
PYARR...
Dentingan gelas terlempar ke lantai hancur berkeping-keping seperti remuknya hati Dafa saat ini. Hatinya terkoyak mendengar laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika Zaskia telah melakukan aborsi hari ini atas persetujuan suaminya. Netranya memerah menahan air mata yang seakan ingin mencuat mewakili gerimis di hatinya saat ini.
Asanya telah terlanjur melambung tinggi, membayangkan akan memiliki seorang anak yang lucu dari wanita yang sampai sekarang masih bersemayam dihatinya. Namun, sekarang tubuhnya seakan dihempaskan begitu saja hingga menyisakan luka yang teramat perih didalam jiwanya.
Dua kabar buruk ia terima hampir bersamaan. Minggu lalu baru saja ia mendapat surat gugatan cerai dari Julia. Perempuan itu memilih menyerah dari pada mencintai sendiri. Ia tahu jika Dafa diam-diam masih mengorek informasi tentang Zaskia. Hatinya kembali sakit, tetapi Julia memilih pasrah pada kenyataan tanpa berpikir untuk mengakhiri hidupnya seperti dulu.
"Aku tahu ini hanya akal-akalanmu saja Kendra. Bahwasanya kau hanya tak ingin Zaskia memiliki anak dari pria lain. Breng**k aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!" umpatnya memendam amarah.
***
__ADS_1
Sementara itu, di rumah sakit Kendra dan Tania menunggu jalannya operasi Zaskia dengan perasaan was-was. Keduanya baru bisa bernafas lega setelah Dokter keluar dan menyatakan operasinya berjalan dengan lancar tinggal menunggu Zaskia kembali siuman.
"Sayang, sebaiknya kau pulang dulu. Biar aku saja yang menemani Zaskia disini. Kau pasti lelah, aku tak ingin kamu dan anak kita malah sakit nanti." ujar Kendra penuh perhatian.
"Nggak pa-pa A. Aku baik-baik saja, Aa nggak perlu khawatir. Aku justru kasihan dengan kak Zaskia, dia pasti sedih karena harus kehilangan anaknya." perempuan itu menatap sendu wanita yang terbaring lemah di atas brankar. Sungguh banyak sekali ujian yang harus dilewati oleh Zaskia, mungkin ia sendiri belum tentu sanggup tegar bila berada di posisi seperti itu.
Kendra sendiri semalaman yang menjadi sandaran bagi Zaskia untuk meluapkan kesedihannya. Wanita itu merasa bersalah luar biasa lantaran dengan sengaja akan menggugurkan kandungannya dan itu sama artinya ia membunuh anaknya sendiri. Meskipun itu bukan anak dari Kendra, melihat suaminya dapat menerima dengan baik tentu iapun sangat antusias dengan kehamilannya. Iapun telah mengecewakan kedua orang tua Kendra yang begitu bahagia mendengar kehamilannya waktu itu.
"Jaga istriku baik-baik dan pastikan aman sampai rumah. Jangan menatapnya lebih dari tiga detik, jangan banyak mengobrol dan jaga jarak aman."
Tania dan Zayyan menatap jengah pada lelaki yang semakin kolot saja sepertinya. Namun, Tania senang sebab itu artinya Kendra benar-benar menyayanginya.
__ADS_1
Perempuan itu akhirnya pulang meninggalkan Kendra sendiri diruangan Zaskia. Pria itu menyibukkan diri di depan laptob sembari sesekali memperhatikan jikalau ada pergerakan dari Zaskia.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, terdengar irama perut Kendra yang meronta-ronta ingin diisi. Pria itu sampai melupakan makan malamnya lantaran terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Ia memilih delivery order tanpa perlu meninggalkan Zaskia lama-lama.
Namun, ternyata makanan yang dipesan Kendra hanya bisa mengantar hingga depan gerbang rumah sakit. Dengan terpaksa pria itu keluar untuk membayar pesanannya terlebih dahulu.
Saat Kendra pergi, disitulah Dafa memberanikan diri untuk masuk dan menemui Zaskia. Pria itu berjalan mendekati brankar dan menatap intens wanita yang masih enggan membuka matanya.
Perlahan pria itu menyapu pipi putih Zaskia kemudian mengunci dagunya cukup kencang hingga membuat wanita tersebut sadar kembali.
"Kau?"
__ADS_1
Bersambung...