
Fira duduk di kursi depan meja rias dengan wajah yang terlihat gugup. Dia menatap dirinya di pantulan cermin yang sudah berias dan kebaya putih yang dia pakai. Air matanya menetes membasahi wajahnya, seakan tidak percaya hari ini dia akan menikah dengan Dafa.
"Kenapa nangis kak? "tanya Devia mendekati Fira.
" Aku cuma tidak menyangka hari ini akan menikah dengan Dafa. Seakan ini mimpi"ujar Fira mengusap air matanya. Devia tersenyum, dia memeluk Fira yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Kakak memang pantas mendapatkan kebahagiaan ini.Dan abang Dafa beruntung mendapatkan kak Fira. Kalian berdua memang pantas bahagia setelah banyak melewati masa-masa sulit dan hampir berpisah tapi Tuhan menyatukan kalian lagi " ujar Devia.
"Makasih Devia" sahut Fira .
"Ayo cepat turun, ijab qobul sebentar lagi mau di mulai " ujar Arum masuk kedalam kamar rias putrinya.Fira menarik napasnya dalam-dalam untuk menghilangkan kegugupan yang semakin menjadi-jadi di benaknya. Devia menuntun Fira berjalan ke pintu keluar kamar, seketika tubuh wanita itu melemas ,kakinya seakan tidak kuat berjalan karna terlalu gugup .
"Jangan gugup kak, yang ngucap ijab qobulnya abang Dafa bukan kak Fira " ujar Devia dengan nada bercanda untuk menghilangkan kegugupan calon kakak iparnya. Fira hanya tersenyum kikuk, jantungnya semakin berpacu lebih lebih cepat saat akan sampai di pelaminan . Dia bisa melihat Dafa duduk di pelaminan dan di sebrang meja ada ayah dan pak penghulu yang juga duduk menunggu dirinya.
Semua orang menatap kearah mempelai pengantin yang terlihat cantik dengan balutan kebaya putih. Meisya juga hadir di pernikahan tersebut, tangannya terkepal kuat menahan cemburu, marah dan tak rela Fira yang menjadi istri Dafa .
Fira duduk di sebelah Dafa yang menoleh menatap dirinya dengan senyuman manisnya. Pria itu juga merasakan gugup, keringat dingin membasahi wajahnya.Arya mengulurkan tangannya pada Dafa dan di sambut uluran tangan calon ayah mertuanya itu yang menjadi wali nikahnya .Azka terus menghubungi Ara yang tidak mengangkat sambungan telponnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak dan pikiran menjadi kalut dan gelisah.
"Ayo Ara angkat, sayang " gumam Azka. Gadis itu janji akan sampai ke acara pernikahan ini sebelum ijab qobul di mulai. Pria itu menatap nanar ponselnya karna Ara tidak mengangkat telpon. Padahal hari ini dia akan melamar gadis tersebut di depan orang tuannya dan orang banyak.
"Bismillahirrahmanirrahim" gumam Arya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Dafa Vincent Ardiansyah bin Devan Ardiansyah dengan putri ku yang bernama Zhaafira Sanjaya binti Arya Mahendra Sanjaya dengan mas kawin uang tunai senilai satu miliar dan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ujar Arya dengan lancar dan jelas. Dafa menarik napasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya sejenak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zhaafira Sanjaya binti Arya Mahendra Sanjaya dengan mas kawin uang tunai senilai satu miliar dan seperangkat alat sholat di bayar tu-nai " ucap Dafa dengan lantang dan jelas.
"Bagaimana para saksi? " tanya pak penghulu .
"Sah! "
"Sah!"
"Sah! "
Seru para saksi dengan suara yang keras dan menggema memenuhi seluruh gedung. Dafa mengusap wajahnya dan menoleh menatap Fira yang menundukkan kepalanya sambil menyeka air mata yang hendak menetes . Seluruh keluarga besar dari pihak Fira dan Dafa merasa bahagia dan bercampur haru, akhirnya putra-putri mereka sudah sah menjadi suami-istri.
