
Kendra membawa Zaskia menuju kamar mereka. Meski raganya bersama Zaskia, tetapi sang hati justru memikirkan nan berada di bawah sana. Sekelebat bayangan Tania yang membuang pandangan darinya membuat batin pria itu seakan terketuk.
"Ken? Kau baik-baik saja, honey?"
Ucapan Zaskia berhasil membuyarkan angan-angan pria dua puluh delapan tahun tersebut. Ia hampir lupa tengah bersama istri pertamanya.
Wanita itu mulai merangkak ke atas ranjang. Sekujur tubuhnya tetap saja terasa remuk redam, tetapi ia sudah bosan berada dirumah sakit terus menerus.
"Ah ya, tentu saja aku baik. Aku hanya kepikiran dengan beberapa pekerjaanku dikantor yang masih belum terselesaikan." ucapnya setengah berbohong, mana mungkin dirinya mengatakan bahwa saat ini ia memikirkan Tania.
Sungguh hatinyapun sebenarnya rindu. Akan tetapi karena pembukaan hotel barunya yang tinggal 2 minggu lagi dengan beberapa hal yang belum terselesaikan membuat pria itu harus bekerja lebih keras lagi. Belum lagi mencari dokter terbaik untuk kesembuhan Zaskia. Terlepas dari rasa kecewanya, ia bertanggung jawab penuh atas kesembuhan istri pertamanya.
"Baby, istirahatlah terlebih dahulu. Nanti aku akan membangunkanmu menjelang magrib. Kau harus makan dan meminum obatmu setelah itu." pinta lelaki itu sembari mengusap puncak kepala dan menjatuhkan satu kecupan sayang disana.
"Kau mau menemui Tania?" tanya wanita itu menatap lekat pada sang suami.
"Apa tak masalah aku meninggalkanmu sementara?" pria itu sungguh cemas, ia tahu kondisi Zaskia. Ia takut wanita itu membutuhkan bantuannya.
Wanita itu mengulas senyumnya, "Tentu saja tidak, Mas. Tania juga istrimu, diapun butuh perhatianmu. Aku minta maaf, karena penyakitku kamu jadi lebih sering mengurusku."
"Tidak masalah. Aku akan coba menjelaskan padanya nanti, sekarang tidurlah." jawab Kendra mengelus lembut surai wanitanya.
Hampir setengah jam menunggu, wanita itu sudah terlelap. Kendra segera berdiri, hatinya gelisah ingin segera berjumpa dengan istri kecilnya. Iapun beranjak meninggalkan kamar tersebut, meninggalkan wanita yang sebenarnya masih terjaga.
Zaskia hanya berpura-pura memejamkan matanya, jangankan untuk tidur. Hanya rasa nyeri yang menghinggapi tubuhnya yang lemah saat ini. Perempuan itu kembali berkubang airmata, mungkinkah memang nyawanya sudah tak lama lagi?
***
Kendra terlampau bersemangat untuk bertemu Tania dan calon buah hatinya tentu saja. Pria itu sengaja melewati tangga, mencari keberadaan sang istri yang mungkin tengah bercengkrama di dapur bersama dua ART sepuh dirumahnya. Namun, sang istri ternyata tidak berada disana.
__ADS_1
Pria itu melipir ke kamar Tania, seperti biasa kamarnya tidak dikunci. Akan tetapi, sayang tak nampak penghuninya disana.
Kendra mulai cemas, ia kembali ke dapur dan menanyakan keberadaan Tania pada Bi Marni.
"Tadi pamitnya mau ke kamar, Tuan. Katanya lagi kurang enak badan, saya tidak tahu kalau Non Tania keluar."
"Ya sudah. Makasih Bi. Aku coba mencarinya lagi."
Pria itu mengelilingi seluruh isi rumah, mungkin sedang bebersih atau apa. Perempuan itu masih kekeuh ingin mengerjakan pekerjaan seperti biasanya daripada ongkang-ongkang kaki. Namun, seluruh rumah sudah diobok-obok tak jua ketemu dengan sosok yang dicari.
Kendra beranjak keluar, ia mencoba mencari ditaman barang kali istri kecilnya berada disana. Pucuk dicinta ulampun tiba, ia menemukan sosok Tania tengah duduk di ayunan seorang diri sembari menyandarkan kepalanya pada tali ayunan.
Pria itu perlahan mendekat, posisi Tania yang memunggunginya membuat perempuan itu belum sadar akan kehadiran sang suami.
Cup..
Sebuah kecupan dipuncak kepala nyatanya membuat perempuan itu gelagapan di tengah lamunannya. Buru-buru ia menghapus airmata yang tanpa izin meluncur begitu saja dari kedua pelupuk mata.
