
Seusai dari pemakaman, Kendra kembali ke kediamannya menjelang sore untuk mengikuti tahlil mendiang istrinya. Pria itu menuju kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu serta memastikan keadaan Tania.
Kebetulan Tania masih berada di dalam kamar. Perempuan itu sebenarnya tengah menahan nyeri akibat kontraksi dalam perutnya yang terasa semakin intens. Ia sebentar-sebentar tidur, berdiri, berjalan, berjongkok, tiduran lagi hanya untuk mencari posisi yang nyaman baginya.
"Aa sudah pulang?" sambutnya saat Kendra memasuki kamar mereka. Posisinya tengah duduk di tepi ranjang sembari menjulurkan tangannya kebelakang. Ia sebisa mungkin menyembunyikan rasa sakit sebab tak ingin menambah beban pikiran sang suami.
Seulas senyum tersimpul di wajah Kendra. Ingin sekali ia mendekati Tania, tetapi karena tubuhnya baru saja dari pemakaman, lelaki itu memilih mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu.
"Aa mandi dulu ya soalnya habis dari makam. Kamu kenapa sayang? Kamu nggak pa pa kan?" tanyanya sedikit merasa aneh melihat Tania sesekali membuka dan memejamkan matanya seperti memikirkan sesuatu.
Perempuan itu mengangguk, ia mencoba berdiri untuk mengambilkan handuk mandi sang suami lalu menyerahkannya.
"Aku akan mengambilkan baju ganti untuk Aa. Aa tenang saja, aku tidak apa-apa. Hanya kontraksi sedikit, mungkin karena sudah mau memasuki hari perkiraan lahir." tuturnya tak ingin membuat cemas.
"Ya sudah. Aa mandi dulu, setelah itu kita sama-sama kebawah untuk mengikuti tahlilan. Kamu siap-saip aja dulu sekalian nungguin Aa." pinta Kendra kembali mengulas senyumnya.
Setelah memastikan Kendra masuk kedalam kamar mandi, Tania kembali berdiri dan sesekali berjongkok. Bagian bawah perutnya bertambah mulas rasanya, punggungnyapun terasa nyeri luar biasa.
"Ya Rabb.. Apa iya aku akan melahirkan sekarang? Tapi, bukankah seharusnya masih minggu depan?" batinnya gelisah tak menentu.
Perempuan itu kembali ke atas kasurnya, sepertinya ia sudah tak tahan untuk menahan rasa nyeri itu seorang diri. Perempuan itu terperanjat menyadari ada sesuatu yang mengalir dari dalam **** *************.
"Aa..Aa.. Tolong A!" pekiknya ketakutan.
Mendengar teriakan dari luar membuat Kendra panik seketika. Lelaki itu segera menyelesaikan mandinya dan memastikan apa yang terjadi diluar sana. Pria itu tak kalah kaget melihat cairan keluar dari kedua paha Tania.
"Astagfirulloh. Sayang, kenapa ini? Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" ujarnya panik.
Kendra tak ingin mengulur waktu, secepatnya ia menyambar hijab instan Tania dan memakaikannya, kemudian menggendong istrinya untuk dibawa ke rumah sakit. Hatinya was-was, baru saja ia kehilangan Zaskia tentu ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Tania.
"Aa sakit A!" rintih Tania merasakan mulas luar biasa.
__ADS_1
"Sabar sayang, Aa akan segera membawamu ke rumah sakit." Kendra menggendong dengan setengah berlari.
Seluruh penghuni rumah digegerkan dengan Kendra yang menggendong Tania dengan terburu-buru. Mereka ikut panik padahal sebentar lagi akan diadakan tahlilan untuk Zaskia.
Bu Minah dan Bu Santi langsung mengikuti Kendra lantaran tak kalah paniknya.
"Ken, Tania kenapa?"
Tanpa menunggu jawaban Kendra, netra mereka sudah menangkap air ketuban Tania merembes hingga bawahannya terlihat basah.
"Ken, istrimu mau melahirkan. Kami akan menemanimu ke rumah sakit." ujar keduanya kompak.
"Ma, biar Bu Minah dulu yang ikut. Mama nanti saja nyusul setelah tahlilan selesai. Sekarang tolong bantu menyiapkan perlengkapan bayinya, biar nanti diambil Zayyan. Kendra mau secepatnya bawa Tania." pintanya pada Bu Santi.
Wanita itu menurut saja, memang rasanya kurang pantas disaat Tahlilan yang punya rumah malah tidak ada.
