
Sejak hari itu Tania lebih bisa menahan diri untuk tidak membebani sang suami. Meskipun sebenarnya iapun butuh perhatian lebih mengingat kandungannya yang sudah mulai membesar. Wanita itu lebih memilih untuk tidak bergantung pada sang suami dan tak ingin merepotkan orang lain.
Hari ini rencananya ia akan memeriksakan kandungannya. Perempuan itu cukup cemas lantaran akhir-akhir ini sering merasakan nyeri di bagian bawah perutnya. Ingin rasanya ia untuk bercerita pada Kendra, tetapi dirinya takut malah semakin merepotkan suaminya.
Sebenarnya Kendra sempat menanyakan jadwal pemeriksaan kandungannya, tetapi sepertinya lelaki itu lupa akan hal tersebut. Taniapun enggan mengingatkannya kembali. Ia berniat pergi menggunakan taksi online.
"Neng Tania mau kemana? Tumben siang begini sudah rapi ?" Bi Marni tanpa sengaja berpapasan dengan istri majikannya.
"Tania mau periksa kandungan Bi. Sudah buat janji sama dokter buat periksa jam 2."
"Lo kenapa nggak bareng Non Zaskia aja tadi, Neng? Padahal, baru saja Non Kia dijemput asistennya Tuan yang ganteng. Katanya juga mau kerumah sakit." seloroh Bi Marni mengingat pemuda yang baru saja datang ke kediaman Ardiansyah.
"Nggak pa-pa, Bi. Lagian Tania juga ada perlu sebentar. Tania udah pesan taksi online, kayaknya udah nunggu diluar. Tania pamit ya, Bi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Perempuan itu terpaksa berbohong, keperluan lain apa? Sedang di Jakarta ini dia tidak memiliki sanak saudara atau sahabat dekat. Terkadang ia cukup jenuh dengan hidupnya yang monoton.
Semenjak menjadi istri majikannya, ia hanya melakukan pekerjaan yang kurang berarti sebab pekerjaan rumah sebagian sudah diurus ART. Dulu Kendra sering perhatian dan menyempatkan waktu untuknya, setidaknya ia tidak terlalu bosan. Akan tetapi, sekarang ia merasa kesepian. Apalagi suaminya sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan pengobatan Zaskia.
Taksi telah membawa perempuan itu tiba di rumah sakit. Disana sudah banyak bumil yang mengantri untuk memeriksakan kandungannya. Ada rasa iri yang menggelayuti jiwa kala melihat orang lain ditemani oleh pasangannya. Suami-suami mengelus perut istrinya penuh kasih sayang dan perhatian, tampak sekali binar bahagia di wajah mereka. Tidak seperti dirinya yang harus datang seorang diri. Yang paling nyesek ketika ada yang bertanya kemana suaminya? Padahal perutnya udah cukup besar.
Untung saja pemandangan itu tak berlangsung lama sebab ia sudah membuat janji. Tania bergegas ke ruangan dokter untuk mengetahui perkembangan janinnya.
"Sendiri, Bu? Bapaknya kemana?" sapa dokter berbasa-basi. Tidak mengerti jika ada jiwa yang sedang baper hari ini.
"Kerja Dok." jawabnya dengan senyum memaksakan.
Dokterpun mulai mengecek tekanan darah serta kantung mata wanita tersebut.
__ADS_1
"Tekanan darah agak rendah ya Bu. Cukupkan istirahat dan jangan terlalu stres. Nanti saya akan berikan vitamin dan penambah darah." tutur sang Dokter yang kini mulai mengoleskan jel dan melakukan USG.
Netra Tania berbinar melihat pergerakan putranya yang begitu sehat dilayar monitor. Yah, perempuan itu diperkirakan mengandung anak laki-laki lantaran alat kelaminnya sudah terlihat sejak usia kandungannya 5bulan.
"Dok? Kenapa akhir-akhir ini saya sering merasakan nyeri di bagian perut ya?" perempuan itu menyampaikan keluhannya.
" Memang diusia kandungan ibu yang mencapai umur 28 minggu hal itu bisa dibilang wajar dan akan lebih sering terjadi saat hamil tua. Sejauh ini kandungan ibu sehat dan ingat jangan terlalu stres dan cukupkan istirahat."
