. Azka refleks menatap kearah kakak iparnya.


"Iih jahat banget ngomong kaya gitu, aku juga gak suka ghibah lagi soalnya berdosa " ujar Azka mencubit pipi gembul Bian .


"Kemaren-kemaren kamu suka banget ghibah, ! Sekarang baru tau ghibah itu dosa " ujar Devia.


"Sudah aku gak mau ribut-ribut lagi sama kakak. Abang Skala mana? " tanya Azka.


"Ngapain cari mas Skala? Jangan bilang kamu mau ngutang lagi " tebak Devia.


"Astaghfirullah, siapa yang mau ngutang, aku ada urusan yang harus di bicarakan dengan abang Skala. Kakak tidak perlu tau karna ini masalah antara laki-laki " ujar Azka .


"Di kamar " jawab Devia. Azka langsung berjalan menaiki tangga.


"Untung adik ipar " gumam Devia berjalan menuju sofa.


*******


Dafa turun dari mobilnya yang sudah terparkir di depan rumahnya, dia baru pulang dari rumah Fira setelah puas bermain dengan anaknya . Dafa berjalan menuju rumahnya tapi langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya. Dafa refleks berbalik kebelakang dan melihat Adam yang merupakan kakak dari Fira berjalan kearahnya.


Bugh


Sebuah pukulan yang cukup kencang Adam berikan pada Dafa, membuat pria itu tersungkur ke tanah.Dafa meringis merasakan sakit di wajahnya. Tidak cukup sampai situ Adam menendang perut Dafa sangat kencang membuat Dafa mengaduh kesakitan.


"Kamu yang sudah membuat adik aku Fira hamil kan. Jawab brengsek!! " ujar Adam mendorong Dafa kasar hingga mundur beberapa langkah.


"Iya, aku akui memang aku yang sudah membuat Fira hamil, tapi-" belum sempat Dafa melanjutkan ucapannya Adam lebih dulu memberikan sebuah pukulan di wajah dan perut Dafa .


Bugh


Bugh


Dia memukul Dafa seperti orang kesetanan, karna Adam sudah dikuasai amarah dan emosi yang mengambil alih dirinya dan membuat pria itu tidak bisa berpikir jernih . Sedangkan Dafa tidak di beri ke sempatan membalas atau menghindari pukulan dari Adam. Darah keluar dari hidung dan mulut Dafa, kancing kemejanya terbuka dan baju kemeja yang asalnya putih kini memerah karna terkena noda darah Dafa yang terus menetes .Pria itu mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Aku percaya kamu bisa menjaga adikku tapi kamu malah merusaknya. Kau tidak pantas hidup Dafa " ujar Adam. menendang berkali-kali perut Dafa yang sudah terkapar di tanah.


"Jangan pukul anak ku " teriak Dinda yang keluar dari rumah setelah mendengar keributan di luar. Wanita paruh baya itu berlari dengan pelan dan memeluk anaknya dengan tubuh yang gemetar . Adam yang akan memukul kepala Dafa dengan batu terhenti.


"Aaaa, Dafa bangun nak. Jangan tinggalin Mamah hiks.... " tangis Dinda histeris. Dia menepuk-nepuk pipi putranya yang sudah tak sadarkan diri itu. Adam menatap Dafa yang sudah menutup matanya tapi pria itu masih belum puas meluapkan emosi dan amarahnya pada Dafa karna sudah merusak adiknya dan membuat Fira di usir dari rumah.


Dinda berdiri dan berdiri di depan Adam dengan air mata yang terus keluar.

__ADS_1


"Kamu kenapa melakukan ini pada Dafa hah!! Aku tau dia sudah membuat adik kamu hamil tapi tidak harus seperti ini hiks...Dafa juga ingin mempertanggung jawabkan kesalahannya hiks... kalau anak ku terjadi apa-apa aku laporkan kamu kepolisi " ancam Dinda menunjuk tepat diwajah Adam. Dinda jatuh tersungkur ke tanah setelah Adam mendorongnya kasar.


