Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 118


__ADS_3

Kendra mendatangi kantor polisi untuk dimintai keterangan. Langkahnya terhenti saat netranya menangkap mantan sahabatnya masih berada disana.


Tangannya terkepal erat berusaha menahan emosi yang hampir memenuhi dada. Ia menyorot tajam pada pria yang telah membuat istrinya koleps dan merusak nama baik keluarganya. Namun, pemandangan lain justru ia tangkap. Dafa malah tersenyum tulus kepadanya.


"Tuan Kendra? Mari silahkan."


Kini Kendra duduk bersebelahan dengan Dafa, kali ini ia tak sudi menatap lelaki tersebut.


"Tuan Kendra apa anda mengenal pria yang duduk disebelah anda ini?" polisi mulai melakukan intrograsi.


"Ya saya mengenalnya. Dia orang telah mencemarkan nama baik saya, musuh dalam selimut berkedok sahabat yang telah menfitnah saya dan istri saya." jawab Kendra lantang.


Dafa menelan kasar salivanya, betapa Kendra begitu membenci dirinya. Namun, semua itu pantas ia dapatkan karena dirinya memang sudah sangat keterlaluan.


"Maaf Tuan, Tuan Dafa baru saja memberi kesaksian bahwa dialah yang sebenarnya mereka ulang video asusila yang melibatkan anda dan dua orang wanita yang diketahui adalah istri anda. Apa benar apa yang telah disampaikan oleh Tuan Dafa?"


Kendra melirik sekilas pada Dafa,


"Bagus. Jika dia mau menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya. Akan tetapi, saya tetap akan mengambil jalur hukum karena luka yang tertoreh masih membekas hingga sekarang. Istri saya langsung kolaps waktu itu dan mengakibatkan kondisi kesehatannya langsung down saat itu akibat penyakit leukemia yang dideritanya dan minggu lalu istri saya Zaskia telah berpulang ke rahmatulloh."


Dada Kendra serasa sesak mengingat kejadian itu. Bagaimana menderitanya Zaskia hingga dia benar-benar kehilangan semangat hidupnya. Bahkan operasi sumsum tulangnya gagal lantaran antibody dalam tubuhnya justru menyerang sel darah yang dihasilkan.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan Tuan Kendra. Kasus ini akan berlanjut ke pengadilan."


Setelah dimintai keterangan, keduanyapun akhirnya keluar. Dafa berusaha mengejar Kendra yang sudah terlebih dahulu berada didepannya.


"Ken, tunggu Ken. Ada yang ingin aku sampaikan padamu." pekiknya berharap Kendra mau mendengarkannya. Ia tersenyum lega saat pria itu mau berhenti dan berbalik ke arahnya.


"Apa yang ingin kau jelaskan, jelaskan saja nanti dipengadilan. Aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk meladeni pria sepertimu!" ucapnya ketus, sama sekali tak bersahabat. Hampir saja membuat nyali Dafa menciut.


"Aku tidak ingin menjelaskan apapun sebab aku tahu semua salahku. Aku hanya ingin minta maaf padamu dan juga istrimu atas kesalahan yang telah aku perbuat. Aku pasti akan menanggung semua konsekuensinya. Aku ingin memperbaiki diri, Ken." ungkapnya tulus.


"Baguslah jika kau sadar diri. Tapi bagiku maaf saja tidak cukup, kau harus mendapat hukuman yang setimpal. Harus ada bukti yang nyata jika kau benar-benar serius ingin memperbaiki diri." tegas Kendra.


"Tentu saja. Aku ikhlas jika dengan mendekam di penjara mampu menebus segala dosa-dosaku. Bisakah kita bersahabat seperti dulu?" Dafa mengulurkan tangannya berharap Kendra mau menjabat tangannya.

__ADS_1


"Sudah kubilang. Harus ada bukti yang nyata jika kau benar-benar memperbaiki diri. Dan jika saat itu tiba, mungkin kita bisa bersahabat kembali." Kendra langsung berlalu tanpa mendengarkan panggilan sahabatnya lagi. Sejujurnya dia bukanlah tipe orang yang pendendam, hanya saja ia harus menguji keseriusan mantan sahabatnya tersebut. Kesalahan Dafa benar-benar fatal hingga membuatnya harus kehilangan Zaskia.


***


Disisi lain, Tania yang sedang asyik menimang putranya dibuat rusuh oleh kedatangan Zayyan yang berdalih ingin menengok baby Al.


Akan tetapi kenyataannya pria itu justru menagih janji pada Tania untuk memberikan nomor ponsel sepupunya waktu itu.


"Crit, ayolah. Apa kau tak kasihan kalau aku jadi jomblo ngenes kayak gini. Kau saja yang masih kecil udah punya anak. Lha aku punya pacar aja belum." selorohnya dengan tampang memelas.


"Tapi kalau Zahra itu nggak cari pacar, Kak. Dia itu cari lelaki yang mampu jadi imam, yang sholeh gitu." tegas Tania.


