Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 75


__ADS_3

Kendra masuk ke dalam ruangan tempat Zaskia dirawat. Netranya tertuju pada seorang wanita bertubuh lemah tengah menangis pilu diatas brankar.


Lelaki itu berjalan mendekat, masih berdiri sembari menatap wanitanya dengan tatapan tak terbaca. Yang jelas hati Kendra benar-benar kalut, antara cinta, kecewa, sedih, terluka bercampur aduk jadi satu dalam pikirannya.


Hatinya kecewa sekaligus terluka mengingat Zaskia kini tengah mengandung benih lelaki lain. Jika saja wanita itu menurut kata-katanya, mungkin saja hal itu tak akan pernah terjadi. Akan tetapi, inilah takdir yang mungkin sudah digariskan untuk mereka.


Yang jelas ia mengutuk pria yang dengan berani memperkosa istrinya, ia yakin Zaskia begitu terluka waktu itu. Ingin sekali ia mengorek tentang baji**an itu untuk memberi pelajaran, tetapi mengingat kondisi Zaskia, ia takut malah membuka kembali luka yang telah dipendam oleh sang istri.


Sekarang dirinya kembali dihadapkan kenyataan bahwa istrinya mengidap penyakit berat. Bagaimana bisa ia tega melukai perasaan wanita yang tak berdaya ini?


Netra Kendra terkesiap kala ia merasakan jemari tangannya ditarik oleh Zaskia. Tatapan wanita itu sungguh menyedihkan, membuat siapapun yang melihat pasti merasa iba padanya.


"Mas.. Aku mohon maafkan aku. Sungguh aku tidak pernah berniat mengkhianatimu. Aku ingin menggugurkan kandungan ini kerena aku tidak mau mengandung benih pria tak beradab itu. Aku tidak ingin berpisah darimu, mas." Zaskia berkata dengan suara seraknya. Wanita itu takut Kendra menceraikannya setelah tahu ia hamil anak orang lain.


Pria itu masih tak bergeming, jika boleh Kendra sendiri rasanya ingin menangis saat ini. Hatinya perih merasakan apa yang baru didengarnya barusan.


"Mas, ngomong mas. Aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Hatiku pun sakit." Zaskia kembali tergugu melihat sang suami hanya diam seribu bahasa.


"Aaahh.."


Zaskia merasakan nyeri dibagian perut dan persendiaannya.Tulangnya seakan tertarik dari daging kulit, mulai bercucuran keringat dingin dari tubuh wanita tersebut.


"Kia, kamu kenapa?"


Kendra sangat panik, ia segera memanggil dokter untuk menangani sang istri. Jantungnya seolah diajak berpacu kala melihat kondisi Zaskia yang tidak stabil.


Pria itu segera keluar saat dokter masuk dan memeriksa kondisi Zaskia. Ia menjatuhkan bobot tubuhnya dikursi tunggu dengan perasaan gelisah.


" Ya Rabb..Tolong angkatlah penyakit dari tubuh istriku. Terlepas dari segala kesalahan yang ia lakukan, aku benar-benar mengharapkan kesembuhannya." doanya tulus dalam hati.

__ADS_1


Setelah dokter keluar dari ruangan itu, Kendrapun masuk dan mendapati istrinya telah tidur akibat pengaruh obat. Pria itupun duduk disamping pasien. Rasanya ia tak tega meninggalkan wanita itu, sedangkan Zaskia sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini.


***


"Dimana aku?" gumam seorang gadis dengan suara khas bangun tidur.


Tania mengucek kedua matanya untuk meraih kesadaran. Perempuan itu terkejut saat mendapati dirinya masih berada di dalam mobil seorang diri. Ia memperhatikan sekitar, jalanan nampak sepi, warung bekas ia makan bersama Kendra sudah mulai membongkar tenda mereka.


"Kemana mas Kendra? Apa dia meninggalkanku sendiri disini?"


Ada rasa kesal yang bercokol dihatinya, terlebih ia melihat ponsel dan waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Tidak sadarkah sang suami meninggalkannya seorang diri ditengah jalan?


