
Sudah tiga hari Kendra berada di kampung halaman Tania. Pria itu merasa betah disana, untuk sejenak ia bisa melupakan segala kesibukan dan hiruk pikuk keramaian ibu kota. Suasana desa yang begitu tenang dan damai membuatnya merasa nyaman dan nyatanya mampu mengurangi sedikit beban pikirannya.
Apalagi hari-harinya diisi dengan kebersamaannya bersama Tania. Untuk pertama kalinya ia bisa merasa bebas bercengkrama dan saling berbagi kasih sayang tanpa harus bersembunyi dari siapapun.
Kendra bahkan dengan berani mengungkapkan statusnya sebagai suami Tania kepada para tetangga maupun sanak saudara istrinya. Maklum, akan dianggap sesuatu yang tabu di desa jika seorang wanita membawa pria bukan saudaranya menginap di rumah.
Pagi ini Tania ingin mengajak Kendra berjalan-jalan didekat pematang sawah. Jalan-jalan pagi memang sangat bagus untuk wanita hamil dan Kendra tak ingin melewatkan hal itu selagi dia ada waktu sekarang.
Kendra dan Tania tampak ramah menyapa warga sekitar yang sebagian besar sudah tahu tentang status mereka.
Bahkan, berita Tania datang ke kampung membawa pria tampan nan kaya jadi trending topik di kampungnya. Terlebih saat mereka tahu pria itu adalah suami Tania. Sebagian besar menanggapinya dengan tenang dan biasa saja, tetapi ada juga segelintir orang yang berpikir buruk tentang Tania. Mereka mempergunjingkan jika gadis itu sepertinya menjual diri atau menggunakan pelet sehingga bisa menggaet pria tampan dan kaya seperti Kendra.
Namun, Tania menyingkapi semuanya dengan bijak. Ia tak mau ambil pusing dengan semua itu, toh pada dasarnya mereka hanya bisa berkomentar sedangkan ia sendiri yang menjalaninya. Senang dirinya yang merasakan, sedih ia sendiri yang merugi. Tanpa ada rasa canggung keduanya saling bercanda dan bergandengan sambil sesekali menyapa warga yang lewat.
Kendra mengedarkan pandangannya ke hamparan padi yang hijau. Semilir angin pedesaan begitu segar dan menenangkan pikirannya, pria itu terlihat memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam.
"Apa Tuan nyaman berada disini? Pasti anda merasa jijik menginjak rerumputan tanpa mengenakan alas kaki." pikir Tania memperhatikan kaki Kendra yang sedikit berlumpur.
"Tidak. Aku justru merindukan suasana alam seperti ini. Dulu aku sering sekali ikut offroad bersama teman-teman kuliahku. Aku sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan alam."
Kendra merenggangkan otot-ototnya sambil melakukan olah raga kecil. Sesekali ia kembali menghirup udara segar alam pedesaan. Pria itu mendudukkan bobot tubuhnya diatas rerumputan dan meminta Tania untuk duduk disebelahnya.
Sejenak keduanya menikmati panorama alam yang tersaji begitu asri. Langit nan biru, bukit-bukit hijau, persawahan, burung-burung yang berterbangan serta nyiur pohon kelapa yang seolah menari diterpa angin segar. Tania menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, tangannya bergelayut di lengan kekar suaminya. Iapun sangat lega bisa bersama dengan Kendra tanpa harus menyembunyikannya dari orang lain.
"Besok aku akan mengajakmu dan keluargamu ke daerah Lembang, Bandung. Disana banyak sekali tempat wisata dan pemandangannyapun sangat bagus." tutur Kendra sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajah imut sang istri.
Senyum Tania mengembang sempurna, ia menatap lekat manik mata hitam milik sang suami.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih sudah memperjuangkanku hingga detik ini. Aku sangat bersyukur memiliki anda dalam hidupku." ungkapnya tulus.
"Aku juga sangat bersyukur memilikimu, Sayang. Kau hadir di sela hatiku yang kosong, tapi dirimu kini yang selalu memenuhi isi pikiranku. I love you, Baby."
__ADS_1
Keduanya saling menatap penuh damba, Kendra menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.
Taniapun membalas ciuman sang suami, keduanya saling berpagut dengan penuh kelembutan. Menyesapi bibir satu sama lain yang terasa begitu kenyal dan memabukkan. Saling *******, bertaut lidah dan mengabsen setiap inci dalam mulut pasangannya. Lama keduanya saling mencumbu penuh damba hingga tiba-tiba Tania mendorong pelan tubuh sang suami saat ia mulai kehabisan oksigen.
