
Devia dan Rian hanya diam dalam ruangan tersebut tak ada yang bicara.
Brakk
Pintu yang terbuka keras membuat kedua-duanya menatap kearah pintu. Skala membuka pintu dengan kasar,dia langsung berjalan kearah istrinya dan memeluknya erat. Devia membalas pelukan suaminya yang begitu erat padanya. Skala melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Devia, matanya saling bertatapan dengan mata Devia.Tubuh Rian mematung dia baru tau ternyata suami Devia adalah bapak Skala. Pantas pria tersebut terlihat posesif pada Devia saat dia di perpustakaan dengan Devia waktu itu.
"Kamu kenapa sampai masuk rumah sakit ? " tanya Skala.
"Perut aku tiba-tiba kram " jawab Devia.
"Tapi kamu tidak pa-pakan? Tidak ada masalah serius dengan kamu dan bayi kita,kan, sayang ? " tanya Skala dengan khawatir.
"Semuanya baik-baik saja , mas" jawab Devia. Skala berbalik menatap Rian yang tertunduk. Pria itu berjalan kearah Rian dan menepuk bahu siswinya itu pelan membuat Rian mendongakkan kepalanya.
"Terimakasih telah membawa istriku, ke rumah sakit " ujar Skala namun menekankan kata istriku . Seakan menyatakan bahwa Devia adalah istrinya dan miliknya, biarpun Rian niatnya menolong Devia tidak memungkiri Skala tidak cemburu pasti dia cemburu .Dia merupakan orang yang sangat pencemburu namun berusaha menutupinya.Karna saat dia memperlihatkan rasa cemburu berlebihannya maka bisa saja dia menghajar Rian habis-habisan, apalagi sampai bersentuhan fisik dengan Devia.
"Iya Pak, sama-sama. Saya juga tidak sengaja lewat depan kelas Devia dan melihat Devia meringis kesakitan . Jadi langsung saya bawa kesini" ujar Rian. Skala mengkerutkan dahinya dalam, setau dia Devia sudah masuk kelas karna sebelum berangkat dia terus melihat istrinya dari kejauhan dan baru masuk mobil setelah memastikan Devia sudah masuk kelas . Karna kelas Devia dan parkiran tidak terlalu jauh jaraknya.
"Ooh begitu. Sekali lagi terimakasih" ujar Skala tersenyum hangat pada Rian.
"Kalau begitu saya permisi" ujar Rian yang berjalan keluar ruangan . Skala kembali berjalan dekat brankar.
"Kamu kenapa tidak telpon aku tadi kalau perut kamu kram? " tanya Skala.
"Soalnya aku nggak kepikiran untuk nelpon kamu " jawab Devia.
__ADS_1
"Kalau kenapa-kenapa telpon aku aja ya? Kalau bisa jangan minta tolong dengan pria lain kecuali sama perempuan " ujar Skala.
"Kamu cemburu ya " goda Devia sambil menusuk-nuduk pipi Skala dengan jari telunjuknya.
"Iya aku cemburu, suami manapun akan cemburu bila istrinya dengan pria lain walau niat pria itu hanya untuk menolong kamu" ujar Skala.
"Kenapa ketawa? " tanya Skala melihat Devia tertawa menatap dirinya.
"Cieee ternyata bisa cemburu juga, aku pikir nggak cemburu " ujar Devia.
"Tentu aku bisa cemburu, sayang" ujar Skala mencubit hidung Devia. Gadis itu menarik tangan Skala untuk berhenti mencubit hidungnya. Devia terdiam ketika Skala memegangi pergelangan tangannya.
"Kenapa? " tanya Devia melihat Skala fokus menatap pergelangan tangannya.
"Pergelangan kamu kenapa merah? " tanya Skala.
"Coba lihat lagi tangannya" ujar Skala menarik tangan Devia tapi gadis itu berusaha menolak.
"Ini bukan apa-apa, cuma merah karna jatuh aku tadi " ujar Devia bohong.Skala menarik tangan Devia dengan paksa dan menatap kemerahan di pergelangan istrinya, ini bukan karna jatuh tapi bekas cengkraman , pikir Skala.
"Jawab jujur, ini kenapa? Kenapa sampai merah kaya gini?Tidak mungkin kamu jatuh sedangkan kamu sedang hamil, bila kamu jatuh maka kandung kamu juga akan keguguran" ujar Skala.
SKAKMAT
__ADS_1
Devia meneguk ludahnya kasar, ternyata Skala tidak mudah di bohongi. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jawab Devia !" ujar Skala sedikit membentak.
"Tadi aku terlambat masuk kelas, terus aku di suruh keluar sama pak Aryo tapi nggak mau jadi dia menarik paksa pergelangan tangannya aku untuk keluar dari kelas hehehe... memang aku yang salah " ujar Devia di sertai tawa sekiranya menghilangkan ketegangan dari dirinya. Skala menatap datar Devia, tangannya terkepal kuat. Akan dia beri pelajaran pada Aryo, hanya karna menolak perjodohan dengan anaknya, pria tua itu melampiaskan kekesalannya pada Devia.
"Masih sakit pergelangannya? " tanya Skala menekan bekas kemerahan tadi , membuat Devia meringis kesakitan.
"Sudah jangan di tekan sakit " ringis Devia.
"Ini salah aku juga karna membuat kamu terlambat masuk kelas. maaf ya" ujar Skala.
"Sudah tidak pa-pa" ujar Devia membelai pipi suaminya.
"Kamu mau makan? " tanya Skala.
"Aku mau mie pedas yang tadi pagi aku mau minta sama kamu tapi nggak kamu bolehin itu " ujar Devia.
"Kamu mau banget makan itu " ujar Skala.
"Iya, kan anak kita yang mau " ujar Devia mengusap perutnya.
"Baiklah kalau kamu memang lagi kepengen makan itu. Aku pesan online" ujar Skala. Pria itu mengutak-atik ponsel memesan mie pedas yang Devia mau.Skala meletakkan ponselnya setelah memesan tadi. Pria itu mengusap perut Devia lembut dengan senyuman yang melengkung di bibirnya.
"Dek, jangan buat mamanya kesakitan lagi ya, jagain mamanya. Nanti papa sedih kalau mamanya kenapa-kenapa " ujar Skala mengelus perut buncit Devia.Gadis itu tersenyum mendengarnya, Devia memeluk lengan suaminya. Skala membalas dengan memberi usapan di kepala istrinya dan mengecup kening Devia.
__ADS_1
*Allah yang meletakkan rasa cinta di hati ku padamu . Jadi jangan pernah tanyakan pada ku, kenapa aku mencintai dirimu ~Skala~
Kesakitan mu adalah kesakitan ku juga, sungguh aku lebih menderita dari mu ketika melihat mu kesakitan dari pada aku yang merasakan kesakitan itu~Skala*~