
Devia tersenyum menatap kedua putra kembarnya yang dia pakaikan baju berbentuk beruang dengan telinga yang ada di kepalanya. Sedangkan Skala tengah sibuk di ruang kerja memeriksa dan juga menandatangani berkas yang menumpuk dan juga sedang memeriksa tugas siswanya.
"MasyaAllah, gantengnya anak Mamah, jadi makin gemes kalau lihat kalian pakai baju ini " ujar Devia menatap gemas pada kedua putranya. Alvian lebih banyak diam sedangkan Albian lebih aktif dari saudara kembarnya.Dua bayi itu nampak menggemaskan apalagi dengan baju yang mereka pakai dan juga dodot yang ada di mulut mereka berdua.
"Tunggu ya kalian diam jangan banyak gerak Mamah mau foto kalian terus di kirim ke grub keluarga" ujar Devia mengeluarkan ponselnya dan memfoto kedua putra kembarnya. Gadis itu tersenyum puas menatap foto yang berhasil dia abadikan. Tanpa menunggu lama Devia langsung mengirim ke grub keluarga.
"Lagi apa sayang? " ujar Skala memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipi Devia.
"Lagi foto anak kita " jawab Devia memperlihatkan foto Alvian dan Albian.Skala menatap kearah kedua putranya dan langsung membelalakan matanya.
"Astaghfirullah kenapa mereka kamu pakain baju itu, mereka belum dua hari lahir sudah kamu pakaikan baju itu . Cepat lepasin kesian mereka kepanasan" omel Skala langsung mendekati anaknya dan melepaskan kostum yang sengaja di pakaikan istrinya.
"Jangan di lepasin bajunya mas ,mereka lucu terus gemoy banget kalau pakai baju itu " sahut Devia menahan tangan suaminya yang sudah melepaskan baju Alvian.
"Sayang, tapi mereka baru lahir masa langsung di pakain baju kaya gini. Bayi itu biasanya yang baru lahir itu di bedong " ujar Skala. Devia hanya mengerucutkan bibirnya melihat suaminya melepaskan baju berbentuk beruang tersebut.
*******
Tubuh Meisya langsung menegang, dia langsung berkeringat dingin setelah tau Dafa membawanya kerumah pria ini. Meisya ingin kabur saat ini juga dia tidak ingin Dinda tau kelakuan buruknya. Gadis itu membuka pintu mobil berharap bisa meloncat dan kabur dari mobil yang hampir sampai di depan rumah Dafa tapi itu hanya sebuah harapan karna pintu mobil sudah Dafa kunci seakan tau pikiran Meisya.
"Bagaimana ini? Aku tidak mau tante Dinda tau semuanya? Dan kenapa pintu mobil ini harus di kunci? " batin Meisya yang hanya bisa menggerutu dalam hatinya.
"Dafa kamu kenapa bawa aku kesini? Aku mohon jangan bawa aku ke rumah kamu, aku memang salah tapi tidak seharusnya kamu mengadukan ini semua kepada kedua orang tua kamu . Aku mohon Dafa, aku akan berubah dan percuma kamu mengadukan ini semua karna semuanya sudah terjadi , Fira sudah melahirkan anak kamu dan kehidupan Fira juga sudah hancur.Dan kamu percuma melakukan ini semua karna semuanya tidak akan kembali seperti semula " ujar Meisya mencoba menghasut dan membujuk Dafa agar tidak mengadukannya pada Dinda dan Devan. Dia tidak ingin dua orang itu membenci dan membatalkan pernikahannya.
Mobil sudah sampai dan masuk ke pekarangan rumah Dafa. Tubuh Meisya semakin bergetar ketakutan dia belum siap mendapatkan amukan dan kemarahan Dinda pada dirinya. Dafa keluar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang.
"Keluar! " bentak Dafa berdiri depan pintu mobil yang sudah dia buka.
"Dafa aku mohon jangan adukan ini pada Mamah kamu, ini cuma masalah kecil kita bisa menyelesaikannya secara dewasa tanpa melibatkan kedua orang tua kamu dalam masalah ini " ujar Meisya.Sedangkan pria itu menampilkan tatapan sinis pada Meisya tanpa mau mengubris ucapan gadis itu.