"Oke Ken. Hati-hati jangan ngebut. Ibu siapkan keperluan Tania mumpung belum mulai tahlilannya." Bu Santi bergegas masuk ke dalam.
***
"Aa sakit A, Tania nggak kuat!" rintih Tania untuk kesekian kalinya. Yang ia rasakan perutnya mulas luar biasa saat ini.
Bu Minah menoleh ke kursi belakang, beliau tak kalah cemasnya sebab ini pengalaman Tania melahirkan untuk pertama kali diusianya yang masih belia.
"Istighfar Neng. Baca do'a biar dimudahkan persalinannya." nasehatnya pada sang putri tercinta.
Perempuan itu masih mengikuti saran sang ibu, tapi sungguh rasa nyeri dibagian punggung dan rasa mulas diperutnya semakin kentara. Perempuan itu tak bisa tenang, ia terus saja bergerak kesana kemari tapi tak kunjung menemukan kenyamanannya.
Salah satu tangan Kendra mengelus puncak kepala Tania, sedang tangan lainnya menggenggam erat jemari sang istri. Ingin rasanya ia menggantikan rasa sakit itu jika mampu.
"Pak, tolong cepat sedikit! Istriku sudah sangat kesakitan." pintanya sedikit meninggikan suara karena panik. Ia merutuki jalanan yang macet sebab berbarengan dengan jam pulang kantor.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Jalannya padat merayap. Untuk ke rumah sakit sudah tidak ada jalan tikus." memang sebenarnya posisi rumah sakit tidak terlalu jauh, tetapi berhubung macet bisa molor dua kali lipat dari jam biasanya.
Kendra benar-benar frustasi, untuk keluar dan menggendong istrinyapun pasti waktunya tak kalah lama. Pria itu kembali menitikkan airmata, ia takut terjadi apa-apa dengan Tania. Sungguh, dia akan jadi pria tak berguna jika hal itu sampai terjadi.
"Aa, Tania nggak kuat. Eeekkghh. Aaaahh." insting alami perempuan itu seolah mengajaknya untuk mengejan.
"Astagfirulloh, Neng. Jangan-jangan mau melahirkan sekarang. Jangan teriak Neng. Atur nafas dengan baik biar tenaganya nggak habis." Bu Minah tak kalah panik.
Kendra semakin bingung harus berbuat apa, lelaki itu berinisiatif mengumpankan tangannya ke mulut Tania saat perempuan itu hendak berteriak kembali.
"Eeekgghhh.." perempuan itu kembali mengejan.
Kendra meringis kesakitan, tetapi ia lega sebab tenaga istrinya tak terbuang sia-sia.
" Ya Alloh..jangan sampai istriku melahirkan disini. Hamba terlalu sering mengabaikannya dan saat ini hambapun tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya." batin Kendra trenyuh, tak tega melihat istrinya seperti ini.
Untung saja kemacetan mulai berkurang, ternyata ada pohon tumbang yang menghalangi jalan akibat hujan semalam. Lalu lintas kembali lancar dan Kendrapun sedikit lega akhirnya tiba dirumah sakit.
Pria itu segera keluar dan meminta bantuan petugas sebab sang istri sudah mau melahirkan. Akan tetapi, ternyata kepala bayi sudah nampak sehingga tidak memungkinkan Tania dibawa ke dalam.
Dokter spesialis kandunganpun akhirnya membantu persalinan Tania didalam mobilnya.
"Ayo Ibu, sedikit lagi. Tarik nafas , dorong." Instruksi dari sang dokter diikuti oleh Tania.
Oekk..Oekk..Oeekkk..
Tangisan seorang bayi mungil terdengar, Tania melahirkan setelah mengejan untuk kesekian kalinya. Rasa sakit luar biasa kini berganti perasaan lega dan penuh rasa syukur sebab ibu dan bayi dilahirkan dengan selamat.
Tania dan bayinya langsung dibawa keruang rawat. Kendra bersujud syukur lantarab anak istrinya selamat dan sekarang ia telah resmi menjadi seorang ayah.
Kendra menimang putranya yang baru dibersihkan untuk diazankan. Lelaki itu tak henti-hentinya bersyukur melihat putranya yang sangat rupawan, ia jadi teringat mimpinya waktu itu. Rasanya seperti de Javu, apa yang ia lakukan saat ini sama persis seperti mimpinya waktu itu.
__ADS_1
Bersambung..