"Silahkan ananda Fira mencium tangan calon suaminya " suruh pak penghulu. Dengan tangan bergetar Fira meraih tangan Dafa yang terasa dingin dan berkeringat. Wanita itu mencium punggung suaminya, membuat Dafa memejamkan matanya merasakan kecupan di punggung tangganya dan jantungnya yang seakan berhenti berdetak .
Dafa kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.Tidak lupa juga pasangan pengantin yang sudah sah menjadi suami-istri itu menandatangani buku nikah dan sebuah lembaran kertas yang di suruh menandatangani juga oleh pengulu. Terlihat jelas senyuman dan raut kebahagiaan yang tercetak jelas di wajah pasangan pengantin itu.
"Ayah!! " Elang turun dari gendongan Adam dan berlari kearah Dafa kemudian memeluknya erat.
__ADS_1
"Ayah Elang kangen , kenapa ndak ke rumah? " tanya Elang dengan polosnya.
"Lagi sibuk kerja nak " jawab Dafa karena seminggu itu dia sibuk dengan urusan perusahaan dan juga mengurus pesta pernikahan.
"Maaf saya mau memfoto pasangan pengantin" ujar fotografer agar para tamu undangan menjauh dari Dafa dan Fira termasuk Elang yang ada dalam gendongan Dafa.
"Mas nya peluk pinggang istrinya nya, terus ujung hidungnya nyentuh sedikit, senyum yang manis ya " ujar fotografer tersebut. Fira dan Dafa mengikuti arahan fotografer muda tersebut.
"Satu dua tiga "
Jefret
Fotografer itu menatap hasil fotonya yang menurutnya sangat sempurna dan sangat bagus.
Albian berlarian di tengah orang-orang banyak menghindari kejaran Meisya. Bocah itu tidak sengaja menumpahkan sirup di gaun mahal gadis tersebut.
"Mamah tolong ada nenek lampil!! " seru Albian berlari menuju Devia yang tengah sibuk berselfie ria dengan suaminya .
Brakk
Bocah itu menabrak Azka yang tengah berjalan dengan tatapan kosong karna sang pujaan hati belum datang-datang juga.
"Om Jaka tolong, ada nenek lampil , lihat kuping aku tadi di jewel sampai merah " adu Albian memperlihatkan kupingnya yang memerah. Mata pria itu langsung memanas melihat kuping keponakannya yang memerah, tidak ada yang boleh menjewer Albian kecuali dirinya.
"Mana orangnya? " tanya Dafa. Albian menunjuk Meisya yang berjalan kearah mereka berdua.
"Ini bukan nenek lampir lagi, tapi banteng " cibir Azka melihat wajah gadis memerah menahan marah.
"Sini kamu tuyul, kurang ajar berani sekali merusak gaun dan mengigit tanganku! " bentak Meisya ketika hendak menarik paksa tangan Albian.
Plakk
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Meisya membuat gadis itu menatap Devia yang menatap dirinya marah.
"Jangan beraninya sama anak kecil hadapi dulu emaknya " ujar Devia mendorong Meisya hingga mundur beberapa langkah. Albian berjingkrak-jingkrak kesenangan akhirnya pawangnya datang.
"Ooh, jadi dia anak kamu, cih sama sekali dengan kelakuan kamu, Devia. Untung aku tidak jadi kakak ipar kamu " ujar Meisya dengan nada sombong.
"Heh, siapa juga yang mau punya kakak ipar yang minim akhlak kaya kamu " ujar Devia menatap sengit pada Meisya.Skala menarik tangan istrinya agar tidak membuat keributan disini.
__ADS_1
"Sudah jangan di ladenin " ujar Skala menarik Devia dan anaknya menjauh dari Meisya yang tersenyum mirip menatap kepergian mereka bertiga.
**********
Irfan duduk di lantai dengan menyandarkan tubuh di sisi kasur. Pria itu meneguk alkoholnya yang kedua setelah dia menghabiskan satu botol. Satu tangannya meremas foto Fira hingga tak berbentuk lagi. Dia benar-benar hancur, hatinya begitu sakit dan remuk. Hari ini merupakan pernikahan Dafa dan Fira , itu berarti wanita yang dia cintai sudah terikat dengan pernikahan dan sudah menjadi milik Dafa.