Ia memperhatikan sekitar, untung area persawahan itu sedang sepi pagi ini. Mereka hampir lupa jika saat ini tengah berada di alam terbuka.
"Untung tidak ada yang lewat. Kalau ada yang liat, bisa digrebek kita sekarang." tukasnya lega.
"Digrebekpun tidak apa-apa, dinikahkan lagi pun boleh. Asal itu sama kamu." goda Kendra mencubit hidung mungil nan mancung milik istrinya.
"Ish Tuan, sakit tau!" protesnya hendak membalas, tapi Kendra segera berlari.
Keduanya saling berkejar-kejaran dengan tawa yang mengembang sempurna. Hingga pria itu memilih mengalah dan membiarkan sang istri mencubit pinggangnya sampai puas sebab ia tak mau istrinya kelelahan. Iapun segera merengkuh tubuh Tania dan memasukkan ke dalam dekapannya.
" Semoga senyum ini akan selalu menghiasi hari-harimu tanpa ada airmata."
Kendra berharap setelah mendapat restu dari keluarga Tania, hubungan mereka akan semakin menemukan titik terang setelahnya. Ia bertekad untuk mengurus pernikahan mereka secara resmi agar diakui dimata hukum seusai pulang dari kampung halaman Tania.
***
Kendra dan Tania segera bergabung dengan Bu Minah dan adik-adiknya yang lain di ruang tengah seusai mandi dan membersihkan diri mereka. Karena tidak memiliki ruang makan yang besar, wanita paruh baya itu memilih menggelar tikar agar bisa dipakai bersama-sama.
Kendra menemukan kehangatan tersendiri dalam keluarga itu. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental dalam keluarga yang bisa dibilang hidup dengan kesederhanaan. Disini ia menyadari bahwa bukan hanya kekayaan yang bisa membuat seseorang bahagia, tetapi hidup sederhana yang diliputi rasa syukurpun bisa menjadi definisi bahagia bagi sebagian orang.
"Tuan, saya jadi teringat Non Zaskia. Dia selalu memuji masakan Bibi dan sering nambah makan kalau disuguhi yang seperti ini."
"Iya, Bu. Nasi, ayam bakar, tahu, tempe lalapan makannya pakai tangan. Beuh..mantap pokoknya. Aku nambah lagi ya Bu." Kendra menciduk nasi kembali dan memasukkan ke dalam piringnya.
Mendengar nama Zaskia diucap, dirinya jadi teringat sang istri. Sudah tiga hari ia mematikan ponselnya, ia yakin Zaskia pasti menghubunginya berkali-kali.
" Sebaiknya aku menghubungi Zaskia setelah ini." Bagaimanapun ia tak boleh mengabaikan istri pertamanya.
__ADS_1
Benar saja, ketika Kendra membuka ponselnya, puluhan pesan dan ratusan panggilan tak terjawab terpampang nyata disana.
*Mas aku rindu padamu
Mas kenapa kau tidak mengajakku?
Mas kenapa kau tidak membalas pesan atau mengangkat panggilanku
Mas aku ingin sekali menyusulmu
Mas kenapa kau tega mengabaikanku*?
Dan masih banyak pesan dari Zaskia masuk ke ponsel Kendra hingga membuat pria itu berinisiatif menghubungi nomor istrinya.
Kendra mencoba beberapa kali, tetapi panggilannya tak kunjung diangkat oleh Zaskia padahal ponsel istrinya itu masih aktif.
" Kemana dia?" batinnya penasaran sambil terus mencoba menghubungi Zaskia.
***
Sementara itu, Zaskia berusaha meraih kesadarannya saat mendengar ponselnya terus-terusan berbunyi. Wanita itu mencoba beranjak, tetapi alangkah terkejut dirinya menyaksikan tubuhnya polos dan hanya tertutup oleh selimut.
Wanita itu mengedarkan pandangannya, ia nampak asing dengan kamar yang dihuninya saat ini. Perasaan takut, gelisah dan cemas meliputi dirinya saat mendengar bunyi gemericik air di kamar mandi.
"Mungkinkah aku melakukan kesalahan yang sama?" batinnya bergemuruh.
Zaskia langsung mengecek ponselnya yang terus berdering sedari tadi. Alangkah terkejut dirinya saat melihat id caller disana tertulis My Hubby.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini?"
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