
"Lepaskan gadis itu!"
Teriakan seseorang mengalihkan atensi para preman, begitupun Tania. Mereka menatap bersamaan pemuda berjaket hitam dengan perawakan tinggi tegap tersebut.
Netra Tania membulat sempurna, suatu kebetulan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Begitupun pemuda itu, ia memastikan penglihatannya, takut apa yang dilihat hanya sebatas ilusi saja.
"Kak Zayyan!" pekik Tania setengah tak percaya. Spontan ia ingin berlari ke arah pemuda tersebut, tetapi kedua preman masih betah mencengkeram kedua tangannya.
"Heh..anak muda. Nggak usah ikut campur kalau masih pengen idup!"gertak salah satu dari mereka.
Netra Zayyan menatap sengit kepada para preman tersebut.
"Berani menyentuh Si Ucil? Itu artinya kalian cari mati!"
Para preman seolah tertantang, kuping mereka panas mendengar ucapan pemuda bau kencur itu. Salah satu dari merekapun maju untuk memulai duel.
Hanya dengan beberapa pukulan preman itu langsung terkapar oleh Zayyan. Tentu saja, sebab pria itu memang mantan pelatih beladiri SMA.
Para preman yang lainpun tak terima, mereka berusaha mengeroyok Zayyan. Pertikaian sengitpun akhirnya terjadi. Zayyan cukup kewalahan, tetapi pada akhirnya pria itu mampu melumpuhkan para preman hingga mereka lari terbirit-birit.
"Kak Zayyan hebat!" Tania bersorai kagum melihat para preman tunggang langgang.
Zayyan mendekati perempuan itu, sorot matanya menatap lekat gadis kecil yang selalu mengganggu pikirannya. Dan kesalnya, sampai kini gadis itu sama sekali tidak respek padanya. Mungkin karena Tania terlalu polos, hingga ia menganggap Zayyan hanya sebatas kakak saja.
"Ucil? Ternyata kamu di Jakarta? Pantes udah berbulan-bulan nggak kelihatan batang hidungnya tiap aku pulang. Ngapain kamu tengah malam disini? Perempuan nggak baik keluar malam-malam."
Baru ketemu Zayyan sudah menjejali Tania dengan sederet pertanyaan. Perempuan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab yang mana dulu.
Namun, irama perutnya yang meronta seakan menjawab pertanyaan lelaki yang ada di depannya.
"Kamu laper?"
Perempuan itu menyengir dan menganggukkan kepalanya ragu. Sebenarnya ia malu, tetapi debaynya di dalam perut sepertinya sudah tak tahan lagi.
"Ayo."
__ADS_1
Zayyan menarik tangan Tania hingga membuat perempuan itu sedikit terjingkat kaget. Pemuda itu lantas mengajaknya naik ke atas motor sport miliknya.
"Kak Zayyan mau mengajakku kemana?" Perempuan itu tak lantas naik.
"Mau makan nggak? Kamu nggak bakalan nemuin rumah makan yang buka disekitar sini."
Tania berpikir sejenak, tetapi karena ia benar-benar merasa lapar, iapun naik dan ikut kemana pemuda itu membawanya pergi.
Benar saja, kurang lebih 10 menit berkendara mereka baru menemukan sebuah restoran fast food yang buka 24jam.
Netra Tania berbinar saat pelayan mengantarkan makanan mereka. Perempuan itu berdo'a kemudian langsung melahap makanan dihadapannya. Ia seperti tidak makan tiga hari tiga malam saja.
Diam-diam Zayyan memperhatikan tingkah Tania. Sungguh menggemaskan baginya, Tania tidak pernah jaim dan selalu bersikap apa adanya.
"Pelan-pelan. Nggak ada yang bakal ngerebut makananmu." Zayyan terkekeh geli.
"Aku harus buru-buru, Kak. Takut suamiku nyari."
"Su-ami?"
Pemuda itu terperangah, tetapi sesaat kemudian ia kembali terkekeh mendengarnya.
"Ish..nggak mau lah pacaran sama Kak Zayyan. Ntar bisa-bisa aku digorok sama Bu Hamidah. Beneran kak sekarang aku sudah bersuami." perempuan itu memamerkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
Asa tinggalah asa, padahal tadinya ia pikir dipertemukan dengan gadis itu lantaran mungkin mereka memang berjodoh. Akan tetapi, kenyataan tidak sesuai ekspektasi. Patah hati iya, kecewa pasti, tapi Zayyan berusaha bersikap sewajarnya. Dirinya sering menembak Tania, tetapi gadis itu hanya menganggap gurauan saja.
"Cih..yang sudah bersuami, bangga amat. Punya suami istri kelaparan, tapi dibiarkan berkeliaran sendiri. Untung ada Bang Zayyan, kalau nggak jadi apa kamu tadi." balasnya percaya diri.