Irfan benar-benar berubah 180 derajat,dia menjadi lebih dingin dan menjadi pria yang kasar . Tidak ada lagi Irfan yang bertutur kata lembut dan ramah. Karna cinta dan patah hati seseorang berubah dari sikap dan kelakuannya karna sakit hatinya. Hingga dia lupa dengan Tuhannya dan mencari ketenangan dengan meminum Alkohol yang di larang agama .
"Selamat kamu sudah menikah dengan Dafa dan bahagia dengannya. Sedangkan aku harus merasakan sakit dan menderita disini hiks... aku cinta kamu, Fira. Tuhan apa aku tidak bisa merasakan bahagia ?Bahkan saat aku menemukan wanita yang aku cintai engkau merebutnya dan menjodohkannya dengan pria lain , Tuhan. Kalau begitu kenapa kau pertemukan aku dengan Fira bila akhirnya di pisahkan ? " lirih Irfan dengan suara yang tersekat di tenggorokan. Air mata pria itu menetes membasahi wajah pucatnya. Irfan terus meminum Alkoholnya tanpa makan apapun.
Pria itu merancau tidak jelas karna pengaruh alkohol yang dia minum. Emma dan Adi sudah dua hari yang lalu berangkat ke Perancis karna mengurus pekerjaan yang harus di selesaikan di sana dan tidak bisa di tunda lagi. Tapi mereka menitipkan Irfan dan Naya pada Nina .
"Ara!! " teriak Nina dengan suara yang keras. Ara, gadis itu mendatangi Mamahnya dengan baju kebaya putih yang dia pakai. Wanita paruh baya itu menatap Ara dari atas sampai bawah.
"Kamu mau kemana? " tanya Nina.
"Aku mau ke pernikahan kak Fira " jawab Ara.Nina hanya ber"oh "saja mendengar jawaban anaknya.
"Kalau begitu kamu antarkan makanan ini ke kamar Irfan , dia dari tadi pagi belum makan " ujar Nina. Ara mengerucutkan bibirnya kebawah.
"Kenapa harus aku? Aku mau pergi Mah, lihat aku juga sudah pakai kebaya " ujar Ara memutar tubuhnya di depan Nina agar melihatnya.
"Bibi pergi membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis, Mamah juga harus pergi karna sudah di tunggu teman-teman Mamah " ujar Nina memberikan nampan berisi makanan kesukaan Irfan dan segelas air putih.Gadis itu dengan terpaksa mengambil nampan tersebut dengan wajah yang cemberut .
Ara langsung masuk ke kamar Irfan tanpa mengetuk pintu. Dia kaget melihat pria itu terkapar di lantai dengan beling kaca bekas botol alkohol yang di lemparkan Irfan ke tembok kini berserakan di lantai. Gadis itu meletakkan nampan di meja dan berjalan mendekati Irfan.
"Bau alkohol" ujar Ara sambil menutup hidungnya dengan tangan. Gadis itu dengan susah payah memapah tubuh besar Irfan ke kasur .
Huekkk
Irfan memuntahkan cairan bening dan mengenai bajunya.
"Benar-benar menyusahkan orang lain" gerutu Ara sambil tangannya melepaskan kancing baju pria itu satu persatu.
"Fira" lirih Irfan perlahan membuka matanya dan menatap Ara yang melap bibirnya dengan tissue. Tangan pria itu menarik tangan Ara secara tiba-tiba membuat gadis itu terpekik kaget.
"Lepasin aku kak!! " pekik Ara ketika berada dalam pelukan Irfan yang memeluknya erat.
"Fira aku mencintai kamu, aku akan menjadikan kamu milik aku " ujar Irfan yang melihat Ara seperti melihat Fira karna pengaruh alkohol tersebut.
Pria tersebut mengubah posisinya menjadi menidih tubuh mungil Ara yang kini di bawah kungkungannya.
__ADS_1
"Sadar kak!! Aku bukan Fira!! Mamah, Azka tolong emmmmm" teriak Ara tapi kini bibirnya di sumpal dengan bibir Irfan yang semakin liar dan tidak bisa berpikir jernih karna pengaruh minuman sialan itu. Irfan hanya tau wanita yang dalam kungkungannya ini adalah Fira.
Bersambung....