
Sudah seminggu Dafa tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Fira makin khawatir kalau pria itu benar-benar menjauhinya. Dia mengusap kepala El yang tengah tertidur pulas di kasur.
"Apa kamu benar-benar menjauhi aku dan juga El" gumam Fira lirih . Gadis itu membuka laci dan mengambil foto Dafa yang masih dia simpan, sebenci apapun dia dengan pria itu dia tidak bisa membohongi perasaannya yang masih mencintai Dafa .
*****
Dafa menyeret kopernya dan mengetuk pintu rumah Fira.Dia baru pulang dari luar kota karna harus menyelesaikan masalah kantor cabang di Bandung tersebut. Seharusnya Dafa langsung pulang ke rumah tapi karna dia juga sangat merindukan putranya jadi dia memilih kesini terlebih dahulu. Pintu perlahan terbuka , Fira mendongakkan kepalanya menatap Dafa yang sudah berdiri di depannya.Perasaan hatinya antara senang ,marah dan juga benci karna seketika bayangan Dafa saat menyakitinya terbayang-bayang dalam kepalanya apalagi melihat Dafa yang kembali datang ke rumahnya.
"Aku boleh masuk ke rumah kamu ? Aku sangat merindukan anak kita " ujar Dafa. Fira seketika menggelengkan kepalanya dan langsung sadar dari lamunannya setelah mendengar suara Dafa .
" Gak! Kamu gak boleh ketemu dengan El. Aku sudah bilang sama kamu jangan temui aku lagi "ketus Fira menatap sengit Dafa.
" Aku mau ketemu El bukan kamu "celetuk Dafa mencubit hidung mancung Fira dengan gemas. Gadis itu menepis tangan Dafa dengan kasar.
" Kamu jangan kurang ajar sama aku, sekarang pergi dari sini, aku muak melihat wajah kamu "ujar Fira dengan ketus .
" Baru pulang mas? "tanya ibu-ibu yang lewat di depan rumah kontrakkan Fira. Dafa membalikkan badannya menatap dua orang ibu-ibu tersebut. Dia mengkerutkan dahinya bingung dengan ucapan ibu-ibu tersebut.
" Maksudnya ibu pulang apa ya? "tanya Dafa. Sedangkan ibu-ibu tersenyum menatap wajah Dafa yang sangat mirip dengan wajah El.
" Maksudnya pulang dari luar kota, kata Fira mas nya kerja di luar kota jadi jarang kelihatan"ujar salah satu wanita yang menenteng tas belanjaannya .
__ADS_1
"Ternyata bener ya kata Fira muka suaminya mirip sama El, ganteng ya "bisik-bisik ibu-ibu tersebut.
" Berarti yang jemput Fira tiap pagi bukan suaminya Fira tapi yang ini suaminya Fira , soalnya mukanya mirip banget sama El "ujar ibu-ibu tersebut yang masih bisa di dengar Dafa. Pria itu berbalik menatap kearah Fira yang memalingkan wajahnya. Dia tersenyum senang seakan kupu-kupu berterbangan di atas kepalanya karna Fira masih mengakui dia sebagai ayah dari El dan akan dia perjuangan Fira sampai jadi istrinya dan berusaha mendapatkan maaf dari gadis ini .
" Kenapa senyum-senyum, gila!! Sekarang pergi dari sini "usir Fira setelah ibu-ibu tadi sudah pergi dari depan rumahnya. Dafa langsung tersadar dari lamunannya.
" Aku mau ketemu El dulu baru pergi dari rumah kamu .Dan aku juga berhak bertemu dengan El karna aku ayah kandungnya dan kamu tidak berhak menghalangi aku bertemu dengan anak aku "ujar Dafa. Fira diam tidak bisa berucap apa-apa lagi.
Dafa masuk ke dalam rumah kontrakan Fira. Dia juga membawa masuk kopernya ke dalam rumah tersebut.Pria itu masuk kedalam kamar dan menatap anaknya yang tertidur nyenyak . Dafa berjalan mendekati El dan duduk dengan pelan di sisi kasur agar tidak membangunkan putranya. Fira masuk ke dalam kamar dan memperhatikan Dafa mencium dan mengusap kepala El. Andai anaknya bangun pasti dia sangat senang melihat ayahnya datang kesini.