Seketika Tania teringat kekesalannya pada Kendra. Sindiran Zayyan cukup mengena dihatinya. Akan tetapi, ia tak mungkin menjelekkan sang suami di depan orang lain.
"Ngomong-ngomong Kak Zayyan ngapain juga keluyuran malam-malam? Abis apel ke pacar ya?" balas Tania menggoda.
"Ceck..pacar yang mana? Yang diajak pacaran aja dari dulu nggak peka. Aku baru tutup cafe, nggak sengaja lihat cewek diseret-seret ama preman. Tentu saja, jiwa kepahlawananku langsung muncul." tuturnya bangga.
"Ishh..tetep aja narsis. Tapi, makasih banyak lo kak. Kalau nggak ada kak Zayyan nggak tahu tadi aku bakal gimana. Emang kak Zayyan kerja? Bukannya kak Zayyan kuliah?" Yang Tania tahu anak bekas majikannya dulu kuliah di Jakarta.
__ADS_1
"Iya kuliah.Tapi iseng-iseng sama buka cafe. Alhamdulillah ramai, ni tadi jam 11an baru tutup. Kamu beneran udah nikah?" tanya pemuda itu serius.
"Iya Kak. Aku sudah menikah, ini juga lagi isi sekarang. Do'akan langgeng ya." jawab Tania jujur tanpa rasa berdosa.
Zayyan tersenyum datar, sepertinya harapannya sudah pupus dari sekarang. Akan tetapi, ia berusaha ikhlas. Asal Tania bahagia, iapun harus menerima dengan lapang dada.
Setelah menyelesaikan santap malam mereka, Taniapun meminta tolong pada Zayyan untuk kembali ke tempatnya semula. Ia berharap, sang suami sudah berada di sana sekarang dan menyesali keteledorannya.
Namun, begitu sampai disana ternyata Tania masih harus menelan kekecewaan. Kendra belum juga kembali.
Zayyan mampu membaca gurat kesedihan di wajah perempuan itu. Ia benar-benar penasaran dengan sosok suami Tania yang menurutnya bukan lelaki bertanggung jawab. Mana ada seorang suami baik tega meninggalkan istrinya dijalan sendirian tengah malam?
"Ucil? Mana suamimu sepertinya tidak datang? Apa kau mau ku antar pulang? Atau mau menginap di apartemenku saja?" godanya seraya mengerlingkan mata.
"Hish..ogah. Ntar malah diapa-apain lagi sama Kak Zayyan. Udah kak Zayyan peaja, aku akan menunggu di mobil. Makasih banyak untuk hari ini." ungkapnya tulus.
Lelaki itu enggan beranjak, ia duduk di tepi trotoar tak jauh dari mobil Tania berada.
"Disini dulu lah Cil. Lagian aku belum ngantuk. Aku bakal nunggu sampai suamimu datang. Temani ngobrol dulu, kita kan lama nggak ketemu. Anggap saja balasan buat aku karna udah nolongin kamu." pinta lelaki itu.
Tania menghela nafas panjang lantaran pemuda itu bersikukuh tak mau pergi. Keduanyapun akhirnya mengobrol sembari sesekali mengingat masa lalu mereka.
Malam semakin larut, hingga menjelang pukul 1 dini hari Tania sudah mulai menguap, tak kuat menahan kantuk. Sesekali gadis itu merapatkan tubuhnya lantaran hawa dingin yang seakan menusuk ke tulangnya.
Zayyan membuka jaket yang ia kenakan, lalu menutupi punggung perempuan itu. Ia sungguh tak tega melihat keadaan Tania. Perempuan itu tanpa sadar tertidur dipundaknya.
Pria itu menatap wajah ayu gadis yang ia kagumi selama ini. Tania merupakan salah satu pelayan tidak tetap dirumahnya. Gadis itu biasa bantu-bantu mencuci dan menyetrika pakaian sekaligus bersih-bersih dirumahnya.
Sejak awal dirinya sudah menyukai Tania, sering menggoda hingga kadang membuat jengkel gadis itu. Ia menyematkan julukan si Ucil dalam arti unyuk-unyuk, imut berbadan kecil.
Sungguh damai memperhatikan muka bantal Tania saat tertidur. Pria itu menyelipkan anak rambut Tania yang menghalangi pemandangannya.
Tanpa ia sadari, seseorang tengah menyorot tajam ke arahnya saat ini.
"Brengsek! Apa yang mau kau lakukan pada istriku?"
__ADS_1
Bersambung...
Maafkan author sering telat up n baca koment ya. Author sungguh sibuk akhir-akhir ini. Makasih untuk semua yang sudah mendukung. Love u all😍