
Fira melambaikan tangannya pada taksi yang lewat. Mobil taksi itu berhenti di tempat gadis itu berdiri. Fira masuk kedalam mobil dan sopir taksi tersebut mulai menjalankan mobilnya . Beruntung masih ada taksi yang lewat tengah malam begini. Fira menenangkan El yang terus rewel dan menangis karna mengalami demam tinggi. Wajah bayi itu memerah karna terlalu lama menangis.
"Kemana di antarnya, mbak ? " tanya sopir tersebut .
"Ke rumah sakit kasih bunda" jawab Fira.
Ueeeeekkkk
El semakin kencang menangis karna demam tinggi . Dan badan bayi itu sangat panas, El mencengkram rambut panjang Fira , dan menarik-nariknya.
"Iya sayang, sabar ya kita sebentar lagi sampai ke rumah sakit " ujar Fira mencium pipi putranya yang tak henti-hentinya menangis. Taksi tersebut sudah sampai di depan rumah sakit. Fira menbayar ongkos taksi dan turun dari mobil tersebut. Gadis itu masuk kedalam rumah sakit dan berjalan menuju tempat para pasien biasanya membayar uang administrasi dan di sana sudah ada dua suster yang tengah duduk .
"Suster, dokter Reninya ada? " tanya Fira. Suster itu bangkit dari tempat duduknya.
"Ada , tapi dokter Reni sedang menangani pasien yang sedang melahirkan .Memangnya ibu ada keperluan apa mencari dokter Reni? " tanya suster tersebut.
"Anak saya sedang demam tinggi, dan saya ingin memeriksakannya dengan dokter Reni, apa masih lama dokter Reninya , menangani pasien melahirkan itu? " tanya Fira .
"Sepertinya lama, kalau begitu ibu bisa periksa kan keadaan anak ibu pada dokter Irfan. Dia juga dokter anak , mari saya antar " ujar suster tersebut. Fira mengikuti suster tersebut dari belakang.
"Ibu tunggu sebentar ya, saya masuk dulu ke ruangan dokter Irfan" ujar suster tersebut masuk kedalam ruangan Irfan. Tidak berapa lama suster itu keluar dari ruangan dokter Irfan.
"Mohon tunggu sebentar, dokter Irfan sedang sholat " ujar suster tersebut.
__ADS_1
"Iya, suster" jawab Fira.
"Saya tinggal ya bu,nanti dokter Irfan akan memanggil ibu bila sudah selesai dengan sholatnya ,saya permisi " ujar suster tersebut meninggalkan Fira.
Ueeeeekkkk
Fira menepuk-nepuk pantat putranya pelan walau itu tidak membuat El berhenti menangis. Malah semakin menjadi-jadi, biasanya El tidak rewel dan menangis seperti ini .
"Anaknya kenapa, mbak? " tanya Azka yang tiba-tiba berada di sebelah Fira. Gadis itu terperanjat kaget melihat pria yang pernah menolongnya tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.Fira tidak menjawab pertanyaan Azka dia memiliki menjauh dari pria asing tersebut.
"Mbak kenapa jauhin saya?Niat saya baik lho cuma nanya keadaan anak mbak yang dari tadi nangis terus. Jangan takut saya gak gigit " ujar Azka mendekati Fira dan memperhatikan bayi yang mirip dengan Dafa.
"Anak mbak wajahnya mirip sama adik ipar abang saya " ujar Azka dengan polosnya.
"Bukan begitu maksud saya, tapi wajah anaknya mbak mirip banget sama adik ipar abang saya. Coba dia gendong anaknya mbak pasti di kira bapak sama anak"ujar Azka tertawa pelan.Fira memilih tidak merespon ucapan Azka yang menurutnya tidak penting.
Fira merasakan nyeri pada ari-arinya karna menahan air kecil dari tadi . Dia melirik Azka yang terus memperhatikan El yang menangis dalam gendongannya. Apa dia minta tolong dengan pria asing ini,untuk menjaga El sebentar. Dia sudah tidak bisa menahan untuk tidak buang air kecil, tidak mungkin dia membawa El kedalam toilet.
" Mas, orang baik, kan? "tanya Fira dengan polosnya. Azka yang mendengar itu tidak bisa menahan tawanya ,apa lagi dengan wajah polos Fira.
" Kenapa ketawa? Saya tidak melawak! "ketus Fira.
" Mbak itu aneh, masa nanya kaya gitu, kan saya jadi ketawa "ujar Azka yang masih tertawa. Fira mendelik sebal pada Azka yang terus menertawakannya.
__ADS_1
" Saya serius dengan pertanyaan saya.Mas orang baik atau tidak ? "ujar Fira .
" Tentu saya orang baik, mana ada orang seganteng saya jadi jahat, mbak "ujar Azka merapikan rambutnya.Fira menatap aneh pada Azka yang menurutnya lebay dan alay.
" Saya boleh titip anak saya sebentar . Soalnya mau buang air kecil "ujar Fira.
"Tentu boleh ,siniin anaknya "ujar Azka. Fira memberikan El pada pria tersebut. Bukannya tambah tenang El semakin menjadi-jadi menangis dalam gendongan Azka.
" Tinggal aja ke toilet , mbak. Tenang saya tidak akan menculik anak, mbak "ujar Azka. Fira dengan ragu-ragu berjalan menjauh ,tapi sesekali menatap ke arah putranya yang masih menangis dalam gendongan Azka. Gadis itu langsung berjalan dengan cepat menuju ke toilet.
" Sudah ya, jangan nangis terus , nanti jelek lho mukanya "ujar Azka. El semakin menangis, bayi itu menggerakkan tubuhnya seakan tak mau di gendong Azka.
" Dafa "panggil Azka pada Dafa yang baru datang dari kantin rumah sakit. Pria itu menoleh pada Azka yang memanggilnya dan berjalan mendekati pria tersebut.
" Kenapa? "tanya Dafa datar. Tanpa aba-aba Azka langsung memberikan El pada Dafa. Reflek pria itu langsung memegangi tubuh El.
El langsung terdiam ketika berada dalam gendongan Dafa. Bayi itu mendongak menatap lekat wajah pria tersebut. Dafa terdiam memperhatikan wajah El yang sangat mirip dengannya. Bahkan seperti menatap dirinya sendiri saat kecil.Tangan mungkin El menyentuh wajah Dafa , bayi itu juga tidak menangis lagi saat dalam gedongan Dafa. Dia merasa ada hubungan lebih dengan bayi ini, seakan memiliki ikatan batin . Sudah beberapa bulan Dafa merasa gelisah, risau dan juga hatinya yang tak tenang, tapi hatinya tiba-tiba menghangat dan merasa tenang saat menggendong El.
Seperti biasa El mengemuti jarinya saat ingin meminum susu. Tapi matanya terus fokus menatap Dafa.Tanpa sadar pria itu mencium pipi gembul El membuat bayi itu tertawa,Dafa jadi gemas melihat bayi tersebut tertawa.Demam El juga sudah menurun panasnya. Mungkin El demam panas karna ingin bertemu dengan ayah biologisnya.
__ADS_1
Azka tercengang melihat El yang tidak menangis lagi,bayi itu begitu anteng dan diam dalam gendongan Dafa. Sedangkan dengan dirinya El menangis dengan suara yang kencang.Azka memperhatikan wajah Dafa dan wajah El secara bergantian.Menurut Azka wajah kedua-duanya sangat mirip, seperti ayah dan anak.