Jika saja dia bisa menyetir tentu ia bisa pulang seorang diri. Akan tetapi, harusnya Kendra tahu dirinya sama sekali awam dengan si kuda besi itu.


Mata Tania mulai berembun dan sedikit lagi sepertinya buliran air mata tak mampu ditahannya lagi. Apalagi ketika dia melihat mobil Zaskia sudah tidak ada disana, kemungkinan Kendra pulang bersama wanita tersebut dan lupa akan keberadaannya.


"Sudah Tania. Bukankah kau sudah terbiasa mengalah. Tidak perlu meratapi hal seperti ini." batinnya mencoba tegar, tetapi jiwanya berkata lain. Ia menghapus jejak airmata yang lolos begitu saja menyusuri pipi cantiknya.


Wanita itu mencoba memejamkan netranya kembali, berusaha bersahabat dengan hembusan angin malam yang terasa dingin menyapu tubuhnya. Berharap sang suami yang lupa ingatan segera mengingat apa yang telah ia tinggalkan.


Akan tetapi semakin lama justru netranya semakin sulit untuk terpejam. Ada rasa cemas dan khawatir mulai melanda sebab dirinya berada di pinggir jalan seorang diri.


Hal seperti itu masih bisa ditolerir olehnya karena dirinya telah mengunci pintu mobil rapat-rapat.


Krucuk..Krucuk..


Nah, hal inilah yang paling ditakutkan oleh Tania. Kebiasaan makan tengah malam membuat perempuan itu mendengarkan alarm tanda laparnya saat ini.


"Astaga..kenapa harus lapar sih? Dek kamu nggak tahu apa disini nggak ada siapa-siapa. Ibu nggak tahu harus cari makan kemana?"rutuknya seorang diri. Kembali mencoba terpejam, tetapi semakin sulit. Alhasil ia hanya membalik-balikkan tubuhnya diatas kursi kemudi.

__ADS_1


Hahhh..


Tania mulai jengah, ia memilih untuk keluar sebentar barang kali didekat sana masih ada warung buka. Setidaknya ia masih bisa mengunci mobil sebab sering memperhatikan sang suami.


Perempuan itu berjalan ditepi trotoar. Hampir sepuluh menit berjalan, tetapi sialnya tidak ada satu warungpun yang buka.


Tania memutuskan hendak berbalik arah, tetapi netranya terkesiap melihat empat orang preman yang berada tak jauh darinya. Entah perasaannya saja atau bagaimana, keempat lelaki itu menghunuskan tatapan seolah hendak menelanjanginya hidup-hidup.


Tania menundukkan wajahnya, berusaha berjalan secepat mungkin melewati ke empat preman tersebut. Namun, tanpa diduga keempat berandalan itu justru menghalangi jalannya.


"Mau kemana cantik? Buru-buru amat?"goda salah satu dari mereka. Lelaki itu berniat menyentuh tubuh Tania, beruntung perempuan itu bisa menghindarinya.


"Tolong jangan ganggu saya. Saya mau pulang." Demi apapun Tania sangat ketakutan sekarang, tetapi ia tak ingin menunjukkan rasa takutnya didepan para preman.


"Emang dari mana?Abis dagang ya? Sekali yuk sama kita-kita." goda yang lainnya sembari memberi isyarat pada teman-temannya.


Keempatnya mengerubungi Tania, membuat perempuan itu mundur teratur.


"Maaf saya perempuan baik-baik. Jangan ganggu saya." pastinya hampir semua wanita ketakutan bila berada dalam posisi Tania.


"Wanita baik-baik kok keluyuran sendiri malam-malam. Udah nggak usah jual mahal, lagian kita-kita bisa buat kamu melayang lo cantik."


Tania semakin ketakutan, ia berusaha kabur, tetapi kedua orang preman berhasil menangkapnya. Perempuan itu ingin memberontak, tetapi tenaganya tak kalah kuat dari kedua preman yang mencekalnya.


"Tolong..Tolong..!!"


Tania hanya mampu berteriak, ia benar benar ketakutan saat ini.


"Hei, lepaskan gadis itu!"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍


__ADS_2