
Semua orang yang ada di ruang tamu sibuk mengobrol dan bersenda gurau karna sangat jarang sekali keluar besar Skala dan Devia berkumpul seperti ini. Fira dan Devia datang dengan membawa minuman dan juga cemilan seperti kue basah maupun kue kering , mereka berdua meletakkan mimuman dan kue tersebut di meja.
Fira duduk di sebelah Dafa dan Devia duduk di sebelah Devan. Sakha memperhatikan Fira, dia baru pertama kali melihat istri Dafa karna saat pernikahan pria itu dia tidak datang karna ada urusan mendadak.Devan yang melihat arah tatapan Sakha tersenyum.
"Dia Fira, istri Dafa. Kemaren kamu tidak datang'kan ke pernikahan Dafa. Dan tidak tau bagaimana rupa istri putraku, lihat Fira ,dia sangat cantik'kan " puji Devan pada menantunya. Fira yang di puji seperti itu menundukkan kepala, dia malu namun tidak bisa menyembunyikan senyuman yang masih bisa di lihat semua orang.
Dafa makin mengeratkan rengkuhannya di pinggang ramping Fira, dia menyembunyikan wajah istrinya di pelukannya. Bagaimana pun dia akan tetap cemburu walau yang menatap istrinya itu adalah Sakha ataupun ayahnya sendiri . Hanya dia yang boleh menatap dan menikmati keindahan paras cantik istrinya.
Semua orang menatap kearah Dafa dan Fira mereka menahan tawa melihat kecemburuan Dafa pada Fira. Pria ini memang memiliki sifat yang berbeda.
"Jangan di bekab kaya gitu kak Firanya nanti gak bisa nafas " goda Devia sambil tertawa kecil. Dafa langsung melepaskan pelukannya pada Fira yang terlihat menghirup udara dalam karna Dafa terlalu erat memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
"Jangan cemburu berlebihan seperti itu Dafa, om Sakha tidak mungkin merebut Fira dari kamu dia sudah ada pawangnya " ujar Dinda melirik kearah Lea yang tersenyum menanggapi ucapan besannya itu.
"Iya nih Dafa, padahal om Sakha cuma mau lihat seperti apa wajah istri kamu. Dan kamu tidak salah pilih ya Fira sangat cantik " ujar Lea dan lagi-lagi pujian itu membuat Fira tersipu malu-malu.
Dafa menatap sinis pada istrinya. Fira tidak pernah tersenyum seperti itu ketika dia memuji wanita tersebut. Fira yang tak sengaja melihat tatapan sinis suaminya segera menampilkan wajah biasa saja, dia tau saat ini suaminya sedang merajuk.
__ADS_1
"Oma!! " teriak Elang menuruni anak tangga .Semua perhatian orang-orang mengarah pada Elang yang berlari kearah Dinda setelah menuruni anak tangga.
"Jangan lari-lari seperti itu sayang, nanti jatuh " tegur Dinda dengan lembut.
"Ganteng banget kamu, nak. Bisa-bisa ngalahin ke gantengan cucu nenek " ujar Lea mencubit pipi Elang dengan gemas.
"Elang memang ganteng, kan mirip kaya ayah " sahut Elang membuat Lea semakin gemas dengan anak laki-laki ini.
"Tadi manggil oma, kenapa sayang? " tanya Dinda.
"Oma, Elang mau gelang yang dipakai Bian. Katanya gelang itu oma yang kasih, jadi Elang mau gelang juga " pintaElang. Dinda mengkerutkan dahinya, dia terdiam sejenak, sedetik kemudian dia baru ingat.
"Elang kenapa tiba-tiba langsung ke lantai atas lagi? " gumam Dinda.Tapi mereka semua kembali melanjutkan obrolan mereka, Dinda mengira Elang ingin bermain lagi dengan Albian.
Fira agak aneh melihat perubahan raut wajah anaknya . Tapi dia tidak mau ambil pusing, dalam fikirannya mungkin Elang kecewa karna tidak mendapat apa yang dia mau.
******
__ADS_1
"Papah mamah, lihat tangan aku melah gala-gala di cubit Elang hiks... gelang aku di ambil Elang, pah " adu Albian pada Elang yang dengan santai menuruni anak tangga tanpa ada raut wajah yang terlihat bersalah.
Dafa mendekati Elang dan berjongkok di depan putranya menyesuaikan tinggi tubuh Elang.
"Kenapa gelang Albian di ambil, nak? Kita bisa beli, tidak usah mengambil punya orang lain. Ayo kembalikan gelangnya pada Albian " bujuk Dafa dengan lembut. Elang menggelengkan kepalanya dengan cepat menolak perintah ayahnya.
"Gelang ini punya aku bukan punya Albian. Dia penculi kalna ambil gelang membelian Dea buat aku. Gelang ini punya aku bukan punya Albian, ayah! " sahut Elang dengan nada suara yang meninggi. Semua orang tercengang dengan sikap Elang yang menjadi tidak penurut seperti biasanya. Apalagi anak ini tidak pernah meninggikan suaranya di depan Dafa.
"Kamu kenapa jadi gak nurut sama ayah?Ini cuma gelang, Elang . Kita tinggal beli!!" ujar Dafa dengan nada suara yang juga meninggi. Elang tersentak mendengar suara ayahnya yang seperti membentaknya.
"Ayah gak tau, gelang ini dali Dea sahabat, Elang. Ayah jahat malahin Elang buat bela Bian, yang salah itu Bian bukan Elang! " teriak Elang di hadapan Dafa dengan kristal bening yang membasahi pipi chubby nya.
Elang berlari kearah Fira dan langsung memeluk bundanya yang menggendongnya. Elang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fira.Wanita itu menggelengkan kepalanya atas tindakan suaminya, Elang paling tidak bisa di bentak atau memarahinya dengan suara yang meninggi.
"Seharusnya kamu tidak seperti itu menasehati anak kecil. Dia memang salah tapi bukan berarti kamu memarahinya dengan cara membentak. Bukannya menurut Elang makin takut dengan sikap kamu seperti itu, Dafa. Nasehati dia dengan kelembutan dan dengan perlahan menjelaskan kesalahannya. Dan yang salah itu Albian bukan Elang" ujar Skala pada Dafa. Albian menenggelamkan kepalanya di leher Skala walau anaknya salah bukan berarti Skala akan memarahi anaknya.
"Sayang jangan seperti itu lagi ya . Kalau gelang itu milik orang lain jangan di ambil nanti Allah marah . Allah tidak suka Albian mengambil barang yang bukan hak Albian ya, nak .Paham? " nasehat Skala dengan lembut.Mengusap punggung Albian dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Iya papah, maafin Bian" jawab Albian makin mengeratkan pelukannya pada leher Skala. Dafa merasa bersalah pada Elang, apalagi dia mendengar suara isakan tangisan putranya.
Bersambung....