
Zaskia mulai nyaman bercengkrama dengan kedua orang tua Kendra. Mereka banyak memberi wejangan terutama dalam masalah rumah tangganya bersama Kendra.
"Kia, Mama tahu ini berat, apalagi kamu adalah istri pertama Kendra. Butuh kesabaran yang lapang untuk menerima semua ini. Mama harap kamu bisa mengikhlaskan apa yang telah menjadi kehendak-Nya. Tolong kasihanilah anak yang berada di rahim Tania, ia butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya." Bu Santi menggenggam jemari menantunya, netranya berkaca-kaca mengharap belas kasih dari sang menantu.
Hati Zaskia sedikit terketuk karenanya, ia sendiri merasa kotor dan banyak melakukan kesalahan terhadap suaminya. Mungkin dengan mengikhlaskan semua ini, Tuhan berkenan mengampuni dosa-dosanya terhadap sang suami.
"Akan ku coba, Ma. Tapi Kia butuh waktu untuk menata hati dan menerima semua ini. Jujur, hati ini terasa ngilu melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain di depanku." ungkapnya jujur.
Bu Santi merengkuh sang menantu ke dalam pelukannya dan membiarkan Zaskia melampiaskan kesedihan dihati yang terpendam selama ini.
"Terima kasih atas pengertianmu, Nak. Mama juga selalu mendoakan agar kalian semua dapat berbahagia. Ikhlas menjalani takdir Alloh untuk mendapatkan keridhoan-Nya."
Suasana ruang keluarga semakin mengharu biru dengan tangis kedua wanita beda zaman tersebut. Namun, dengan mengeluarkan keluh kesah dan segala uneg-uneg yang terpendam selama ini membuat hati Zaskia sedikit lega.
Keduanya melepas pelukan saat Bi Marni mengantarkan minuman dan cemilan untuk dinikmati para majikannya. Wanita itu sengaja membuat lumpia ayam dan sayur kesukaan Zaskia sebagai teman minum teh sore ini.
"Makasih, Bi. Bibi paling ngerti kesukaan Kia." ungkapnya dengan netra berbinar.
Dengan tak sabar wanita itu langsung mencomot lumpia kesukaannya. Akan tetapi, saat baru menggigit sedikit ia merasa perutnya seakan diaduk-aduk hingga menimbulkan rasa mual karenanya.
Zaskia berlari menuju wastafel, ia segera memuntahkan apa yang ada didalam perutnya.
Hoek..hoek...
Bu Santi jadi khawatir mendengar Zaskia muntah-muntah. Beliau mengambil minyak kayu putih dan segelas air hangat kemudian menyusul sang menantu yang kini tampak pucat dan lemas. Wanita itu mengoles minyak kayu putih disekitar tengkuk leher Zaskia seraya meminta sang menantu untuk meminum air putih hangat yang dibawanya.
"Apa masih mual? Kamu pucat, Nak. Badanmu agak demam." ungkap Bu Santi kala menyentuh kening Zaskia.
"Sudah mendingan, Ma. Mualnya mulai agak berkurang, tinggal pusing sedikit. Kayaknya Kia masuk angin."
__ADS_1
Tiba-tiba Bu Santi mengulum senyumnya, "Apa kamu sudah mendapat tamu bulanan, Nak?"
Zaskia menatap dengan dahi berkerut, dirinya sendiri sampai lupa kapan terakhir menstruasi akibat beban dipikiran yang ditanggungnya belakangan ini.
"Kia lupa. Memangnya kenapa, Ma?"
"Mama harap kamu juga membagikan kabar baik seperti Tania. Alangkah senang hati Mama jika kedua menantuku sama-sama hamil."
DEG..
Perkataan Bu Santi barusan hampir membuat jantung Zaskia lepas dari peraduannya.
"Ti,tidak mungkin, Ma."
"Kenapa tidak mungkin, nak? Apa kamu masih KB?"
Zaskia menggelengkan kepalanya pelan, antara bingung dan tak percaya. Dirinya masih belum bisa mencerna ucapan mertuanya.
Karena jadwal panggungnya yang padat dan beban stress yang dia alami, membuat Zaskia sampai tak kepikiran jika sampai dirinya hamil.
"Coba tes dong Kia. Siapa tahu nanti bisa jadi surprise saat Kendra kembali kesini." bujuk Bu Santi kembali.
" Tidak, tidak mungkin. Aku tidak boleh hamil. Ya Tuhan..jangan sampai semua ini terjadi. Bahkan Mas Kendrapun belum sempat menyentuhku semenjak kedatanganku di rumah ini. " batinnya tak tenang.
