
" Hoek..Hoek.."
Kendra kembali merasakan mual diperutnya. Entah apa yang ia makan sebelumnya hingga membuat perut pria itu serasa diaduk-aduk.
Kendra meminta sang sekertaris untuk membawakan segelas air putih hangat keruangannya. Pria itu bersandar di sofa untuk mengurangi rasa pusing dikepalanya.
" Tuan, ini minuman anda. Apa anda masih merasa mual dan pusing? " tanya sekertaris itu berlagak sok perhatian.
" Kepalaku masih terasa agak pusing. Tolong kau hubungi Tuan Mahendra dan sampaikan permintaan maafku atas ketidaknyamanan tadi siang. "
Tadi Kendra sempat bertemu kliennya bersamaan dengan jam makan siang. Akan tetapi, Kendra kembali merasa mual saat melihat makanan telah terhidang di meja. Ia bahkan hampir muntah di depan kliennya. Untung rekan bisnisnya tak mempermasalahkan mengenai hal itu.
" Baiklah, Tuan. Nanti akan saya sampaikan. Bagaimana kalau saya coba memijat anda? Barangkali itu bisa membuat anda lebih rileks dan mengurangi rasa pusing di kepala. " sang sekertaris mencoba mendekat, tetapi Kendra segera menggelengkan kepalanya.
" Tidak perlu. Kau kembali saja ke ruanganmu. " tolak Kendra sembari memijat pangkal hidungnya.
Lagi dan lagi sekertaris Kendra mendapatkan penolakan. Padahal menurutnya, dia sudah sangat cantik dan seksi. Wanita itu sampai penasaran wanita seperti apakah yang menjadi istri Kendra? Sebab selama dia bekerja, Tuannya belum pernah membawa pasangannya.
Kendra memijat sendiri kepalanya, ia jadi teringat pijatan Tania tadi pagi yang mampu membuat rasa mualnya sedikit berkurang.
" Tania? "
Senyumnya tersungging kala menyebut nama istri keduanya. Gara-gara menyebut nama itu, dia jadi benar-benar merindukan Tania sekarang. Ia ingin sekali bersama Tania saat ini.
Kendra segera mengirim pesan pada istrinya.
" Bersiaplah. Sebentar lagi sopir akan menjemput dan membawamu ke kantor. Bawa dokumen yang ada di laci meja kerjaku kemari. Aku melupakannya tadi pagi. "
Kendra menyeringai senang, ia telah meminta sang sopir menjemput Tania di rumah. Sebentar lagi, dia bisa berdua dengan wanita yang selalu mengganggu pikirannya itu.
***
Tania baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu berniat membersihkan diri kemudian beristirahat sejenak. Akan tetapi, sebuah notifikasi pesan yang masuk membuat wanita itu jadi urung ke kamar mandi.
" Tuan memintaku membawa berkas ke kantor? " gumamnya mengernyitkan dahi. Ini kali pertama ia akan menginjakkan kaki di kantor Kendra.
__ADS_1
Ia pun segera mencari berkas yang dimaksud di ruang kerja Kendra. Baru setelahnya, ia akan membersihkan diri dan berdandan sebelum sopir datang. Ia ingin tampil sebaik mungkin di depan sang suami, meski belum bisa dandan tentunya😁.
Akan tetapi, baru saja Tania menemukan dokumen yang dimaksud, Bi Sumi sudah memintanya untuk keluar sebab sopir sudah menunggu dan harus cepat kembali ke kantor.
" Tania. Ayo buruan! Pak Dadang bilang dokumennya penting, harus cepat dibawa ke kantor." pinta Bi Sumi terburu-buru.
" Tapi, Tania belum mandi, Bi. Masak iya nganter dokumen ke kantor nggak mandi? Pakai baju kotor lagi. " gerutu Tania memperhatikan pakaiannya yang lusuh setelah membersihkan gudang.
" Sudah, Nggak papa. Yang penting dokumen cepat diantar. Buruan gih."
Dengan terpaksa Taniapun bergegas turun dan berniat segera keluar. Namun, langkahnya terhenti tepat di dekat dapur. Ia memperhatikan masih ada sedikit makanan pelayan disana. Dirinya teringat Kendra belum mengisi perutnya sama sekali tadi pagi.
" Buruan, Neng. Pak supir nunggu." Bi Sumi masih membuntuti Tania sedari tadi, ia ingin memastikan perintah Tuannya terlaksana dengan baik.
