
Sebenarnya hati Kendra bertanya-tanya, tidak biasanya Tania tidur di kamar Zaskia. Namun, menilik kedua wanita itu telah tertidur pulas, Kendra memilih tidur disofa kamarnya setelah membersihkan diri. Rasa kantuk dan penat cukup mudah membuat lelaki itu terlelap ke alam mimpi.
Pukul tiga dini hari Tania sudah terbangun oleh alarm alaminya. Perempuan itu baru menyadari jika dirinya semalam tertidur di kamar Zaskia. Padahal, awalnya ia berniat menunggu kedatangan sang suami sambil menemani Zaskia, tetapi teryata rasa kantuk menyerangnya sebelum sang suami tiba.
Netranya tertuju pada sosok yang terbaring di sofa. Pria itu nampak meringkuk kedinginan diatas sana.
Tania mengambil selimutnya, tak tega rasanya membiarkan sang suami kedinginan. Perempuan itu menutupi tubuh Kendra hingga ke dada, sebuah kecupan ia daratkan sebagai pelipur rindu sebelum meninggalkan kamar tersebut.
Tania terkejut saat tangan kekar itu menarik dan melingkar indah dipinggangnya hingga membuat dirinya terjatuh diatas dada bidang sang suami. Netra keduanya bertaut, lelaki itu seketika menyambar bibir merah muda yang sudah berhari-hari tidak ia sambangi. Beberapa saat keduanya terlena hingga ciuman itu terputus akibat dorongan pelan dari Tania pada dadanya.
"Aa..jangan disini. Takut kak Zaskia bangun. Aku ingin bicara nanti." bisik perempuan itu melirik ke arah ranjang. Untung saja Zaskia sepertinya masih pulas.
Kendra mengikuti Tania keluar dari kamar tersebut. Tanpa aba-aba pria itu memeluknya dari belakang setelah pintu tertutup.
"Aa aku mau tahajud." perempuan itu berharap sang suami mau mengerti dan membebaskannya. Hati Tania cukup galau saat ini, dirinya ingin sekali berkeluh kesah pada Sang Maha Pemberi Kehidupan.
Hati Kendra tergelitik untuk mengikuti istrinya ke kamar mandi, sudah cukup lama ia tak berserah diri lantaran terlalaikan oleh urusan dunia.
__ADS_1
Tania terkesiap melihat sang suami berada tepat didepan pintu kamar mandi.
" Astagfirulloh..Aa ngagetin mulu dari tadi." gerutunya mengelus dada.
"Tunggu aku. Kita jamaah ya."
Seketika lengkungan manis terbit di wajah ayu Tania, hatinya menghangat mendengar permintaan sang suami. Sudah cukup lama mereka tak berlomba dalam kebaikan bersama-sama, apalagi momentnya hampir menjelang ramadhan.
Keduanyapun beribadah dengan khusuk dan memanjatkan doa berharap doa tersebut bisa menembus langit yang tentunya untuk kebaikan bersama.
Tania mencium tangan sang suami dengan khidmat, sungguh moment seperti ini begitu langka bagi keduanya. Menciptakan suasana hangat dan tenteram dihati mereka.
Keduanya duduk berhadapan, perempuan itu menahan kala sang suami ingin menyambangi bibirnya kembali.
"Aa..ada yang ingin aku tanyakan. Sebenarnya kak Zaskia sakit apa?" todongnya tak ingin berbasa-basi, terlukis jelas raut ketegangan di wajah tersebut.
"Memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" lelaki itu mengintimidasi.
__ADS_1
Kini Tania menjadi resah, perempuan itu mencoba mengatur nafasnya sebelum bercerita.
"Aa semalam aku tidak sengaja bertemu dengan kak Zaskia didepan pintunya saat akan turun ke dapur.
Tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung, untung saja aku berhasil menopangnya. Aku lihat wajah Kak Zaskia pucat, jadi aku bawa dia masuk ke kamar." Tania mengawali ceritanya.
"Tubuhnya lemah sekali, agak kurusan sekarang. Pas aku nggak sengaja liat ditubuhnya ada beberapa ruam-ruam biru, kulitnyapun sedikit kusam sekarang." lanjutnya bercerita.
"Lalu aku bantu tadi katanya mau ngambil air putih buat minum obat, aku kaget banget pas tahu obatnya banyak banget. Belum lagi banyak sekali rambut rontok di ranjang dan sekitar meja riasnya. Aa, serius nanya! Kak Zaskia sakit apa? Apa sakitnya parah?" gurat-gurat kecemasan semakin kentara di wajahnya, netranya berkaca-kaca menggambarkan kepedulian dalam dirinya.
Kendra membuang kasar nafas setengah dada, ingin sekali berbagi cerita, tetapi ada amanah yang harus ia jaga.
" Maaf, aku belum bisa menceritakannya sekarang. Zaskia belum siap mengumbar penyakit yang ia anggap seperti aib baginya. Aku harap kau mau membantuku saat aku tidak dirumah dan menyemangatinya. Doakan saja untuk kesembuhannya." jawab lelaki itu bijak.
Belum puas rasanya mendengar jawaban dari sang suami, tetapi ia cukup tahu diri untuk tidak ikut campur masalah pribadi orang lain.
"Tentu, tentu saja aku akan membantu dan mendoakan kesembuhan baginya. Aa..tolong berusahalah yang terbaik untuk kesembuhan Kak Kia. Maaf kau pasti sangat kerepotan akhir-akhir ini." wanita itu berhambur memeluk sang suami. Ia tak bisa membayangkan betapa sulit menjadi suaminya harus bisa membagi waktu disana sini. Ia merasa bersalah sempat egois merasa tak pernah diperhatikan.
__ADS_1
Bersambung..