Kendra menilik penuh selidik kedua netra istrinya yang nampak sembab. "Kau menangis?" tanyanya datar. Ia tak suka melihat istrinya bersedih.
Pria itupun memutuskan duduk diayunan sebelahnya, lalu menangkup kedua pipi Tania yang mulai tembem. Netranya mengunci kedua netra sang istri hingga perempuan itu lebih memilih memalingkan wajahnya.
"Tidak. Untuk apa aku menangis? Tidak ada alasan bagiku harus menangis. Ini mungkin hanya kelilipan saja." ucapnya ketus, ia menurunkan kedua tangan Kendra yang bertengger disisi wajahnya.
"Oh kelilipan? Sini mana kutiup." Kendra berniat membantu, tetapi lagi-lagi sang istri menampiknya. Perempuan itu sungguh tidak bisa menyembunyikan perasaannya, terlihat dari bibirnya yang manyun seolah ingin dilahap habis-habisan saat ini juga dimata Kendra.
" Sayang? Apa kau sedang marah padaku? Aku tidak suka melihat wajah jutekmu itu. Aku rindu.." godanya mulai menggombal ditambah lirikan mautnya.
"Rindu tapi cuek. Rindu tapi tak pernah mengunjungiku. Ku pikir sudah lupa malahan." tak suka menutupi perasaannya, ia lebih lega jika mengeluarkan seluruh uneg-unegnya.
__ADS_1
Kendra terkekeh geli melihat kekesalan sang istri yang justru terlihat imut dimatanya.
" Ish..malah tertawa lagi. Sudah, sudah aku mau pergi saja. Dasar suami tidak peka." protesnya beranjak hendak berdiri, tetapi dengan sigap pria itu menarik dan mengurung dalam pangkuannya.
"Aku minta maaf. Akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk untuk pembangunan hotel dan apartemen baruku. Rencananya aku mau kamu menemaniku saat pembukaan nanti. Saat ini Zaskia juga sangat butuh aku untuk berada disampingnya. Kamu tahu kan kondisinya sangat lemah?" tutur lelaki itu lembut, tatapannya menunjukkan kejujuran dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
" Iya, aku tahu. Paling tidak Aa bisa sempatkan untuk menemuiku barang lima menit saja untuk pengobat rindu. Sudah tiga hari Aa tidak pulang dan katanya bermalam di rumah sakit. Tadi pas ketemu, Aa juga cuek nggak menyapaku." hatinya tercubit kembali mengingat kejadian tadi.
"Maaf, tadi aku ingin menemuimu, tapi Kia bilang kepalanya pusing dan ingin cepat istirahat. Aku terpaksa membawanya ke kamar dulu. Aku cemas tak menemukanmu disetiap sudut rumah tadi."
"Aku sangat-sangat merindukanmu istri kecilku yang manja." ungkapnya dengan gemas.
Seketika kedua pipi Tania merona, biarlah ia dianggap gampangan. Akan tetapi, berada dalam dekapan sang suami benar-benar memberikan kenyamanan tersendiri baginya. Rasa kesal yang menyumpal seakan gugur setelah mendapatkan penawarnya.
" Aku rindu..rindu..bahkan sangat rindu padamu calon ayah untuk anakku." jawabnya tanpa canggung.
Kendra semakin gemas saja, sudah tahan rasanya pria itu melahap bibir ranum yang sejak tadi mendayu ingin disambut.
Pria itu langsung menyambar bibir manis dan kenyal yang sudah begitu ia rindukan. Melu**t setiap inci dan menyapu merasakan sensasi basah akibat pertukaran saliva mereka.
Taniapun ikut terbawa, apalagi dirinyapun tengah dirundung rindu. Kendra benar-benar menjadi oase di padang tandus baginya. Keduanya melakukan penyatuan bibir begitu lama hingga mengikis oksigen yang memenuhi paru-paru mereka.
Hah..hah..hah..
Keduanya tertawa setelah tersengal akibat kehabisan udara. Kendra menyambar bibir itu kembali. Keduanya bertaut semakin panas, pria itu kini beralih menyesap tengkuk leher sang istri dengan tangan yang mulai nakal menggerayangi bagian tubuh yang tertutup oleh atasan sang istri.
"Jangan disini. Takut ada yang liat." cegah perempuan itu malu-malu, padahal diapun sangat menyukainya.
"Baiklah, kita langsung ke kamar saja." goda pria itu dengan kerlingan menggoda.
__ADS_1
Bersambung..