"Baik Dok. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
Tania berjalan gontai keluar ruangan sang dokter. Bagaimana dia bisa cukup istirahat sedangkan setiap malam entah mengapa dirinya susah tidur tanpa dekapan suaminya.
Ia merutuki dirinya sendiri yang berharap ingin dimanja disaat yang tidak tepat. Mereka dekat, tetapi serasa jauh sekarang.
Perempuan itu berniat untuk langsung pulang, tetapi netranya tanpa sengaja menangkap pemandangan yang cukup membuat hatinya gerah. Kesal rasanya, disaat baper begini dirinya malah disuguhi sang suami yang terlihat begitu perhatian berjalan berdua dengan istri pertamanya. Pria itu menuntun serta memeluk posesif wanita disampingnya.
Brukkk...
Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang. Hampir saja tubuhnya oleng jika saja pria itu tak menangkap tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" pemuda itu terkesiap melihat perempuan yang saat ini berada dalam dekapannya.
"Ucrit?"
Tania langsung berdiri dan menjauh, ia merasa canggung berada terlalu dekat dengan pemuda yang pernah membuat sang suami cemburu.
"Kak Zayyan? Ngapain disini? Wah tambah keren aja sekarang." deretan gigi Tania yang putih berjejer mengiringi senyumnya.
"Iyalah. Aku sudah kerja kantoran sekarang. Kau tahu aku bekerja dimana?" pria itu menaik turunkan alisnya seraya menggoda.
__ADS_1
"Dimana?" melihat gerak gerik Zayyan membuatnya penasaran.
" Di kantor lelaki yang kau bilang suamimu. Kau bohong kan? Aku sudah tahu siapa istrinya. Beberapa hari aku sering menjemputnya dan mengantar ke rumah sakit."
Tania menelan kasar salivanya, ia benar-benar malu jika harus mengakui bahwa dirinya adalah istri kedua.
Tanpa diduga sebelum menjawab pria itu justru menarik tangannya.
"Eh kak. Aku mau dibawa kemana? Aku mau pulang."
"Sebentar. Temani aku makan siang, kali ini aku traktir." pinta lelaki itu tanpa ingin mendengar penolakan sebab tangannya telah mengunci tangan Tania begitu rapat. Terpaksa Tania menuruti permintaannya, karena iapun sebenarnya juga lapar kalau melihat makanan.
Dua mangkok bakso ditemani teh botol cukup menggugah selera makan keduanya. Mereka makan dengan khidmat sembari sesekali pemuda itu melirik gadis di depannya.
"Jika pria itu bukan suamimu, berarti kau masih sendiri kan Crit? Apa aku ada kesempatan?" tiba-tiba pemuda itu menggengam sebelah tangan Tania.
Netra Tania membola seketika, ia menganggap ucapan Zayyan itu hanyalah candaan belaka seperti perkiraannya dulu. Buru-buru ia mencoba melepas tangan, tetapi kesusahan sebab Zayyan menggenggam semakin erat.
"Kak Zayyan ada-ada aja dech. Terlepas siapa suamiku apa kak Zayya nggak lihat perutku udah buncit seperti ini." jawabnya seraya tertawa sumbang tanpa sadar menorehkan luka dihati seseorang.
Zayyan ikut tertawa meski hatinya tergores luka, terkadang akal pikiran dan logika tidak sinkron jika sedang jatuh cinta. Ia bahkan baru ngeh Tania sekarang gemuk dan perutnya sedikit buncit meski tidak terlalu kentara dengan bajunya yang longgar.
"Ah iya aku pikir kamu kena cacingan karena kurang gizi." candanya sukses membuat netra Tania melotot garang. Gadir itu spontan mencubit lengan Zayyan karena kesal.
Keduanya saling melempar canda, tanpa mereka sadari dari kejauhan nampak seseorang menatap dengan tajam, wajahnya sudah merah padam menahan kekesalan. Memilih pemuda itu sebagai asisten seperti bukan langkah yang tepat baginya.
Bersambung...
Para readers yang budiman, author ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Mohon maaf jika ada tutur kata author yang kurang berkenan. Semoga amal ibadah kita diridhoi Alloh SWT. Aamiin😊
__ADS_1