__ADS_1
"Aku bilang turun! Apa kamu tuli , hah!! " bentak Dafa menarik paksa tangan Meisya agar keluar dari mobil tersebut.
"Dafa aku gak mau! " tolak Meisya memundurkan tubuhnya saat Dafa hendak menarik tangannya. Tubuh Meisya langsung jatuh ke tanah ketika Aldo membuka pintu mobil tempat gadis itu bersandar untuk menghindar dari tarikan Dafa pada tangannya agar tidak keluar dari mobil tersebut.
"Kerja bagus Aldo " ujar Dafa, berjalan dan mendekati Meisya yang meringis kesakitan pada punggungnya. Gadis itu semakin memekik kesakitan saat Dafa menarik tangannya dengan kasar dan menyeret dirinya yang masih belum berdiri .
"Dafa lepas! Sakit Dafa , sakit " ringis Meisya yang berjalan tergopoh-gopoh mengikutinya langkah kaki lebar Dafa.
Brakk
Meisya jatuh tersungkur di hadapan Dinda dan Devan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Kedua orang tua Dafa kaget ketika melihat Meisya tiba-tiba tersungkur di hadapan mereka.
"Dafa, kamu kenapa kasar dengan Meisya!! " bentak Devan. Dinda membantu Meisya berdiri dan mengusap punggung gadis itu yang menangis sesegukan.Dafa hanya menampilkan senyuman smirknya dan beralih menatap Meisya yang sedang melakukan aktingnya.
"Kamu gak pa-pa Meisya " ujar Dinda mengusap bahu gadis itu lembut.
"Aku gak pa-pa tante " lirih Meisya. Dinda mendekati putranya dan memberikan tamparan cukup kencang pada Dafa dan ini pertama kalinya Dinda menampar anaknya.
Plakk
"Kamu itu laki-laki tidak seharusnya kasar dengan perempuan , apalagi dengan Meisya calon istri kamu , Dafa. Kalau dia melakukan kesalahan bukan seperti ini cara menyelesaikannya! " bentak Dinda .
"Kamu itu Papah didik untuk menghargai dan melindungi seorang perempuan, sedangkan Meisya itu calon istri kamu seharusnya kamu melindunginya bukan kasar dengan Meisya" ujar Devan yang juga membela Meisya. Sedangkan gadis itu terus menagis dan diam-diam tersenyum miring karna Dinda dan Devan membela dirinya.
Dafa hanya diam mendengarkan omelan dan bentakkan kedua orang tuanya.
"Jadi Mamah sama Papah belain Meisya tanpa tau apa kesalahan gadis bermuka dua itu " ujar Dafa. Kedua orang tuanya mengkerut dahinya dalam.
"Bermuka dua apanya? Dan kesalahan apa yang di lakukan Meisya? " tanya Dinda yang mulai penasaran.Dafa mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video rekaman CCTV di kantornya. Kedua orang tua Dafa membelalakan mata tak percaya, Dinda membekap mulut dengan tangannya. Dia tidak menyangka Dafa telah memperkosa Fira dan lebih membut mereka berdua kaget,Meisya dalang dari semua ini. Dafa juga memperlihatkan foto asli Fira yang tidur dengan pria lain dan nampak jelas bahwa yang tidur di sebelah Fira adalah Dafa yang sengaja wajahnya di blur oleh Meisya .
Dinda dan Devan yang awalnya berkuar-kuar membela Meisya kini bungkam dan terdiam membisu. Dinda menatap Meisya yang menundukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu berjalan cepat kearah gadis itu.
__ADS_1
Plakk
Plakk
Dinda menampar pipi Meisya kanan kiri.Gadis itu hanya diam dan meringis kesakitan mendapat tamparan begitu kencang dari Dinda.
