
" Tuan, sebaiknya anda segera pergi dari sini. Biasanya habis subuh para pelayan sudah pada bangun."
Tania merasa was-was, biasanya ia sebelum subuh sudah berada di dapur menyiapkan bahan untuk memasak sebelum Bi Marni bangun. Akan tetapi, hari ini gara-gara
" odol " pekerjaannya jadi terbengkalai sekarang.
Kendra mendengus pasrah, padahal dia merasa betah sekali berlama-lama dengan Tania. Selain rasa pusing dan mualnya berkurang, iapun sangat nyaman bersama gadis itu.
"Bagaimana kalau kau keluar dari rumah ini? Aku akan membelikan rumah baru supaya kita bisa berduaan terus. Jadi, tidak akan ada yang perlu kau khawatirkan lagi." usul Kendra masih betah menciumi tengkuk leher istrinya.
"Jangan, Tuan. Bi Marni dan ibuku sangat dekat, jika ibu tahu aku sudah tidak tinggal disini, beliau pasti akan sangat cemas dan memintaku untuk pulang." tolak Tania seketika.
Kendrapun akhirnya mengalah, pria itu beranjak keluar dari kamar Tania, tetapi tangannya tetap menggandeng Tania hingga ke daun pintu. Ia berbalik kembali dan menatap penuh arti pada Tania.
"Berikan satu kecupan lagi disini, setelah itu baru aku pergi. " pinta Kendra sembari menunjuk bibirnya.
Tania melirik sekeliling, setelah memastikan tidak ada siapapun disana, ia berjinjit lalu mengecup bibir sang suami.
Namun, Kendra justru menahan tengkuk gadis tersebut. Ia masih ingin mereguk nikmat bibir candunya tersebut. Mereka akhirnya bercumbu cukup lama tanpa menyadari jika Bi Marni ternyata melintas tak jauh dari sana.
Bi Marni sungguh terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka kecurigaannya selama ini benar adanya. Buru-buru wanita itu bersembunyi agar tidak ketahuan.
Tadinya Bi Marni ingin ke kamar Tania untuk meminta gadis itu menggantikannya memasak, sebab dirinya harus ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur yang habis. Siapa sangka dirinya justru melihat pemandangan yang begitu mencengangkan.
" Astagfirulloh.. Tak kusangka Tuan tega berkhianat pada Non Zaskia. Kurang apa coba istrinya? Jangan-jangan beliau memanfaatkan kepolosan Tania? Apa mereka juga sudah melakukan.." Bi Marni menutup mulutnya yang menganga sembari sesekali mengintip pemandangan yang biasanya ada di film india romantis.
Kendra dengan rakus melahap bibir mungil Tania, entah mengapa semakin hari bibir Tania semakin nikmat untuk disesap. Pria itu tak akan melepaskan Tania jika saja istrinya tak mendorong badannya menjauh.
" Ayo cepat pergi, Tuan. " usirnya dengan wajah merona. Ia bahagia lantaran merasa begitu didambakan oleh suaminya.
Kendra menatap penuh makna kedua manik mata hitam milik istrinya. Ia mengusap lembut bibir kenyal Tania yang basah olehnya.
__ADS_1
" Aku mencintaimu, sayang."
Tania mengulum senyumnya, jika tak ada Kendra mungkin dirinya sudah berjingkrak ria sekarang. Rasanya ia sudah seperti cinderella yang bertemu dengan sang pangeran.
"Aku juga mencintaimu, Tuan." balas Tania menundukkan pandangannya karena malu.
"Terima kasih,sayang." pria itu mengecup puncak kepala Tania dan buru-buru pergi dari sana.
Tania senyum-senyum seorang diri, ia memegangi dadanya yang berdebar tak karuan saat ini. Iapun segera masuk untuk membersihkan diri dan beribadah sebelum memulai aktivifasnya.
"Dasar Tuan buaya, anak kecil diembat juga. Memang ya kucing garong, udah dikasih ikan bandeng, ikan teripun dilahap sekalian." gerutu Bi Marni seorang diri.
"Tania juga kecil-kecil udah kegenitan. Kalau sampe ibumu tahu, Neng. Udah diuleg kamu jadi perkedel." ketus Bi Marni memperagakan gaya mengulegnya.
Namun, wanita itu sudah menganggap Tania seperti anaknya sendiri. Ia tidak ingin jika sampai Tania terjerumus lebih dalam permainan orang dewasa. Ia harus bisa menyadarkan gadis itu supaya menjauh dari Kendra.
***
Tania telah menyelesaikan masakannya, Bi Marni telah berpesan pada gadis itu untuk menyiapkan sarapan jika dirinya terlambat pulang dari pasar.
"Selamat pagi, Tuan."
"Selamat pagi, sayang." balas Kendra sambil berbisik ditelinga Tania, membuat bulu kuduk gadis itu meremang dibuatnya.
"Kemana Bi Marni?" Kendra celingukan mengamati sekitar.
"Bibi belum pulang dari pasar, Tuan. Kebetulan saya yang memasak untuk anda hari ini." Tania menyajikan menu masakan buatannya di atas meja. Iapun menyajikan makanan di piring sang suami.
"Eumm..dari aromanya benar-benar menggugah selera. Apalagi jika makannya disuapi. Bisa habis dua piring nanti. Pasti enak bisa makan banyak, hampir setiap hari perutku kekurangan asupan makanan." rayu Kendra.
Wajah Tania langsung merona karenanya, "gombal."
__ADS_1
"Gombal kalau sama istri tidak masalah. Bukankah menyenangkan istri itu termasuk pahala." godanya kembali.
Tania mengibas-ngibaskan tangannya, ia rasa dirinya sekarang sudah seperti kepiting rebus. Kalau terus-terusan begini mungkin wajahnya sebentar lagi akan seperti kompor meleduk.
"Baiklah. Karena menyuapi suami juga mendapatkan pahala. Maka aku akan menyuapi anda sekarang." jawabnya sambil memperhatikan takut ada orang yang lewat.
Dengan telaten Tania menyuapi sang suami hingga Kendra tanpa sadar sudah nambah dua kali.
" Aku heran. Kalau kau menyuapiku semua makanan terasa enak dan bisa diterima dengan baik dalam perutku." tutur Kendra apa adanya.
"Ah..Tuan bisa saja memuji. Tuan jadi pintar menggombal ya sekarang!" Tania mencubit pinggang sang suami karena gemas. Pria itu sukses membuatnya merona sedari pagi.
" Menggombal hanya untukmu. Ya sudah, aku harus segera berangkat." pria itu menengok sekeliling, setelah dirasa aman pria itu mengecup puncak kepala istrinya.
"Hati-hati, Tuan."
Kendrapun hendak beranjak, kebetulan saat akan pergi Bi Marni baru pulang dari pasar.
"Bibi, bagaimana pesananku ada?" tanya Tania kegirangan, rasanya ia sudah mau ngiler menunggu pesanannya datang.
Kendra mengurungkan niatnya beranjak, ia penasaran dengan apa yang dipesan Tania hingga gadis itu nampak kegirangan seperti sekarang.
" Sabar dulu, Neng. Neng Tania sudah seperti orang ngidam saja." gerutu Bi Marni.
" Ngi-dam?" Kendra mengernyitkan keningnya karena heran.
" Iya Tuan. Habis Tania pengen rujak sampai mau ngiler gitu kayak orang lagi hamil."
Netra Bi Marni dan Kendra sama-sama membulat dengan sempurna mendengar kata terakhir yang diucapkan Bi Marni.
" Hamil???" keduanya kompak berseru saking kagetnya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like komen rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