
Fira mengusap air matanya kasar setelah kepergian Dafa. Dia memeluk tubuh El dengan erat, bayi itu terus menangis setelah kepergian ayahnya, Dafa.
"Maafin bunda, harus menjauhkan kamu dari ayah kandung kamu, tapi sebenarnya bunda juga tidak rela ayah kamu bila benar-benar pergi dan menjauh dari kita berdua hiks.... Hanya saja sakit di hati bunda belum sepenuhnya sembuh setelah perlakuan ayah kamu dulu , maafin bunda,El . Bila memang keputusan ini yang terbaik semoga ini awal dari kebahagiaan kita dan semoga bunda bisa melupakan kejadian buruk itu " lirih Fira terus memeluk El dengan air mata yang berderai.
Ketukan pintu membuat Fira berhenti menangis. Dia meletakkan El di kasur dan segera berjalan keluar kamar menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu Fira menghapus air matanya kasar dan tersenyum seakan menutupi luka dan perasaan yang dia rasakan saat ini.
Gadis itu membuka pintu perlahan dan melihat Irfan sudah berdiri di depan pintu dengan sebuah senyuman ramah yang di tujukan padanya. Pria itu mengkerutkan dahinya melihat mata Fira yang membengkak seperti habis menangis.
"Pak dokter mau jemput saya? " tanya Fira dengan suara serak.
"Iya, apa kamu masih belum siap? " tanya balik Irfan.
"Belum pak dokter , saya cuma tinggal ganti baju aja . Silakan masuk " ujar Fira memberikan jalan pada Irfan agar masuk ke dalam rumahnya. Pria itu melepaskan sepatunya dan masuk kedalam rumah Fira. Matanya menyapu seluruh ruangan rumah Fira yang menurutnya kecil dan mungkin agak pengap. Dan chat putih di rumah Fira juga sudah terkelupas, mungkin rumah ini sudah lama.
"Silahkan duduk dulu pak dokter, maaf kalau duduknya dilantai "ujar Fira merasa tidak enak. Irfan tersenyum kearah gadis itu.
" Tidak apa-apa dari pada saya tidak duduk, iyakan hahaha.... "ujar Irfan tertawa renyah.
Krikk krik
suasana tiba-tiba hening, Fira tidak sama sekali tertawa ataupun terhibur dengan lawakan Irfan, dia hanya tersenyum paksa .
"Pak dokter mau minum apa? " tanya Fira mencairkan suasana yang tiba-tiba hening tadi.
"Tidak usah jadi merepotkan kamu tapi kalau bisa teh " ujar Irfan dengan nada bercanda. Fira langsung masuk kedalam dapur tidak tahan rasanya melihat dokter itu memaksakan untuk bercanda padanya jadi terkesan garing.
Tidak berapa lama Fira datang membawa segelas teh untuk Irfan membuat pria itu yang tengah memperhatikan dalam rumah Fira tersentak .
"Di minum tehnya pak dokter, maaf cuma ini yang bisa saya suguhkan dan tidak ada cemilan" ujar Fira menundukkan kepalanya, sebenarnya dia merasa canggung dan gugup saat berduaan dengan Irfan.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi ini juga sudah sangat cukup untuk saya. Maaf jadi merepotkan kamu " ujar Irfan langsung meminum teh yang masih panas itu.
"Panas! " pekik Irfan karna langsung meminum teh yang masih panas.
"Pak dokter gak pa-pa? " tanya Fira khawatir.
"Saya gak pa-pa " jawab Irfan memegangi bibirnya yang terasa perih.
"Lebih baik kamu ganti baju " ujar Irfan memalingkan wajahnya karna merasa malu dengan Fira. Bisa-bisa nya dia langsung meminum teh yang masih panas karna merasa gerogi dengan gadis tersebut.
Fira masuk kedalam kamar dan menutup pintu serta menguncinya dari dalam, walau Irfan terlihat seperti pria baik-baik tapi dia harus tetap waspada dan hati-hati dia takut kejadian buruk itu terulang lagi.
Irfan bangkit dari tempat duduknya di karpet plastik bergambar Doraemon. Dia berdiri di depan pintu keluar sambil sedikit merenggang tangannya. Tapi tiba-tiba seorang pria yang tak jauh seusia Irfan datang mendekatinya.
"Kamu siapa? " tanya Danu yang merupakan seorang guru di sebuah SMA . Dia menatap tak suka pada Irfan yang tersenyum ramah padanya.
"Suaminya Fira,bapak belum tau? Jadi pak Danu tidak usah menganggu Fira lagi. Sampai mau menjadikan Fira istri ketiga bapak!! " ujar ibu Mitha yang ketus pada Danu. Bagaimana tidak setiap malam Danu datang ke kontrakan Fira hanya ingin membujuk, merayu dan menawarkan Fira menjadi istri ketiganya dengan alasan agar El bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dan juga agar Fira tidak usah lagi capek-capek bekerja.Ibu Mitha jadi tau karna selalu mengintip di jendela ketika melihat Danu datang ke kontrakkan Fira .