" Sekarang sudah ke temukan sama El ? Jadi pergi sekarang dari rumah aku "ujar Fira yang masih bersikap ketus pada Dafa.
" Aku mau bicara sesuatu sama kamu, penting "ujar Dafa dengan wajah yang terlihat serius. Fira perlahan menatap kearah Dafa walau rasa gugup itu selalu muncul saat bersama pria tersebut.
" Sini duduk di samping aku "ujar Dafa menepuk kasur di sebelahnya agar Fira duduk di sampingnya.
" Langsung the poin aja, kamu mau bicara apa? "tanya Fira . Dafa bangkit dari kasur dan berjalan mendekati Fira yang menampilkan raut wajah ketakutan padanya, dia hanya takut kejadian buruk itu terulang lagi. Fira mengambil gunting di meja dan mengacungkannya pada Dafa yang langsung reflek mundur dua langkah .
" Cepat mau bicara apa? Tapi tidak usah dekat-dekat "ujar Fira mendorong Dafa untuk menjauh darinya.
" Kamu jangan takut ,aku tidak akan macam-macam sama kamu. Aku mau mengajak kamu dan El besok ke rumah orang tua kamu . Kita temui mereka dan menjelaskan yang sebenarnya agar tidak terjadi kesalah pahaman. Aku sudah tau kamu di usir oleh kedua orang tua kamu, kan? Dan itu semua karna aku "ujar Dafa menundukkan kepalanya dalam -dalam dan menatap sendu kearah Fira yang hanya diam melamun, entah apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
" Kita jelaskan sama-sama "ujar Dafa meraih tangan Fira membuat ia tersadar dari pemikirannya. Fira langsung menarik tangannya dari genggaman Dafa, membuat pria itu menatap nanar pada gadis tersebut.
" Tidak usah, aku tidak yakin dengan kamu karna ayah aku orangnya keras , bila dia tau yang sebenarnya , kamu mungkin sudah habis di pukul ayah aku habis-habisan . Tapi bukan berarti aku berbicara seperti ini karna mengkhawatirkan kamu, itu salah besar "ujar Fira menatap datar.
" Aku siap menanggung resikonya bahkan aku rela masuk penjara demi bisa menghentikan kesalah pahaman ini. Fira, ingat dengan El ,fira bila kita tidak menjelaskan yang sebenarnya ini akan berdampak pada anak kita, kamu mau El tidak di akui oleh orang tua kamu sebagai cucu mereka? Pasti kamu tidak mau kan "ujar Dafa menatap mata Fira yang juga menatapnya.
Belum sempat Fira menjawab ucapan Dafa sebuah ketukan pintu membuat mereka berdua terdiam.Fira langsung meninggalkan Dafa dan berjalan menuju pintu keluar untuk membuka pintu.
Fira membuka pintu dan melihat Irfan sudah berdiri di depan pintu dengan menggendong Mata yang terus menangis.
" Maaf ganggu kamu sore-sore begini, Naya dari tadi nangis terus mungkin dia mau minum ASI "ujar Irfan . Fira mengambil Naya dalam gendongan pria tersebut.
" Haus atau laper nih "ujar Fira terkekeh pelan sambil menepuk pantat Naya . Bayi perempuan itu langsung terdiam dan mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. Fira mencium pipi chubby Naya dengan gemas dan itu tidak luput dari perhatian Irfan. Sebuah senyuman terukir di bibir Irfan tanpa di sadari Fira.
" Kamu siapa? "suara bariton membuat mereka berdua menoleh pada Dafa yang sudah berdiri di belakang Fira. Pria itu menatap bayi perempuan yang di gendong Fira dan beralih menatap Irfan yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sedangkan Irfan juga menatap pria yang ada di belakang Fira apalagi wajah Dafa sangat mirip dengan El, dan sudah pasti bisa di tebak oleh Irfan bahwa pria itu ayah biologis El. Tapi ada rasa tidak suka di hati Irfan melihat Dafa yang langsung merengkuh pinggang Fira . Sedangkan Dafa menatap tajam pada Irfan dan makin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Fira.
" Lepasin , jangan macam-macam kamu "ujar Fira dengan suara pelan pada Dafa dan berusaha melepaskan tangan Dafa yang melingkar di pinggangnya.
Bersambung...
Mohon di maklumin ya bila cerita aku tidak sebagus dan semenarik novel yang lain karna hanya penulis amatiran.
__ADS_1