
Malam itu Zayyan akhirnya benar-benar membawa Tania ke kampung halaman mereka. Masa bodoh dengan atasannya, ia membawa mobil Kendra untuk mengantar istrinya sendiri. Ia sudah tidak peduli mau disemprot atau dipecat oleh atasannya.
"Neng, kita sampai kayaknya hampir tengah malam. Apa nggak terlalu kemalaman? Atau kita nginep dulu di hotel, besok pagi berangkat lagi? Lagian mata kamu bengkak gitu, ibuk pasti cemas lihat kamu kaya gitu." Zayyan menyarankan.
Maklum, rumah Tania memang masuk gang dalam. Jika ada mobil lewat tengah malam, pasti banyak warga yang kepo. Berbeda dengan rumah Zayyan yang berada di tepi jalan dan bisa dikatakan berasal dari keluarga berada.
Tania menghela nafas kasar, dulu saja sewaktu ia membawa Kendra ke kampung cukup menghebohkan warga sekitar. Akan tetapi, sekarang ini sudah kepalang tanggung, ia ingin cepat sampai ke rumahnya.
Perempuan itu segera menghapus airmatanya. Ia tak ingin menunda-nunda kepulangannya, iapun butuh saran dari sang ibu. Tak sanggup rasanya menanggung beban sendiri.
"Langsung aja, Kak. Masalah nanti biar kupikirkan nanti." jawabnya ketus.
Tania terkesiap ketika Zayyan menghentikan laju mobil lalu menyodorkan sebuah kaca mata hitam padanya.
"Buat apa?"
"Buat nutupin mata kamu yang bengkak. Jadi pas pulang kelihatan kerennya bukan sedihnya." goda pemuda itu sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Nggak lucu."
Tania mengerucutkan bibirnya menahan geli melihat tingkah absurd Zayyan barusan. Sejenak pria itu sedikit mengikis luka dihatinya.
"Nggak pa-pa kan aku bukan badut bukan pelawak. Aku hanya pujangga yang ingin menghibur pujaan hatinya."
__ADS_1
"Udah ah Kak, jangan ngegombal mulu. Haram menggoda istri orang." tak ingin termakan gombalan, tetapi perempuan itu sukses dibuat merona oleh Zayyan. Tania sudah tidak heran, memang dari dulu Zayyan selalu seperti itu. Pria itupun kembali melajukan mobilnya menuju kampung mereka.
Hampir jam 12 malam mereka akhirnya sampai di kediaman Tania. Mendengar deru mobil di luar rumah, salah satu adik Tania langsung berhambur keluar.
"Kak Tania? Untung Kakak pulang. Ibu Kak, ibu dari tadi menangis di kamar." adu adik kedua Tania saat sang kakak tiba.
Tania terkesiap mendengarnya, iapun berniat menengok ibunya di dalam. Zayyanpun berpamitan pulang ke rumahnya dulu sebab tak enak bertamu tengah malam.
"Neng? Nanti kamu disini berapa lama? Mungkin lusa aku balik ke Jakarta barangkali kamu berubah pikiran mau ikut."
"Lihat nanti saja, Kak. Tania ingin menenangkan pikiran dulu. Kak Zayyan ke Jakarta duluan saja. Kan Kak Zayyan harus kerja." ucapnya tersenyum getir.
Entahlah, Tania belum kepikiran untuk kembali. Serasa dirinya tidak terlalu diharapkan disana.
" Ya sudah, aku balik dulu. Besok aku kesini lagi."
Sewaktu akan membuka pintu, ragu-ragu sang adik mengungkapkan hal yang terjadi malam tadi.
"Kak tadi habis isya' banyak ibu-ibu pada kesini marah-marah. Mereka bilang kak Tania perempuan nggak bener, malu-maluin kampung sini." ucapnya lirih.
DEG..
Tania tercengang mendengarnya, mungkinkah berita tadi sudah sampai ke kampungnya. Perempuan itu menerobos masuk ke kamar sang ibu. Ia khawatir akan penyakit Bu Minah.
__ADS_1
Tampaklah wanita itu tidur memunggunginya. Perlahan Tania duduk di tepi ranjang sang ibu.
"Ibu? Maafkan anakmu ini Bu."
Tangis Tania seketika membucah, lidahnya seakan kelu untuk sekedar berkata-kata. Tubuhnya bergetar menahan sesak yang melanda. Perempuan itu menangis tergugu di samping tubuh sang ibu.
Bu Minahpun sebenarnya belum tidur. Sama halnya seperti Tania, wanita itupun dilanda kesedihan tak berkesudahan. Sepanjang malam ia menangis, hati ibu mana yang tidak sakit anaknya dihujat dan dihina tanpa mereka tahu kebenarannya.
Bu Minah langsung berhambur dan memeluk anak perempuannya satu-satunya. Keduanya saling mendekap menyalurkan kesedihan sekaligus memberikan ketenangan satu sama lain.
"Tania harusnya kamu tidak kesini dulu, Nak. Ibu tak tega melihatmu nanti dihujat warga, entah berita dari mana sampai mereka bisa menuduhmu yang bukan-bukan tanpa tahu kebenaran." ungkap Bu Minah nelangsa.
"Pulang kemana, Bu? Satu-satunya rumahku disini. Disana sepertinya aku tidak diharapkan lagi." jawabnya menagis pilu. Ia rasa Kendra sudah kembali mencintai istrinya, apalagi Zaskia sudah mau mengungkapkan pernikahan mereka.
Bu Minah semakin tergugu mendengarnya, mungkin beginilah nasib kalangan bawah terkadang hidup seakan hanya dipermainkan.
"Apa kamu yakin suamimu sudah tak mengharapkanmu? Ibu lihat Tuan sayang padamu. Apalagi, kamu hamil anaknya, Nak." Bu Minah menatap nanar kandungan Tania yang sudah cukup besar.
Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran dibenak Tania,
"Bu? Bagaimana kalau kita pergi jauh dari sini. Tania ingin memulai semua dari awal Bu. Jika Tania pergi sendiri, Tania pasti kepikiran ibu dan adik-adik."
Bu Minah terpaku di tempatnya, "Apa kamu serius, Neng?"
__ADS_1
Perempuan itu mengangguk yakin, meski tak memiliki tujuan yang jelas. Akan tetapi, satu hal yang pasti. Ia tak ingin jadi benalu di hidup Kendra.
Bersambung...