
Devia memeluk Devan dan beralih memeluk Dinda. Gadis itu melepaskan pelukannya pada mamahnya. Devan mengusap pipi chubby putrinya dan mencium kening Devia.
"Mamah sama papah gak mau nginap disini aja. Devia masih kangen sama kalian " ujar Devia dengan wajah yang cemberut. Devan tersenyum dan mencubit pipi Devia gemas.
"Gak bisa nak , besok papah harus kerja ke kantor, . Abang Dafa juga kuliah gak bisa nginap disini.Kapan-kapan ya, sayang kita nginap disini " ujar Devan.Devia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Jangan sedih kaya gitu mukanya, jelek " celetuk Dafa. Pria itu memeluk adiknya dan mencium kening Devia lembut. Dafa menangkup wajah adiknya dan mencium pipi gadis itu bergantian.
"Kita pulang dulu ya, Skala titip Devia. Kalau dia nakal marahin aja, soalnya anaknya bandel " ujar Dinda terkekeh pelan.
"Mamah apaan, Devia bukan anak kecil lagi" sahut Devia, dengan wajah yang merengut kesal.
"Sudah-sudah nak,mamah kamu cuma bercanda , sekarang kami pulang dulu ya " ujar Devan. Ketiga orang itu masuk kedalam mobil yang di kendaraai oleh Dafa. Mobil hitam tersebut berjalan meninggalkan pekarangan rumah Skala. Devia melambaikan tangannya pada mobil yang sudah mulai menjauh tersebut.
Wajah Devia seketika murung melihat orang tua dan abang tidak ada lagi. Skala mendekati istrinya dan memeluknya , mengusap punggung Devia lembut.
"Jangan sedih, nanti mamah sama papah kesini lagi atau kita yang kerumah mereka nanti" ujar Skala menundukkan kepalanya karna istrinya hanya tinggi sedadanya. Devia mendongakkan kepalanya menatap suaminya dan menganggukkan kepalanya dengan mengerucut bibirnya.
__ADS_1
Cup
Pria itu mengecup bibir Devia disingkat membuat gadis memalingkan wajahnya karna malu. Bisa-bisanya dia salah tingkah dicium suaminya. Pipi Devia memerah seperti kepiting rebus karna tersipu malu.
"Aduh, pipinya kenapa merah hmm? Mau lagi "goda Skala .
" Apaan sih, lepas, aku mau tidur ngantuk "ujar Devia mencari alasan agar Skala tidak menggodanya terus. Pria itu melepaskan pelukannya, dan membiarkan istrinya pergi ke kamar sendiri. Skala menutup pintu luar dan menguncinya.
Dia berjalan ke arah dapur untuk membuatkan susu untuk Devia. Skala mengambil cangkir dan memasukkan dua sendok susu bubuk dan menuangkan air hangat setengah gelas, kemudian mengaduknya. Setelah selesai membuat susunya,Skala berjalan menuju kamar dengan membawa segelas susu ibu hamil.
" Minum dulu susunya, sayang"ujar Skala meletakkan gelas tersebut di meja. Devia menghentikan memainkan ponselnya dan bangun dari tempat tidurnya di bantu oleh Skala. Pria itu meletakkan bantal di belakang istrinya agar tidak sakit pinggangnya saat bersandar.
"Minum dulu susunya, baru tidur. Supaya kamu dan anak kita sehat terus " ujar Skala memberikan segelas susu pada istrinya.Devia meminum susu yang di buatkan Skala hingga habis.
"Ini gelasnya, sudah habis aku minumnya" ujar Devia memberikan gelas kosong itu pada suaminya.Skala mengambil gelas tersebut dan meletakkannya di meja, dia juga mengusap bibir istrinya lembut karna masih ada sisa bekas susu di bibir istrinya.Devia kembali memainkan ponselnya tapi di rebut oleh Skala .
"Kenapa ponsel aku di ambil?Aku masih mau main " ujar Devia meraih ponselnya di tangan suaminya tapi tak sampai karna Skala mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Gak boleh main ponsel sudah malam, sekarang tidur " ujar Skala memasukkan ponsel Devia dalam kantong celananya. Devia dengan wajah kesal membaringkan tubuhnya dengan mulut yang tak hentinya komat-kamit karna kesal dan juga marah pada suaminya. Dia baru megang ponselnya, tapi sudah di ambil lagi. Skala hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkat istrinya. Pria itu naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya. Tangannya memeluk erat tubuh Devia tapi langsung di dorong gadis tersebut.
"Jangan peluk-peluk! " ketus Devia. Skala hanya bisa menghela napas panjang, kalau sudah seperti ini dia tidak bisa memaksa istrinya untuk di peluk. Skala membalikkan tubuhnya dan tidur membelakangi Devia.
Gadis itu merasa tidak ada pergerakan di sebelahnya membalik tubuhnya perlahan, dan melihat suaminya sudah tidur dengan membelakanginya.
"Seharusnya istri lagi marah itu di rayu supaya gak marah lagi tapi malah di tinggal tidur. " ujar Devia. Matanya menatap kearah langit-langit kamar, dia menutup matanya tapi tidak bisa. Biasanya Skala selalu mengusap perutnya baru dia bisa tidur. Devia menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh minta peluk suaminya, dia sedang mode marah dengan Skala seharusnya pria tersebut yang lebih dulu membujuk dan merayunya agar meminta maaf.
Devia membalik tubuhnya ke kanan dan terkadang ke kiri, dia benar-benar tidak bisa tidur. Gadis itu bangun dari tidurnya dan menatap suaminya tertidur nyenyak. Devia menggoyang lengan suaminya pelan membuat Skala perlahan membuka matanya. Dia membalik tubuhnya dan menatap istrinya.
"Kenapa? " tanya Skala dengan wajah yang terlihat mengantuk .
"Emm, mau di peluk, gak bisa tidur kalau gak di peluk kamu " cicit Devia.
"Sini aku peluk " ujar Skala. Devia membaringkan tubuhnya di dekat suaminya. Skala langsung menarik Devia dalam pelukannya dan mengusap kepala istrinya dan mencium kening Devia. Gadis tersebut makin merapatkan tubuhnya dengan Skala dan tangan mungilnya memeluk pinggang suaminya. Skala terus mengusap kepala Devia sampai istrinya benar-benar tidur.
Bersambung...
__ADS_1