"Dasar perempuan keparat kamu, kamu ternyata perempuan ular.Bisa-bisanya kamu membuat Dafa memperkosa Fira!! Gara-gara kamu aku menuduh dan menyakiti Fira dan itu semua karna kamu, Meisya!! "Dinda memukul dan menjambak Meisya dengan kuat . Devan langsung menarik Dinda agar menjauh dari Meisya bisa saja istrinya tidak terkendali dan membuat gadis itu kehilangan nyawanya.
" Lepaskan aku mas, aku belum puas menghajar perempuan bermuka dua itu, lepas ! "teriak Dinda menatap nyalang pada Meisya yang beringsut menjauh dari Dinda dengan penampilan yang kacau dan pipi yang kedua-duanya lebam.Dafa hanya menonton Mamahnya menghajar Meisya, bahkan Mamahnya begitu beringas. Untung Devia tidak ada disini mungkin Meisya sudah terkapar tidak sadarkan diri, karna adiknya itu lebih bringas lagi dan emosi Devia bisa meledak-ledak bila seseorang berani mengganggu dirinya dan keluarganya .
" Istighfar, sayang. Jangan terus memukuli Meisya kita bisa selesaikan ini di kantor polisi "celetuk Devan. Dafa malah tertawa dia pikir Papahnya membela Meisya ternyata lebih sadis lagi dari pada Mamahnya yaitu menjebloskan gadis itu kepenjara.Meisya langsung membulatkan matanya, dia merangkak dan memeluk kaki Dinda agar tidak di laporkan ke polisi.
" Tante, om jangan laporin aku ke polisi. Aku gak sengaja melakukan ini, please maafin aku hiks... "ujar Meisya memohon pada Dinda dengan air mata berderai.
Meisya langsung tersungkur ketika Dinda mendorong tubuhnya kasar .
" Kamu bilang tidak sengaja, begitu? Kesalahan yang begitu besar kamu bilang tidak sengaja. Kamu sudah merugikan orang lain termasuk Fira dan Dafa. Gara-gara percaya dengan kamu aku membenci dan menuduh Fira dan itu karna kamu!! "ujar Dinda.
" Mungkin sekarang Fira sudah melahirkan, apalagi Dafa tidak mengakui janin yang di kandungan Fira kalau itu anaknya karna kami sudah percaya dengan ucapan dan foto yang kamu berikan pada kami , dan aku menyesal memilih batu kerikil seperti kamu menjadi calon menantu !! "ujar Dinda menujuk tepat di depan wajah gadis tersebut. Meisya hanya bisa menangis mendengarkan bentakkan dan amarah Dinda padanya. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi kecuali hanya menangis.
*******
Adrian langsung terduduk di sofa ketika menonton video yang di kirim oleh Dafa ke ponselnya. Keysa langsung mendekati suaminya yang terlihat syok, entah apa yang membuat Adrian seperti itu.
" Mas kamu kenapa? Kamu sakit? "tanya Keysa. Adrian hanya memberikan ponselnya pada istrinya tanpa menjawab pertanyaan Keysa. Bahkan Adrian memegangi kepalanya yang begitu sakit. Keysa langsung menbekap mulutnya dengan tangan. Air matanya meluruh membasahi pipinya.
" Mas, ini gak benarkan ? Meisya gak mungkin melakukan itu, dia anak yang baik mana mungkin melakukan ini"ujar Keysa tak percaya dengan apa yang dia lihat dari video itu.
"Mas jawab, Meisya gak mungkin melakukan ini, kan? " tanya Keysa sedikit memaksa dengan air mata yang berderai. Adrian memeluk istrinya yang sudah menangis begitu deras.
"Itu memang benar, Meisya putri kita telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Kita telah gagal mendidiknya , ini mungkin karna aku jarang memantau kegiatan dan apa yang di lakukan Meisya di luaran sana " lirih Adrian.
__ADS_1
"Hiks... Kenapa Meisya tega melakukan ini, mas " ujar Keysa menangis sesegukan dalam pelukan suaminya. Meisya, putri yang sangat di banggakan oleh Adrian dan Keysa kini menjadi orang yang membuat kedua orang tuanya begitu kecewa karna gagal mendidik gadis itu.
Bersambung...