
Airmata Tania masih belum luntur menggenangi wajah ayunya.
"Aku bukan ******. Aku bukan pelakor." gumamnya lirih seraya menutup kedua telinganya. Entah mengapa kata-kata orang julid itu seolah terus saja terngiang di telinganya.
Zayyan begitu iba menyaksikan kondisi Tania sekarang. Ia yakin jiwa Tania cukup terguncang atas kejadian tadi. Ada sesuatu yang seakan mencubit sebongkah daging yang disebut hati melihat wanita yang ia sayangi terluka seperti ini.
Untung saja Tania tadi akhirnya mau diantar pulang olehnya. Sewaktu keluar dari gedung ia mendapati perempuan itu berjalan dipinggir trotoar tanpa mengenakan alas kaki.
Ia menghentikan laju mobilnya sesaat, mencoba menenangkan Tania kembali.
"Udah, Neng. Kakak mohon jangan menangis lagi. Aku tahu kamu gadis baik-baik, tidak seperti yang mereka tuduhkan. Mereka hanya termakan fitnah yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kakak janji, kakak pasti bantu buat ngungkap kebenarannya." bujuk Zayyan lembut.
Wanita itu menggeleng lemah, tatapannya kosong. Sulit rasanya menerima semua itu, apalagi kondisinya yang hamil tua ditambah moodnya yang labil membuatnya lebih mudah terbawa perasaan.
"Kak Zay, aku mau pulang ke rumah ibu. Aku tidak mau dikota lagi." pintanya lemah. Ia rasa kehidupan di kota terlalu keras dan tidak cocok untuknya. Lebih baik hidup di kampung, meski sederhana tetapi ia mampu mendapatkan ketenangan disana.
Zayyan sedikit ragu, ia takut atasannya akan marah jika ia membawa Tania begitu saja. Meski dalam benak ingin melindungi, tetapi ada daya, Tania berstatus istri orang dan dia tak ingin mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya hubungi suami kamu dulu, neng? Dia pasti juga khawatir padamu sekarang." Zayyan dengar ponsel Tania berkali-kali berbunyi dan perempuan itu justru mematikannya tadi.
Hati Tania masih ngilu mengingat Kendra yang mengenalkan Zaskia pada rekan kerjanya. Apalagi, rekan kerja suaminya begitu kagum saat tahu istri Kendra adalah seorang diva terkenal. Mungkin akan lain ceritanya jika pria itu tadi membawanya. Apalah dirinya, hanya gadis kampung miskin dan tak memiliki keistimewaan apapun. Sungguh bagai bumi dan langit menurutnya jika dibandingkan dengan Zaskia.
"Kalau Kak Zayyan tidak mau, tolong turunkan aku disini saja. Aku akan pulang naik bus saja. " perempuan itu mendorong pintu ingin keluar.
Zayyan jadi dilema dan cemas melihatnya, " Udah dong neng. Jangan gitu. Kita selesaikan ini baik-baik ya?" bujuknya kembali tetapi tak digubris sama sekali.
"Kak Zayyan turunkan aku!" kini ia mengguncang kursi kemudi Zayyan lantaran kesal.
Zayyan tambah pusing jadinya, tetapi melihat Tania seperti ini membuatnya takut jikalau Tania malah depresi nanti.
Kini ponsel Zayyan yang berbunyi, tertera nama Boz sebagai id callernya. Tania melirik curiga sebab pria itu tampak ragu untuk mengangkatnya.
"Jangan diangkat kak, aku mohon. Tania lelah, Tania ingin hidup tenang. Disini Tania hanya akan menjadi benalu. Sejak awal Tania hanyalah seseorang yang tidak diharapkan dan sudah semestinya Tania pergi." Akhirnya perempuan itu mau bicara cukup panjang meski bahasanya cukup menyesakkan dada.
Netra Zayyan menyorotkan kemarahan, pria itu mengeratkan pegangan stir untuk membendung amarahnya. Pria itu memilih menuruti keinginan Tania, sejujurnya iapun tak terima Tania dibuat terluka seperti ini.
__ADS_1
***
Kendra begitu frustasi, perasaannya sungguh tidak enak saat ini. Sudah puluhan kali Kendra menghubungi Tania, tetapi sama sekali tidak diangkat bahkan perempuan itu malah menonaktifkan ponselnya.
Iapun berusaha menghubungi Zayyan, hasilnya sama saja. Pria itu tak mau mengangkat panggilan darinya.
" Aarrghhh!"
Pria itu memukul kencang stir kemudi karena kesal, membuat Hesti yang berada dibangku belakang sampai terlonjak kaget kerenanya. Wanita itu tidak berani untuk bertanya, ia mengerti keadaan keluarga Kendra sekarang. Wanita itupun masih menangis sembari memangku Zaskia yang belum sadarkan diri hingga sekarang. Tubuh Zaskia terasa dingin membuat Hesti semakin cemas karenanya.
Ingin sekali Kendrapun menangis, pria itu berusaha menahan airmatanya agar jangan sampai tertumpah begitu saja. Dia harus kuat dan tenang menyingkapi semua ini, meskipun hatinya dilanda badai yang luar biasa.
Kendra akan membawa Zaskia ke rumah sakit terlebih dahulu. Setelah itu, dia harus mencari keberadaan Tania, berharap istri kecilnya sudah berada dirumahnya sekarang.
Awalnya ia sedikit tenang melihat Zayyan melindungi istrinya tadi, makanya ia memilih mengejar Dafa.
Akan tetapi, melihat Tania dan Zayyan sama sekali tak mau mengangkat panggilannya. Hatinya merasa gelisah dan was-was, berusaha berpikir positif untuk menekan pikiran buruk yang bersliweran dikepalanya.
__ADS_1
Bersambung..