
Bu Minah merenungi keputusan putrinya, wanita paruh baya itu mencoba berpikir sejenak barang kali ada sanak saudara yang mungkin bisa membantu mereka.
"Neng? Sebenarnya kamu ingin pindah kemana? Apa kamu sudah memiliki tujuan yang jelas,Nak? " Bu Minah takut Tania hanya terbawa emosi sesaat hingga memutuskan sesuatu hanya berdasarkan nafsu semata.
"Tania belum tahu, Bu. Tetapi mendengar cerita Ibu, bukan tidak mungkin warga akan semakin geram melihat keberadaanku disini. Aku takut mereka bertindak anarkis yang membahayakan calon anakku." ungkapnya sendu. Bahkan dikampung sendiri pun Tania seakan tidak diterima dengan baik.
"Kamu tahu kan Neng. Disini ibu sudah tidak punya siapa-siapa. Kalau dari almarhum Bapakmu, ada adik laki-lakinya Om Herman. Dia tinggal di Surabaya ikut keluarga istri. Seandainya dekat, Ibu bisa minta tolong padanya. Keluarga mereka baik dan religius. Om Herman juga katanya mengajar ngaji disana." terang Bu Minah menerawang.
Tania seolah mendapatkan angin segar mendengarnya.
"Boleh juga itu, Bu. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Om Herman? Tania belum siap menerima hujatan dari orang-orang. " jujur ia tidak sanggup jika harus kembali dihina seperti kejadian semalam.
"Tapi kita harus mengabarinya dulu Neng. Lagipula untuk kesana juga butuh biaya yang tidak sedikit untuk ongkos perjalanan." terang Bu Minah ragu.
"Kalau masalah biaya, InsyaAlloh Tania ada. Bagaimana kalau kita persiapan saja, nanti kita kabari beliau setelah tiba di Surabaya?" ingin Tania menggebu-gebu.
Bu Minah masih ragu, tetapi melihat tekad Tania saat ini membuat wanita itupun akhirnya menyetujuinya. Lagipula benar kata Tania, jika besok warga tahu Tania datang, ia takut anaknya akan dihujat dan disakiti.
Akhirnya malam itu juga Tania, Bu Minah dan keempat adiknya nekad pergi meninggalkan rumah. Tania menyelipkan secarik surat dibawah pintu. Berharap besok Zayyan tahu dan membaca pesan darinya.
***
Paginya Zayyan sengaja mendatangi kediaman Tania untuk memastikan keadaan perempuan itu. Ia sedikit heran melihat kediaman itu nampak lengang seolah tak berpenghuni. Padahal biasanya adik-adik Tania suka bermain di halaman rumah.
__ADS_1
"Orangnya udah pergi, Den. Nggak ada siapa-siapa dirumah. Baguslah,, biar nggak nambah aib dikampung kita." celetuk salah satu tetangga julid Bu Minah.
Panas juga telinga Zayyan mendengar emak-emak itu menghina keluarga Tania.
"Bu? Rasanya tidak pantas ya kalau kita menuduh seseorang tanpa bukti dan tahu kebenarannya. Itu jatuhnya fitnah dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." geram Zayyan berusaha menekan sabar.
"Lha ya buktinya sudah jelas. Selebaran-selebaran kemarin yang dikirim ke kampung ini, terus berita di tv kurang bukti apalagi coba. Lakinya juga sama yang waktu itu pernah diajak kesini." kekeuh ibu itu tidak terima.
Zayyan menghela nafas kasar.
"Saya yang bekerja pada suami Tania. Saya yang tahu kebenarannya dan keluarga mereka sedang difitnah. Bos saya sudah lapor polisi, barangkali sekalian ada yang mau ngompor-ngompori boleh sekalian kalo mau ikut nginep di kantor polisi." Skak Zayyan hingga mampu membuat ibu tadi kicep dan segera pergi dari sana. Kesal juga rasanya meladeni mak-mak julid rempong yang cuma suka melebih-lebihkan berita.
Zayyan berjalan mendekati pintu untuk memastikan. Tanpa sengaja netranya menangkap secarik kertas dibawah pintu.
Assalamu'alaikum
Terima kasih atas segala bantuannya, maaf Tania pergi tanpa pamit
Aku ingin mencari ketenangan dulu kak, tolong tidak perlu dicari
Titip pesan untuk suamiku..
Terimakasih untuk semua kenangan dan luka yang telah tertoreh dihati ini
__ADS_1
Kehadiranku dulu bukanlah sesuatu yang diharapkan
Aku memang hanyalah benalu diantara hubungan Mas Kendra dan Zaskia
Aku pamit, harapanku semoga setelah kepergianku ini semua akan indah seperti sedia kala
Kak Zaskia sangatlah berharga, sedangkan aku hanyalah gadis kampung yang tak bernilai harganya
Semoga A Kendra bahagia dan terima kasih untuk buah hati yang telah tertanam dalam rahimku ini
InsyaAlloh aku akan menjaga dan membesarkannya dengan sepenuh hati.
Pamitku
Tania
***
Zayyan benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya Tania sampai berniat kabur segala. Mungkin tekanan batin dan pembawaan hamil membuat emosinya jadi tidak stabil. Ditambah perempuan itu memang masih sangat belia sehingga cara berpikirnya belum cukup dewasa.
Zayyan membuang nafas kasar, otaknya terus berputar memikirkan kemana lagi harus mencari Tania.
Namun, seseorang tiba-tiba menarik kertas itu darinya. Zayyan terkesiap melihat sosok yang hadir dibelakangnyà.
__ADS_1
"Bos?"
Bersambung...