Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Perjodohan


__ADS_3

Devia menggelengkan kepalanya melihat Albian yang asik memainkan tasbih milik Skala daripada mengikuti gerakkan sholat Skala.



"Albian!" panggil Devia. Sontak bocah itu menatap sang Mamah yang duduk di sofa sedang memperhatikan dirinya. Devia tidak bisa ikut sholat zuhur berjamaah dengan anak dan suaminya karna sedang halangan.


"Berdiri nak, ikuti gerakan sholat Papa " ujar Devia menggerakkan tangannya agar Albian berdiri.


"No, bian gak mau, capek Mah " ujar Albian dengan polosnya, dan kembali memainkan tasbih milik Skala. anak itu mengalungkan tasbih tersebut di lehernya dengan terkikik sendiri melihat dirinya di pantulan cermin yang menghadap dirinya . Devia juga ikut tersenyum melihat tingkah putra keduanya, memang Skala mengajarkan anak-anak mereka tentang sholat dan agama lebih dini agar akan menjadi sebuah kebiasaan.Dan juga mengajari sholat sangat penting di terapkan pada anak sejak dini untuk membangun karakter positif.


Devia beralih menatap Alvian yang sholat dengan benar dan terlihat tenang tidak seperti Albian yang gerasak -gerusuk dan tidak bisa diam, ada -ada saja yang di lakukan Albian.



"Kalau bibitnya ngikut Skala gak pernah gagal " gumam Devia sambil terkikik geli. Untung anak-anaknya mirip wajahnya dengan Skala dari pada dirinya, bisa-bisa tidak akan setampan ini.


Skala mengakhiri sholat dengan salam. Pria itu mengangkat tangannya berdoa di ikuti Alvian yang mengangkat tangannya kearah atas langit-langit mengikuti sang Papah. Dan lagi -lagi Albian tidak mengikuti Skala, matanya menatap kearah jajanan coklat yang terletak di meja dekat kasur,entah siapa yang meletakkan di situ.



"Ada cokat, Bian mau cokat " ujar Albian bangkit dari sajadahnya berlari mengambil coklat tersebut. Skala mengusap wajahnya setelah selesai berdo'a , di ikuti Devia dan Alvian yang mengusap wajahnya.


"Lah si gendut kemana? " ujar Devia melihat Albian tidak ada .


"Di cini Mamah " ujar Albian mendekati Devia dengan mulut yang blepotan karna baru memakan coklat .


"Astaghfirullah, kenapa blepotan kaya gini? Kamu dapat coklat di mana, ndut " ujar Devia mengusap mulut Albian dengan tissue.


"Cepat cium tangan Papah " suruh Devia.

__ADS_1


Anak kembar itu mencium tangan Skala dan Devia secara bergantian.


"Semoga jadi anak sholeh ya, nak. Aamiin" ujar Skala mencium pipi putra kembarnya bergantian .


"Aku gak di cium juga? aku juga mau di cium, mas " rengek Devia.


"Sini, sayang" ujar Skala menggerakkan tangannya agar istrinya mendekati dirinya.


"Mau di cium di mana ?Di bibir atau di pipi " goda Skala membuat Devia tersipu malu-malu.


"Di pipi aja " jawab Devia. Skala mencium kedua pipi istrinya lembut dan mencium sudut bibir istrinya membuat Devia membelalakan matanya.


"Iih, jangan di bibir ciumnya ada anak-anak tau " ujar Devia memukul lengan kekar suaminya. Sedangkan Skala hanya termelihat istri merengut menatap dirinya.


"Soalnya aku sudah gak tahan, pengen cium itu " bisik Skala, membuat Devia merinding mendengarnya, apalagi mata suaminya terus menatap bibirnya. Dengan cepat Devia menutup mulutnya sebelum bengkak gara-gara Skala.


******


"Ayah cepat pulang, El gak mau punya ayah baru " lirih El meneteskan air matanya. Dia bangkit dari sofa dan keluar dari rumah menuju taman yang tidak jauh dari rumahnya .


******


"Aku gak mau, ayah jangan paksa aku untuk menikah! " tolak Fira dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Ayah tidak mau tau!Kamu harus menikah dengan pria yang sudah ayah pilihkan untuk kamu. Dia itu kaya raya, baik dan juga bisa membahagiakan kamu dan juga Elang!Sampai kapan kamu terus menunggu Dafa yang bahkan tidak ada kabarnya sama sekali! " ujar Arya tegas.


"Sudah yah, biarkan Fira memilih keputusannya sendiri" ujar Arum memegangi lengan suaminya.


"Tapi ayah sudah menerima lamaran pria tersebut, dia sekarang ada di London mengurus perusahaannya dan besok dia akan kembali ke tanah air untuk melamar kamu,Fira ! " ujar Arya .

__ADS_1


"Aku capek ayah paksa untuk menikah terus! Tapi aku tegaskan lagi,aku tidak mau menikah kecuali dengan Dafa selain dia, aku tidak mau! " ujar Fira dengan intonasi suara yang meninggi.


"Fira!! Sekarang kamu mulai kurang ajar dengan ayah " ujar Arya berjalan mendekati putrinya dan...


Plakk


Tamparan keras Arya layangkan pada putrinya dengan cukup kencang. Fira memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Arya, pipinya terasa perih dan ngilu. Air matanya jatuh menetes, dan ini yang kedua kalinya Arya menamparnya.


"Sekalian ayah bunuh aku !! Bunuh aku yah! Aku capek selalu di tampar karna menolak pernikahan paksaan ini! Ayah tidak mengerti perasaan aku, tidak tau apa kemauan aku. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak aku cintai , aku tidak akan bahagia sama sekali menikah dengan pria yang bahkan aku tidak tau siapa dan asal- usulnya! " teriak Fira yang langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan.


"Fira! " teriak Arya hendak menyusul Fira tapi. lebih dulu di tahan istrinya.


"Mas, sudah jangan paksa Fira. Biarkan dia menunggu Dafa, mungkin Dafa masih belum sembuh dengan penyakit kankernya" ujar Arum.


"Sampai kapan hah!! Apa kamu mau hidup miskin begitu! " ujar Arya dengan intonasi meninggi . Arum mengkerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya.


"Maksud kamu? Kamu jual Fira demi bisa menyelematkan perusahaan kamu itu, yang hampir bangkrut itu. Kamu tega mas jual Fira demi bisa menyelematkan perusahaan kamu itu! Apa kamu tidak memikirkan perasaan Fira hah! Menikahkannya demi uang " ujar Arum dengan nada suara yang terdengar kecewa.


"Kalau tidak dengan cara itu bagaimana lagi hah!Kamu mau hidup miskin dan jadi gelandang " ujar Arya.


"Kau ..." Arum tidak bisa berkata-kata lagi dengan pemikiran suaminya. Dia pergi meninggalkan Arya di ruang makan dengan hati yang begitu kecewa dan sedih.


******


El duduk di bangku taman memperhatikan anak-anak seumuran dirinya tengah asik bermain dengan ayah dan ibunya.


"Kapan El bisa kaya gitu, kapan ayah pulang? El sedih lihat unda nangis setiap malam nangisin ayah . El bisa marah kalau ayah gak pulang-pulang, El gak suka lihat unda nangis telus " lirih El menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Sabar ya nak, secepatnya ayah bakal menemui kalian" ujar pria dengan memakai baju serba hitam dan memakai masker hitam yang berada di balik pohon memperhatikan El yang tengah duduk di taman seorang diri .

__ADS_1


Bersambung....


Ayo tebak siapa pria itu?


__ADS_2