
"Aa bawa sini babynya, aku juga mau gendong." Rajuk Tania saat melihat sang suami begitu mendominasi putra mereka. Bukan apa-apa, Kendra sepertinya masih merasakan euforia lantaran resmi menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya.
Pria itupun dengan terpaksa memberikan baby mungilnya kepada Tania.
"Hati-hati sayang, pelan-pelan. Duh gantengnya anak Papa. Makasih ya sayang, ini benar-benar anugerah terindah ditengah duka yang menyelimuti keluarga kita." ungkapnya bersuka cita.
Tania mengembangkan senyumnya, "Alhamdulillah, Aa. Tania juga bersyukur, semoga baby kita selalu jadi pembawa kebahagiaan ditengah keluarga. Ih lucunya, gemes Mama. Kita kasih nama siapa ya A?"
Jangankan bayinya ibunyapun masih saja bikin gemas dengan tingkah lucunya. Kendra mencium kening sang istri lalu berganti pipi baby mungilnya.
"Eum..karena dia adalah pembawa kebahagiaan dalam keluarga kita. Aku ingin menamainya Ikhsan Naushad Altair Ardiansyah. Pemuda baik hati pembawa kebahagian diantara bintang-bintang. Apa kau setuju?" usul Kendra kembali mendusel pipi putranya yang sedang berusaha menyusu.
"Aa geli Aa. Jangan gini. Babynya belum bisa *****. Kayaknya gara-gara putingnya kekecilan." Bulu Tania meremang seketika merasakan jambang tipis suaminya mengenai payud@ra.
"Aku setuju saja. Ikhsan Naushad Altair. Bagus juga, aku mana bisa bikin nama seperti itu. Kalau aku yang kasih nama nanti Dadang, Ujang, Komar." guraunya berkelakar disambut sebuah sentilan di dahinya.
"Heuh, kasih nama anak itu harus yang baik-baik. Nama itu adalah doa, sekarang kak banyak kalau mau nyari di Yougle." protes Kendra gemas.
" Ih..aku kan cuma bercanda." sangkalnya sembari memoyongkan bibir.
"Duh gemes banget sama kalian." sebuah kecupan langsung ia daratkan dibibir sang istri.
"Ehermmm..."
__ADS_1
Suara deheman beberapa orang membuat keduanya salah tingkah dan langsung mengikis jarak.
"Eh..Ma.. Pa..Bu.." Kendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Duh..Yang istrinya baru habis melahirkan, langsung disosor terus. Nggak inget kemarin nangis-nangis takut istrinya mau ngelahirin." goda Bu Santi pada putranya.
"Jangan gitu, Ma. Aa nangis kan soalnya khawatir sama aku. Itu kan artinya Aa bener-bener sayang sama Tania." Istrinya tak terima sang suami dibully.
"Iya, iya deh. Kalo istrinya nggak terima takut nggak boleh gendong cucu. Sini-sini, Duh nggak sabar pengen nimang cucu. Subhanalloh gantengnya..mirip papanya banget." Bu Santi merebut Baby Al dari Tania, Pak Bayu langsung ikut nimbrung menimang cucunya.
Binar-binar bahagia terpancar diwajah Tania, begitu banyak orang yang menyayangi putranya. Sungguh dirinya tak menyangka, awalnya ia pikir akan melahirkan tanpa suami dan menjalani hidupnya sebagai orang tua tunggal bagi putranya. Ternyata takdir berkehendak lain, Tuhan bahkan menganugerahinya kebahagiaan yang sempurna bersama suami, orang tua beserta saudaranya.
Tanpa terasa perempuan itu menitikkan airmata, bukan sebagai wujud kesedihan melainkan wujud rasa syukur dan bahagia yang ia rasakan saat ini.
Perempuan itu mengulas senyumnya, " Ini bukan airmata kesedihan Aa. Ia airmata kebahagian dan rasa syukurku. Aku tak menyangka bisa berkumpul dan berbahagia bersama kalian semua. Aku..aku juga minta maaf, mungkin aku terlalu terlalu egois dan sering bertindak semauku sendiri. Aa maklum ya?" ungkapnya sendu.
Pria itu merengkuh tubuh Tania dan memasukkan ke dalam dekapannya.
"Tentu saja Aa maklum, kamu kan istri bocahku. Mulai sekarang kita mulai semua dari awal. Kita rawat putra kita dengan penuh kasih sayang. Oke?"
Pria itu menjentikkan salah satu jari kelingkingnya didepan Tania.
"Ish..seperti anak kecil saja. " protes perempuan itu tetapi ikut menautkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
Saat keduanya asyik bercengkrama sebab anak mereka sudah diambil alih kakek neneknya, tiba-tiba telepon Kendra berdering. Dirinya kaget saat tahu petugas polisi yang tengah menelponnya.
( Maaf Tuan? Benar ini dari Tuan Kendra Ardiansyah? )
( Ya benar, saya sendiri. Maaf ada apa ya Pak? )
( Disini ada Tuan Dafa Wardhana, beliau menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengaku telah membuat berita palsu mengenai anda dan keluarga hingga membuat nama baik kalian tercoreng. Kami ingin anda sebagai pihak korban datang kesini untuk dimintai keterangan.)
Kendra cukup terperanjat mendengarnya, ia tak menyangka Dafa rela mengakui kesalahannya sendiri. Mungkinkah benar dia ingin bertobat dan memperbaiki diri?
( Bagaimana Pak? Bisa anda datang kemari?)
( Oh iya, sebentar lagi saya pasti kesana)
KLIK
Tania memandang sang suami yang nampak gelisah setelah menerima telepon. Sedikit banyak ia mampu mencuri dengar tentang pembicaraan di telepon.
"Ada apa A? Kenapa Aa jadi gelisah gitu?" tanyanya penasaran.
"Barusan polisi bilang Dafa menyerahkan diri ke kantor polisi untuk mengakui kesalahannya. Aa sepertinya harus cepat kesana. " Kendra tak sabar ingin membersihkan nama baiknya.
"Alhamdulillah, semua masalah mulai menemukan titik terang." batinnya lega.
__ADS_1
Bersambung...