" Sebentar, Bi. Tania mau bawa bekal buat Tuan. "
Tanpa ba bi bu be bo..Tania langsung memasukkan makanan seadanya kedalam kotak bekal Kendra. Disana hanya terdapat ikan asin,pete dan tumis kangkung bekas sarapan pelayan.
Bi Sumi tadinya ingin mencegah sebab itu makanan untuk para pelayan. Akan tetapi, daripada banyak berdebat ia memilih membiarkan gadis itu melakukan semaunya.
" Ada-ada aja, Neng Tania. Masak Tuan dikasih makanan begitu. Biar serpress kayaknya. " Bi Sumi terkekeh geli membayangkan reaksi Kendra nantinya.
***
Tania telah tiba di kantor Kendra, ia memperhatikan sesaat gedung menjulang tinggi yang kemungkinan terdiri dari puluhan lantai disana. Namun, dirinya segera masuk sebab Kendra tengah menunggunya.
Seluruh karyawan menatap Tania dengan pandangan meremehkan. Mereka tak menyangka setelah bertahun-tahun bekerja, Pemimpin perusahaan bukannya membawa istri melainkan pembantu ke kantornya dengan diantar sopir pribadi Kendra.
Tania sebenarnya risih melihat tatapan orang-orang kepadanya, tetapi ia memilih tak ingin terlalu memikirkannya. Sudah sering ia ditatap seperti itu, memang kalangan kurang mampu terkadang hanya di pandang sebelah mata.
Pak Dadang mengantar Tania hanya sampai ke lantai atas dan menunjukkan ruangan Kendra yang berada di ujung lorong.
Taniapun berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Akan tetapi, sekertaris Kendra menahannya ketika hendak masuk ke dalam.
" Kau mau apa? Ada urusan apa datang kesini? " ketus wanita itu memandang Tania sebelah mata.
__ADS_1
Tania sampai merinding melihat wanita seksi di depannya, nyalinya menciut melihat wanita yang tampaknya berpendidikan itu.
" Saya ingin memberikan dokumen Tuan Kendra yang tertinggal di rumah, Nona. Tuan menyuruhku mengantarnya kesini. " jawab Tania sopan.
Namun, tiba-tiba saja wanita itu merampas dokumen ditangan Tania.
" Biar aku saja. Kau tak pantas masuk ke ruangan, Bos. " ucapnya ketus.
Tania mendengus kesal, padahal ia sudah berusaha sopan pada wanita dihadapannya. Ternyata pendidikan itu tak terlalu berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.
" Maaf, Nona. Tetapi, Tuan meminta saya untuk mengantar langsung padanya. " jelas Tania memaksakan senyumnya.
Ia hendak meminta dokumen itu kembali, tetapi wanita itu enggan memberikannya. Apalagi karena tubuh Tania yang mungil, wanita itu dengan mudah mempermainkannya.
Hingga bunyi pintu yang terbuka mengagetkan keduanya. Kendra keluar dari ruangan lantaran Pak Dadang mengabarkan Tania telah sedari tadi, tapi belum juga tiba diruangannya.
" Tania? Kenapa kau tak langsung masuk ke dalam? " tanya Kendra dengan wajah berbinar melihat istri kecilnya telah tiba.
Baru saja Tania hendak menjawab, sekertaris Kendra langsung menyelanya.
" Ini Tuan, berkas yang anda minta. Baru saja saya ingin membawanya ke ruangan anda. " tuturnya semanis mungkin.
" Dasar ulat bulu tukang caper. " batin Tania kesal sekaligus cemburu.
Kendra mengernyitkan keningnya.
" Memang siapa yang menyuruhmu memberikan dokumen itu padaku? Aku hanya meminta Tania datang dan memberikan dokumen ini langsung padaku. " Kendra merampas dokumen itu dari tangan sekertarisnya. Iapun memberi kode Tania untuk segera masuk kedalam.
" Da..da Nona Sekertaris genit. Sekarang kau tahu bukan, siapa yang lebih pantas bertemu Tuan Kendra. " sinis Tania diiringi suara pintu yang ditutup dengan cukup kencang.
Wanita itu memegang dadanya sembari celingukan ingin tahu apa yang dilakukan mereka didalam. Akan tetapi, tirai penutup ruangan Kendra kini menutup dengan sempurna.
" Sial..sial..sial. Dunia memang sudah terbalik sekarang. Bagaimana mungkin aku kalah menarik dibandingkan bocah ingusan dekil macam dia. " ucapnya kesal sembari menghentakan kedua kakinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