***
Kendra dan Tania memutuskan kembali ke kota selepas sholat subuh. Inilah salah satu hal yang akan begitu dirindukan oleh Kendra, dikampung dirinya bisa melakukan sholat berjamaah bersama warga karena kebetulan rumah Tania berada disamping mushola.
Hal yang pasti sangat sulit ia lakukan saat berada dikota dengan segala kesibukannya. Jujur, hatinya begitu tenang dan tentram ketika berada di desa. Pria itu berdoa seusai sholatnya, mengharap Tuhan memberi kemudahan atas segala masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
__ADS_1
Seusai sholat, Kendra dan Tania berpamitan pada Bu Minah sekeluarga. Bu Minah memeluk putri dan menantunya, tanpa terasa airmatanya bergulir seiring restu yang diberikan untuk keduanya.
" Tuan, tolong titip putri saya. Maaf jika dia sedikit merepotkan karena usianya yang masih terlalu muda. Hargai keberadaannya dan bimbinglah dia untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarganya nanti." pesan Bu Minah pada menantunya.
"Iya, Bu. Insyaalloh saya akan menjaga dan membimbing Tania. Doakan kami bisa menjalankan rumah tangga kami dengan baik dan diberkahi dengan ridho-Nya. Kami pamit dulu."
Keduanyapun pergi melangkah meninggalkan rumah yang beberapa hari ini memberi kehangatan bagi mereka. Taniapun tak kuasa menahan airmata perpisahan dengan keluarganya. Wanita itu menangis sesenggukan di dalam mobil. Rasanya ia masih enggan untuk berpisah dengan mereka.
Jujur saja, hati dan pikiran Tania masih labil. Mungkin ini dikarenakan umurnya yang masih begitu belia.
Jika saja waktu dapat diputar, ia akan memilih untuk tetap didesa dan menjalani aktifitasnya seperti biasa. Dirinya tak perlu dibebani dengan segenap masalah orang dewasa dan bisa hidup layaknya remaja pada umumnya.
Kendra menghentikan laju mobilnya sesaat, ia tak tega melihat sang istri menangis terus-terusan seperti ini.
"Kau kenapa? Aku mohon jangan menangis lagi. Disini..juga ikut sakit." Pria itu mengarahkan jemari Tania ke dadanya.
"Maaf, Tuan. Rasanya aku ingin tinggal bersama keluargaku. Apa sebaiknya aku tetap di kampung. Dikota sudah ada Non Zaskia yang menemani anda. Mungkin dengan begitu semua akan kembali seperti sedia kala." kata itu tiba-tiba saja mencelos dari mulut Tania. Ketegaran yang sekian lama dipupuk oleh wanita itu entah kenapa seakan luntur setelah bertemu dengan keluarganya. Isak tangisnya tak kunjung surut, sepertinya gadis itu tengah meluapkan apa yang dipendamnya selama ini.
Kendra menangkup kedua pipi Tania, kedua netranya menatap lekat pada gadis yang sekarang telah berstatus sebagai wanita.
"Semua tidak akan bisa kembali seperti semula. Mungkin ini sudah menjadi takdir yang telah digariskan untuk kita jalani. Aku mohon tetaplah berada disisiku, demi aku dan juga demi anak kita. Demi cinta yang telah tumbuh dan bersemi didalam hati ini. Tania Ardiansyah..bisakah kau bertahan disisiku? Mengarungi bahtera rumah tangga meskipun ku tahu aku bukanlah pria yang sempurna yang bisa memberikan jiwa dan ragaku seutuhnya?"
Kedua netra itu saling menatap lekat, menyelami isi dalam hati masing-masing. Tania bisa melihat, bahwa disini bukan hanya dia saja yang menderita, bukan hanya Zaskia, Kendrapun sebenarnya mengalami tekanan yang sama.
Gadis itu mengangguk pelan. "Aku akan tetap bertahan disisimu, Tuan. Menjalani takdir yang memang mungkin telah digariskan. Demi ini, demi ini dan juga demi yang kini telah berada disini." Tania memilih bertahan demi hati Kendra dan hatinya yang kini telah saling terpaut dan demi calon buah hati yang telah dititipkan pada mereka.
Kendra memeluk erat tubuh Tania, ia bersyukur perempuan itu mau kembali meneguhkan hatinya.
"Terima kasih sayang, untuk semuanya. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Bersambung...