Sedangkan Irfan membulatkan matanya mendengar ucapan ibu Mitha. Dia ingin mengatakan tidak pada Danu bahwa dia bukan suami dari Fira tapi selalu di potong ucapannya oleh ibu Mitha seakan dia tidak di berikan kesempatan untuk bicara.
"Jadi jangan kesini lagi sekarang. suaminya Fira sudah datang dari luar kota . Dan ini membuktikan bahwa ucapan Fira benar bahwa suaminya memang benar bekerja di luar kota . Jangan ganggu Fira lagi ya pak, kasihan setiap hari selalu di gosipin merebut suami orang bahkan dia anggap menggoda bapak Danu, sebenarnya pak Danu yang selalu menggoda Fira " ujar ibu Mitha dengan penuh penekanan. Danu langsung pergi dari depan rumah Fira tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Maaf bu saya bukan suami Fira , saya cuma mau jemput Fira.Karna Fira bekerja sebagai babby sister di rumah saya untuk menjaga anak saya" ujar Irfan meluruskan. Ibu Mitha tersenyum pada Irfan.
"Saya tau kamu bukan suami Fira, cuma mau membuat Danu berhenti mengejar Fira. Kasihan dia di ganggu oleh Danu. Memang hidung belang si Danu sudah punya istri dua masih kurang " ujar ibu Mitha sambil terkekeh pelan.
"Memang suami Fira tidak pulang-pulang dari luar kota? " tanya Irfan yang mulai penasaran. Ibu Mitha melihat ke sekitar dan mendekatkan wajahnya ke telinga Irfan.
"Sebenarnya Fira gak punya suami, dia di perkosa oleh kekasihnya dan juga tidak mau tanggung jawab malah menuduh Fira berhubungan dengan pria lain. Lebih parah lagi dia di usir oleh orang tuanya karna hamil di luar nikah dan juga tidak mau mengatakan siapa ayah dari anak yang dia kandung. Tapi Fira tidak mau memberi tau siapa nama ayah kandung El atau mmemperlihatkan foto pria yang telah menghamilinya pada saya" bisik ibu Mitha telinga Irfan
__ADS_1
Tubuh Irfan seketika mematung mendengar perkataan ibu Mitha, dia tidak menyangka Fira harus mengalami itu semua, sedangkan gadis itu terlihat baik-baik saja di depannya seakan tidak terjadi apa-apa dengannya . Bagaimana bisa seorang pria memperkosa Fira dan tidak mengakui perbuatannya yang dia anggap melebihi binatang itu . Rasa marah dan emosi tiba-tiba muncul di benak Irfan, ingin sekali dia mengajar pria yang tak bertanggung jawab itu.
"Kamu jangan bilang sama Fira kalau saya yang menceritakan hal ini ya. Ini rahasia kita berdua " ujar ibu Mitha tersenyum pada Irfan.Pria itu mengangguk kepalanya.
"Eh ada ibu Mitha " ujar Fira yang sudah berdiri di sebelah Irfan dengan mengendong El. Fira mencium tangan ibu Mitha lembut, dia sudah menganggap wanita paruh baya ini seperti ibunya sendiri.
"Kamu mau kemana Fira, rapi banget pakaiannya? " tanya ibu Mitha sekedar basa-basi.
"Aku mau pergi kerja di rumah pak dokter " jawab Fira. Irfan terus menatap Fira dengan tatapan yang sulit di artikan yang jelas dia merasa iba dan kasihan pada Fira.
"Oh, rumah pak dokter yang mana? " tanya ibu Mitha yang tidak mengerti dengan ucapan Fira yang menyebut pak dokter. Fira menoleh pada Irfan yang menatapnya, mata mereka berdua bertemu dan terkunci beberapa detik.Irfan memalingkan wajahnya kearah lain.Fira pun memalingkan wajahnya. Ibu Mitha tersenyum melihat mereka berdua yang terlihat salah tingkah.
"Saya tunggu di mobil " ujar Irfan berjalan kearah mobilnya dan masuk ke dalam.
"Saya pamit ya bu " ujar Fira mencium kembali tangan wanita paruh baya itu.
"Hati-hati ya nak. Jaga El baik-baik" ujar ibu Mitha yang di angguki oleh Fira. Gadis itu masuk kedalam mobil .
"Kamu sudah makan? Kalau belum kita mampir ke restoran " ujar Irfan yang menatap lurus.
"Saya sudah makan pak dokter " jawab Fira. Irfan menoleh menatap gadis itu tersebut yang menundukkan kepalanya yang seperti tau bahwa dia sedang menatap dan memperhatikannya.
"Jangan panggil saya pak dokter, panggil saya mas " ujar Irfan .
"Tapi saya lebih suka manggil pak dokter " ujar Fira.
"Ya sudah terserah kamu, mungkin lidah kamu tidak terbiasa memanggil dengan sebutan, mas " ujar Irfan terkekeh dan mulai mengendarai mobilnya.
Bersambung...
__ADS_1