
"Aa mau langsung pergi?"
Semburat kekecewaan terukir di wajah Tania ketika melihat sang suami hendak beranjak dari kamarnya. Mereka baru saja mandi bersama setelah melakukan ritual panas diranjang.
Biasanya lelaki itu akan memanjakannya, membantunya mengeringkan rambut bahkan memijatnya sembari menceritakan banyak hal. Dirinyapun merindukan hal-hal kecil seperti itu bersama Kendra.
Hatinya gampang perasa belakangan ini, ia seperti terabaikan oleh suaminya. Bahkan setelah beberapa hari tak bersua, pria itu hanya menyambanginya untuk berbagi peluh dan berniat pergi kembali sekarang.
Bukan tanpa alasan Kendra berniat beranjak, ia harus membangunkan Zaskia lantaran ini sudah masuk jam makan malam dan wanitanya harus minum obat. Pria itu bertanggung jawab penuh demi kesembuhan istri pertamanya. Mengingat kondisi Zaskia yang cukup riskan untuk ditinggal lama seorang diri.
Pria itu bergeming dan berbalik menghampiri istrinya kembali. Tak tega rasanya meninggalkan perempuan itu bersedih hati, tetapi keadaan tidak memungkinkan dirinya untuk berlama-lama disana.
"Sayang, aku mohon kau mengerti. Aa harus membangunkan Zaskia dan menyuruhnya makan serta meminum obatnya." terang Kendra sehalus mungkin.
Pria itu tadinya berniat menyewa perawat khusus untuk melayani Zaskia agar mendapat perawatan lebih intensiv. Namun apalah daya, lantaran wanita itu belum siap mengumbar penyakitnya dan tak ingin terlihat seperti orang sakit-sakitan dengan perawat yang menemani. Kendrapun tak ingin memaksa jika memang tidak nyaman.
"Memang sebenarnya Kak Zaskia sakit apa? Apa sakitnya parah? Kami sama-sama hamil dan butuh perhatianmu? Haruskan aku juga sakit supaya dapat perhatian lebih darimu?" rupanya sinyal-sinyal cemburu mulai kentara dari perempuan itu.
"Astagfirulloh..kamu ngomong apa sih, Yang? Aku belum bisa menjelaskan penyakit Zaskia, yang jelas Zaskia butuh perhatian khusus. Tolong mengerti keadaanku, bisakah kau sedikit mengalah untuknya? Setidaknya sampai Zaskia dinyatakan sembuh." pinta lelaki itu menghiba.
__ADS_1
Wanita itu menundukkan pandangannya, mengangguk perlahan tanda kepatuhan kepada sang suami. Lagi-lagi diminta mengalah dan mengalah, mungkin memang seperti itulah hidupnya. Mencoba berpikir positif bahwa memang Kak Zaskia lebih membutuhkan suaminya. Tadinya ia ingin mengajak Kendra mengecek kandungannya besok, tetapi urung dilakukan sebab dia rasa suaminya tak punya waktu untuk itu.
"Bolehkah aku pamit keluar sekarang? Jika kau tak mengizinkan maka aku akan tinggal. Aku tahu kau juga berhak atas diriku." pinta Kendra mengharap keikhlasannya.
Perempuan itu mengulas senyumnya, ia yakin menahan hanya akan menimbulkan perdebatan diantara mereka.
"Pergi saja Aa, aku tidak pa-pa." berusaha tegar dan tetap tersenyum dihadapan suaminya.
"Terima kasih." lelaki itu menghadiahinya banyak kecupan sayang di wajah dan tak lupa perutnya yang sedikit buncit.
Iapun melangkah gontai, sebenarnya enggan tapi harus bagaimana lagi.
Suara desis Tania membuat lelaki itu terkesiap dan kembali.
"Sayang kau kenapa? Apanya yang sakit?" tanyanya penuh kecemasan.
Wanita itu justru terkekeh melihat wajah panik sang suami. Lelaki itu menghunuskan tatapan horor melihat tingkah absurd istrinya.
"Bercanda."
__ADS_1
"Tidak lucu. Kenapa bercanda seperti itu."
"Aku cuma mau tahu Aa khawatir tidak jika aku sakit." jawab perempuan itu beralasan.
Kendra seketika menarik Tania dalam dekapannya.
"Tentu saja aku khawatir. Kaupun belahan jiwaku mana bisa aku tenang jika terjadi sesuatu padamu. Aku kurang perhatian bukan berarti aku tak sayang. Jika saja tubuhku ini bisa dibagi aku pasti akan sangat senang supaya aku bisa selalu berada di dekatmu penyemangat hidupku." pria itu tiba-tiba melow dan mengunci tubuh istrinya begitu erat.
"Aa, katanya mau bangunin kak Zaskia. Lepas dulu, sesak nafas akunya." protes Tania kesulitan bergerak.
Lelaki itupun melonggarkan pelukannya. " Lain kali jangan begitu. Aku tak ingin mendengarmu sakit apalagi melihatnya. I love u Tania Ardiansyah." satu kecupan cinta dibibir mungil istrinya.
Hati Tania menghangat, rasa cemburu itupun menguar sudah. Sikap suaminya barusan menunjukkan betapa peduli pria itu padanya.
" Me too, Aa Kendra tersayang. Sudah sana pergi." ungkapnya tersipu malu.
Keduanyapun akhirnya ridho, Tania berharap selalu ada pendingin diatas percikan api. Hubungan mereka selalu bisa melengkapi dan mengerti satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1