"Tidak usah banyak bicara wanita tua, aku bahkan belum puas memukul Dafa. Air mata yang Fira keluarkan karna perbuatan Dafa harus di balas dengan darah " ujar Adam yang setelah mengucapkan itu pergi dari hadapan Dinda yang menangis merasakan sakit akibat dorongan Adam . Wanita paruh baya itu merangkak mendekati Dafa, dia memeluk putranya dengan air mata terus keluar.


"Bangun Dafa hiks..... bangun " ujar Dinda menggoyang tubuh anaknya . Wajah Dafa perlahan memucat Dinda semakin histeris melihat perubahan wajah putranya. . Dia mengambil ponselnya di saku celana dan menelpon suaminya yang berada di kantor.


******


Irfan masuk kedalam rumah dengan menggendong Naya yang sudah tertidur lelap. Wanita paruh baya mendekati Irfan yang masih menganggap pria itu menantunya walau Kanaya putrinya sudah meninggal.


"Dari mana kamu Irfan? " tanya Nina .


"Kapan Mamah datang? " tanya Irfan balik sedikit kaget melihat mantan mertuanya itu sudah berada di rumahnya.Irfan mencium tangan Nina yang tersenyum melihatnya walau Naya sudah tidak ada Irfan begitu menghormatinya seperti saat Naya masih hidup.


"Sudah lama datang, Mamah nungguin kamu tapi tidak datang -datang juga. Memang kamu. kemana? " tanya Nina lagi.


"Aku ke rumah Fira, biasa minta buat kasih ASI buat Naya " ujar Irfan.


"Irfan lebih baik kamu jauhi Fira. Mamah gak suka sama dia dan kapan kamu menikah apa kamu tidak mau menikah dengan Ara ? Dia adiknya Naya dan wajahnya sangat mirip dengan Naya " ujar Nina.


"Maaf Mah aku gak bisa, alasannya bukan hanya umur Ara yang masih terlalu muda untuk menjadi istri aku tapi dia tidak berpengalaman mengurus bayi seperti Naya. Aku mau mencari istri pilihan aku sendiri " tolak Irfan dengan halus . Nina kecewa mendapatkan penolakan dari Irfan, dia berharap putri keduanya itu menikah dengan Irfan dan menjadi ibu sambung Naya.


Ara berjalan mendekati Mamahnya dan juga Irfan yang berada di ruang tamu.


"Baru pulang kak Irfan? " tanya Ara sambil mengusap kepala Naya. Pria itu menoleh menatap gadis yang baru berumur delapan belas tahun itu.


"Hmmm" Irfan hanya membalas dengan deheman.


"Mah ,aku ke kamar dulu " ujar Irfan pergi meniggalkan dua orang tersebut.


"Kak Irfan aneh deh, cuek banget sama aku. Memang aku salah apa? " ujar Ara.


"Nanti juga dia gak bakal cuekin kamu. Cuma kamu harus mendapatkan hatinya dengan cara mendekati Naya, perlakukan anaknya seperti anak kamu " ujar Nina memerangi bahu Ara.


"Maksud Mamah aku harus buat dia cinta sama aku gitu? Tapi kaya nya sulit deh, tapi rencana Mamah apa sih jodohin aku sama kak Irfan? " tanya Ara. Dia hanya menurut saja ucapan Mamahnya untuk di nikahkan dengan Irfan.


"Mamah hanya mau hidup kamu terjamin bila menikah dengan Irfan. Dia kaya raya dan juga tampan. Dan yang terpenting Mamah hanya mau kamu yang menjadi ibu sambung Naya " ujar Nina. Sedangkan Ara hanya manggut-manggut saja dengan ucapan Mamahnya.



Visual Irfan

__ADS_1


Bersambung....


Cerita Skala dan Devia aku tulis lagi, karna banyak yang suka cerita mereka.


__ADS_2