
Setelah melakukan perjalanan hampir 12 jam, Tania akhirnya tiba disalah satu stasiun di kota Surabaya.
"Bu, mari turun kita sudah sampai." perempuan itu membangunkan ibu beserta adik-adiknya.
Alhamdulillah semua sehat dan selamat dalam perjalanan mengingat ini pertama kalinya mereka melakukan perjalanan jauh. Bahkan adik-adiknya cukup antusias dan bersemangat selama dalam perjalanan.
Haya Tania saja yang lebih banyak terjaga. Jujur saja pikirannya masih terpaku pada seseorang nan jauh disana. Sekelebat bayang-bayang sang suami hadir hingga bulir bening kembali menggenangi kedua pulupuk matanya. Ada rasa rindu, tetapi rasa kesal dan kecewa lebih mendominasi perasaannya.
"Semoga kamu bahagia bersama Kak Zaskia setelah ini, Aa."
Bagaimanapun Kendra adalah lelaki pertama yang mengenalkannya pada cinta, lelaki pertama yang berhasil merebut debaran dihatinya dan lelaki yang telah meninggalkan jejak kasih sayangnya dalam rahim Tania.
Sesaat perempuan itu merasa jika dirinya terlalu berlebihan dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, mengingat cibiran orang-orang yang membandingkan dirinya dengan Zaskia, membuatnya rendah diri untuk bertahan disisi Kendra. Risalah jiwa ingin tetap tegar apalah daya sang hati tetapkan rapuh jua.
Tania segera mengusap airmatanya saat ibu dan adik-adiknya terbangun. Merekapun turun dari kereta, wajah Bu Minah nampak sumringah melihat seorang pria dan wanita berjilbab yang melambaikan tangan pada mereka.
"Itu Om Herman dan Tante Wati. Ayo cepat kita temui mereka." seru Bu Minah pada anak-anaknya.
Merekapun bertemu sapa, saling menyalami satu sama lain.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalian sudah sampai dengan selamat. Bagaimana kabarnya, Teh? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Anak-anak sudah besar ya dan ini Tania bahkan sudah mau punya anak kayaknya." sapa Om Herman ramah. Lelaki paruh baya itu tidak menyinggung soal suami, Bu Minah sudah sempat menceritakan sedikit banyak yang dialami Tania.
"Alhamdulillah kabar kami semua baik. Iya, kandungan putriku sudah masuk 7bulan. Minta do'anya saja semoga nanti persalinannya lancar." Bu Minah menyunggingkan senyumnya.
"Ya sudah. Dari pada lama-lama disini lebih baik kita segera menuju gubukku saja. Anak-anak sudah menunggu dirumah."
Mereka menuju sebuah kijang tua, tetapi masih terlihat begitu terawat. Tania senang melihat pembawaan Om Herman dan istrinya yang tenang tapi tetap bersahaja.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba disebuah rumah sederhana dengan banyak tanaman hijau dan bunga disekitarnya. Rumah itu nampak nyaman dan asri, dibagian depan terdapat mushola kecil yang biasa digunakan Om Herman dan istrinya mengajar ngaji.
Saat akan memasuki rumah, mereka disambut ketiga anak Om Herman.
alau Zahra ini masih sepantaran Tania. Dulu kalian suka main bareng waktu kecil sewaktu Om berkunjung ke Tasik. Zahra sekarang masih kuliah di salah satu fakultas islam disini."
Tania dan Zahra saling bertegur sapa. Tania sedikit minder melihat gadis itu, mereka seumuran tetapi Zahra terlihat berpendidikan dan anggun mengenakan hijab yang menutup sebagian dada. Sedangkan dirinya saja sudah berbadan dua, belum pernah terpikir untuk menutup auratnya.
" Tania, sementara kamu sekamar dengan Zahra tidak apa-apa kan? Nanti ibu dan adik-adikmu bisa menempati dua kamar tamu. Maaf rumah Om sempit barangkali kurang nyaman."
" Gak pa-pa Om. Justru Tania yang tidak enak hati sudah merepotkan Om sekeluarga. Tania, ibu dan adik-adik senang sekali bisa diterima dengan baik disini. Tempat ini lebih dari nyaman untuk kami." jawab Tania apa adanya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Zahra tolong kau bawa Tania ke kamarmu. Biar Bibi dan sepupumu ibu yang antar." pinta Bu Wati.
"Baik Bu. Tania ayo aku antar ke kamar." ajak Zahra antusias.
Taniapun mengekori Zahra, mereka memasuki sebuah bilik sederhana dengan barang-barang yang tertata begitu rapih disana.
"Maaf kamarku kecil, semoga kamu nyaman disini. Oh ya, sebentar lagi aku akan berangkat ke kampus, kamu istirahat dulu ya? Jika butuh apa-apa ada ibu dan adik-adikku dirumah. " jelas Zahra ramah.
"Iya, makasih banyak. Maaf jadi merepotkan. Tempat tidurmu jadi sempit malahan sekarang." gurau Tania.
"Nggak lah. Aku jadi malah seneng ada teman ngobrol di kamar. Ya sudah aku berangkat sekarang. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam."
Tania menatap sekeliling, cukup nyaman dan bersih menurutnya.
" Ya Rabb..Semoga aku menemukan ketenangan dan kedamaian disini."
Bersambung..
__ADS_1