
Dafa dan Fira menikmati makan malam mereka dengan Elang yang lahap memakan nasi goreng seafoodnya. Suasana di ruang makan itu hening hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu. Karna saat makan tidak ada boleh yang berbicara kecuali penting, karna itu merupakan adab saat makan. Elang turun dari kursinya setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Ayah, bunda. Elang mau ke kamar duluan ya" ujar membuat Dafa dan Fira menatap kearah putra mereka.
"Iya, tapi sebelum tidur cuci kaki , cuci tangan ,terus gosok gigi" ujar Dafa tersenyum pada putranya.
"Iya, ayah " sahut Elang.Anak itu akan pergi tapi langkahnya terhenti ketika Dafa memanggilnya.
"Cium dulu sebelum tidur" ujar Dafa menunjuk pipi kanannya. Elang mendekati ayahnya dan mengecup pipi Dafa hingga berbunyi suara kecupan dari anak laki-laki tersebut.
"Cium bunda juga, sayang. Masa cuma ayah aja " ujar Fira. Elang mendekati bundanya dan mencium sekilas pipi Fira. Wanita itu juga memeluk dan mencium kedua pipinya Elang secara bergantian.
"Elang ke kamar dulu ya " ujar Elang berlari menuju kamarnya. Anak itu sudah tidak sabar memainkan mobilannya dan juga robot-roboton mainannya yang baru di belikan Dafa.
__ADS_1
"Jangan lari-lari El!Nanti kamu jatuh ! " teriak Fira tapi Elang tidak menghiraukan teguran bundanya , dia tetap berlari menaiki tangga karna ingin segera bermain dengan mainannya.
"Dasar anak itu, di tegur selalu tidak mau mendengarkan orang tua . Padahal aku takut dia jatuh " gerutu Fira dengan celotehannya hingga tidak sadar Dafa memperhatikan dirinya. Pria itu tersenyum melihat tingkah istrinya. Dafa sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya walau harus banyak lika-liku dan masalah yang harus dia lewati untuk bisa mendapatkan kebahagiaan ini.
Mata Dafa terfokuskan pada cincin yang melingkar di jari manis Fira. Dia merasa familiar dengan cincin yang di pakai istri ini .
"Kamu baru beli cincinnya? " tanya Dafa membuat Fira yang mengumpulkan piring kotor untuk di bawa ke dapur menoleh kearah Dafa.
"Ini aku dapat di meja rias, ini bukannya buat aku " ujar Fira. Dafa terdiam sejenak, sedetik kemudian dia mengangguk dan tersenyum tipis. Sebenarnya cincin itu untuk Dinda, Mamahnya karna sebentar lagi wanita yang telah melahirkannya itu akan berulang tahun satu minggu lagi. Tapi bila Fira menyukai cicin tersebut dia tidak masalah , dia bisa membeli lagi. Karna bila dia mengatakan cincin itu untuk Mamahnya pasti akan membuat Fira malu dan juga tidak enak hati, dia harus belajar menjaga hati sang istri agar tidak tersinggung dengan ucapan maupun dengan perkataannya.
"Kamu mau kemana? " tanya Dafa ketika Fira akan membawa piring kotor ke dapur untuk mencuci piring tersebut.
"Aku mau cuci piring, siapa lagi yang melakukan ini semua selain aku 'kan sekarang aku menjadi ibu rumah tangga dan juga seorang istri" ujar Fira .
__ADS_1
"Sini " ujar Dafa mengerakkan tangannya agar Fira mendekat kearahnya. Wanita itu meletakkan piring kotor dan mendekati Dafa. Pria itu menarik tangan istrinya membuat Fira memekik kaget ketika jatuh di pangkuan suaminya.
"Kamu tidak usah mencuci piring, besok ada asisten rumah tangga yang akan bekerja di sini. Jadi kamu jangan melakukan apapun termasuk urusan dapur nanti kamu kenapa-kenapa. Tugas kamu cuma melayani aku " ujar tersenyum mesum pada Fira.
"Aww! Sakit sayang " Dafa meringis ketika Fira mencubit pinggangnya.
"Kamu mesum banget sih! Lagi pula aku melakukan pekerjaan dapur bukan mau perang" ujar Fira menatao wajah Dafa mulai mendekat.
"Aku mau turun, lepasin tangan kamu di pinggang aku " ujar Fira.
"Tidak, lebih baik kamu melakukan kewajiban kamu sebagai istri. Boleh aku minta hak aku sekarang" ujar Dafa meminta izin dengan wajah yang penuh harap dan suara yang serak membuat Fira merinding mendengarnya.
Bersambung....
__ADS_1