"Oke. Kapanpun Kak Zayyan siap bawa orang tua Kak Zayyan ke Surabaya. Soalnya duh kalau inget wajah dek Zahra bawaannya adem gitu." Zayyan membayangkan pertemuannya pertama kali dengan Zahra.


"Tapi Kak. Buat jadi suami Zahra syaratnya berat lo." goda Tania.


"Apa syaratnya cepat katakan, Crit. Jangankan segenggam emas sebongkar berlian aku jabanin asal bisa bersanding dengan dedek Zahra." ungkapnya penuh percaya diri. Lagian gajinya juga lumayan besar saat menjadi asisten Kendra dan jangan lupa orang tua Zayyan juragan tanah di kampungnya.


"Tapi syaratnya lebih sulit daripada itu Kak?"


"Eum..Kata Om Herman. Yang harus jadi suaminya Zahra itu adalah lelaki sholeh yang bisa jadi imam yang baik buat Zahra. Trus, dia juga harus hafiz qur'an 30 jus sama seperti Zahra."


Seketika tubuh Zayyan melemas, jangankan hafiz ngaji saja dia sering bolos dulu. Jadi baca qur'annya masih belum lancar sekarang.


"Gak bisa gitu syaratnya diganti. Kalau jadi imam yang baik mungkin masih bisa belajar sedikit-sedikit. Tapi kalau hafiz 30 juz rasanya mustahil bagiku." ungkapnya berputus asa.


"Ya nggak tahu. Tanyakan aja sama yang bersangkutan." jawabnya santai, tetapi tangan sebelahnya mulai memainkan gawai hingga terdengarlah bunyi pesan masuk ke ponsel Zayyan.


TRING


Wajah Zayyan berbinar seketika lantaran Tania akhirnya mau memberinya nomor ponsel Zahra.


"Makasih ya Crit. Kamu emang adik aku yang paling pengertian." ungkapnya seraya mendekati Tania.


EHERM..

__ADS_1


Hampir saja dia kalap ingin memeluk Tania jika saja suara deheman seseorang mengalihkan perhatian keduanya.


"Pak Ken-dra? Maaf Pak tadi saya cuma gemas sama Baby Al. Anak Bapak lucu sekali." selorohnya beralasan.


Kendra berjalan mendekati sang istri, lalu menyemprotkan cairan sanitizer cukup banyak ke tubuh Zayyan.


"Aa ngapain?" Tania heran dengan tingkah suaminya.


"Aa cuma pengen melindungi kamu dari bakteri dan virus kotor dari luar." Ungkapnya seraya mengecup sekilas bibir Tania lalu beralih ke pipi gemas putranya.


Zayyan memberengkut kesal, jiwa jomblonya meronta melihat dua sejoli pamer kemesraan didepannya. Apalagi tadi, Kendra menyamakannya dengan bakteri dan virus.


"Bapak sungguh terlalu. Bisa-bisanya pamer kemesraan di depan jomblo. Udah gitu nyamain sama sama virus dan bakteri. Mana ada virus gantengnya kelewatan kayak gini." protesnya sebal.


"Sekarang aku akan membuat peraturan baru untukmu. Kau harus jaga jarak aman dengan istriku minimal 1 meter. Jika kau melanggar maka aku akan memotong gajimu 5 persen." tegas Kendra.


"Mana ada peraturan seperti itu. Bapak jangan meng.."


Belum sempat Zayyan menyelesaikan ucapannya, sang atasan sudah lebih dulu memotongnya.


"Jika banyak protes, potongan bertambah jadi 10 persen." cicit Kendra dengan wajah datarnya yang super menyebalkan dimata Zayyan. Akan tetapi, ia memilih bungkam dari pada uang gajian yang jadi korban. Pria itu mengalihkan tatapannya pada Tania.


"Tania aku pulang dulu ya. Oh ya makasih buat yang tadi. Minta doanya saja biar lancar."


Kendra melirik sengit keduanya. Sebelum sang atasan marah, Zayyan memilih untuk kabur saja daripada kena masalah.


Kini giliran Tania yang ditatap seperti elang yang ingin menerkam mangsanya. Perempuan itu menelan ludahnya kasar sebab khawatir sang suami salah paham.


"Aku tidak berbuat apa-apa dengan Kak Zayyan. Aku hanya memberinya nomor ponsel sepupuku. Sepertinya ia tertarik dengan sepupuku yang sempat ia temui di Surabaya." ia memilih berbicara terlebih dahulu sebelum sang suami mengintrograsi.


"Aku akan memeriksa CCTV ruang tamu untuk memastikan apa yang kalian lakukan tadi. Sekarang cepat naik ke atas, anak kita sudah tidur kau tidak perlu capek-capek menggendongnya terus. Sini aku yang bawa." Kendra mengambil alih putranya dari tangan Tania. Pria itu begitu telaten menggendong baby Al,sesekali ia meoel hidung dan juga pipinya yang tembem lantaran gemas.


"Duh, imutnya anak Papa."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2