Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 84


__ADS_3

Selamat Datang..


Sambutan nan meriah dari seluruh penghuni kediaman Kendra menyambut kedatangan Zaskia ke rumah, Hesti pun turut hadir disana. Mereka berucap selamat atas kehamilan wanita itu setelah keluar dari rumah sakit.


Suasana hati Zaskia berangsur menghangat, ia tak menyangka banyak sekali yang masih begitu peduli dengannya. Kali ini ia menangis, tapi bukan kesedihan melainkan tangis haru suka cita.


"Terima kasih semuanya, Mama, Papa, Hesti, Tania, para pelayan dan terutama suamiku tersayang. Meskipun aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, namun aku tak merasa kesepian selama ada kalian menemaniku, terutama kau suamiku." ungkapnya tulus. Wanita itu memeluk Kendra dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Lelaki itupun menghujani istrinya dengan kecupan sayang dipuncak kepalanya.


Pemandangan yang begitu romantis hingga membuat penghuni lainnya seakan hanya figuran diatas pentas. Tak terkecuali dengan Tania, biasanya ia masih bisa bersikap biasa saja, tapi kali ini entah mengapa ada goresan luka tak nampak kala melihat dua sejoli yang begitu mesra.


Mungkin ia merasa akhir-akhir ini Kendra kurang perhatian padanya. Lelaki itu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan merawat Zaskia selama di rumah sakit. Harusnya ia mampu mengerti, tapi kenapa hatinya segalau ini? Perempuan itu ikut mengukir senyuman meski setengah memaksakan kala penghuni lainnya begitu kagum dengan pasangan tersebut.


"Senang sekali melihat Tuan dan Nona Zaskia kembali mesra seperti dulu. So sweet.." celetuk Bi Sumi dengan centilnya hingga membuat penghuni lain tergelak tawa.


Merekapun setuju dengan pendapat Bi Sumi. Apalagi saat wanita itu mendo'akan kelanggengan keduanya hingga tanpa sadar ada hati yang tersentil karenanya. Perempuan itu sampai bingung dimanakah posisinya yang sebenarnya?

__ADS_1


"Aamiin..makasih Bi. Tapi mohon maaf semuanya, aku ingin keatas terlebih dahulu untuk beristirahat." Zaskia tak enak hati sebenarnya, tetapi iapun perlu mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemah. Ia menggandeng sang suami untuk mengajaknya ke atas.


"Tunggu, Nak. Mama dan Papa juga mau berpamitan sekalian. Pekerjaan Papa di Bandung sudah banyak yang terbengkalai, Mama dan Papa terpaksa harus pulang hari ini sebab Papa ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan. Kapan-kapan kami pasti akan kesini untuk menengok menantu dan calon cucu kami." Bu Santi dan Pak Bayu memeluk menantu serta anaknya sekalian untuk berpamitan.


"Tania, sini Nak. Kenapa kamu malah disitu? Kami pamit pulang dulu ya, Nak." Bu Santi menghampiri menantu kecilnya yang sedikit menepi, membuat seseorang yang berstatus suami mengalihkan atensinya pada gadis itu.


Kedua netra mereka bersitatap, hingga Tania memutus tatapan itu dan berganti menyalim takdzim kedua orang tua suaminya.


Kendra merasakan ada kilatan berbeda dari cara menatap istrinya, ingin sekali pria itu mendekati Tania. Namun, sebuah tangan menarik lengannya hingga pria itupun urung mendatangi.


Tania memperhatikan kedua sejoli itu menaiki tangga, hatinya tercubit mengingat sang suami menatap, tetapi sama sekali belum menyapanya. Mungkinkah lelaki itu mulai bosan dengannya hingga mempertegas perasaannya jika sang suami lebih menyukai anak yang berada dalam kandungan Zaskia.


Bolehkah ia cemburu? Bolehkah ia iri karena juga ingin diperhatikan? Diapun sekarang sedang hamil dan itu jelas-jelas anak kandung dari Kendra.


Ingin sekali ia mengungkapkan kebenaran, tetapi hati kecilnya tak mungkin setega itu. Perempuan itu berniat menepi ke kamarnya sebelum bulir bening tak mampu tertahan lagi.

__ADS_1


"Tania, tunggu."


Panggilan seseorang membuat langkah kakinya terhenti, perempuan itu berbalik menatap Bi Sumi yang berjalan menghampirinya.


"Tania? Maafkan Bibi barusan. Bibi tidak bermaksud apa-apa. Bibi hanya ingin menyemangati Non Zaskia karena Bibi kasihan padanya. " sesal Bi Sumi setelah tadi baru saja diceramahi Bi Marni dan memperhatikan gelagat Tania yang lain dari biasanya.


" Iya nggak pa pa Bi. Do'ain Tania juga dong. Istri muda boleh kan minta keadilan?" guraunya mengerling manja. Perempuan itu sungguh pandai menutupi kesedihannya.


" Tentu dong. Bibi do'akan hubungan Tania dan Tuan Kendra juga langgeng sampai ke jannah. Dikaruniai putra putri soleh solehah. Jadi keluarga sakinah mawadah wa rohmah."


"Aamiin." Koor ketiganya kompak.


"Makasih ya Bibi sekalian yang cantik dan baik hati. Tania sudah menganggap Bibi seperti orang tua Tania sendiri. Tania ke kamar dulu ya Bi." pamit perempuan itu dengan senyum yang menghiasi kedua sudut bibirnya.


Senyum itu beringsut seiring kepergiannya, tetap saja hatinya galau merindukan seseorang yang beberapa lama tidak memberikan sentuhan dan kasih sayang. Perempuan itu bak musyafir yang terdampar di padang tandus, berharap menemukan oase untuk mengikis dahaga yang membakar tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2