
"Wah Tuan..Wajah anda nampak berseri-seri. Sepertinya habis dapat jatah ya? Cie..Yang semalam dapat kejutan." goda Bi Sumi ketika melihat kedatangan Tuannya di meja makan.
Kendra tersenyum menanggapi godaan Bi Sumi. Ekor matanya menangkap Tania yang sekarang juga tengah tersenyum kearahnya.
"Bibi tahu aja. Apa jangan-jangan Bi Sumi ngintip semalam ya?" balas Kendra sekenanya, ia bahkan tak mengerti apa maksud pelayannya itu. Biasanya Bi Sumi memang suka menggodanya.
Kendra duduk di meja makan, ia memperhatikan Bi Marni yang kini tengah menyiapkan sarapan untuknya. Kendra heran sebab Bi Marni menyiapkan dua piring hari ini. Padahal selama tidak ada Zaskia, wanita itu hanya menyiapkan satu piring untuknya saja.
"Kok piringnya dua, Bi?" cetusnya penasaran.
"Ya iyalah, Tuan. Kan satu lagi buat Non Zaskia. Memangnya Tuan tidak mau sarapan bersama istri tercinta?" goda Bi Marni.
"Zas-kia?"
Kendra terkesiap mendengarnya, baru saja ia ingin menanyakan maksud Bi Marni, yang disebut ternyata telah berada dihadapannya sekarang.
"Selamat pagi semua."
"Selamat pagi Honey. Cup.."
Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir lelaki yang masih mematung saat ini. Kendra sungguh tak menyangka jika Zaskia telah kembali ke kediaman mereka.
" Sejak kapan Zaskia datang? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Apa dia sudah tiba dari semalam?" Kendra menenggak kasar salivanya mengingat dirinya asyik bercinta dengan Tania semalam.
Zaskia sengaja berdandan secantik mungkin dan menampilkan wajahnya yang ceria, meski sebenarnya hati Zaskia masih sakit mengingat kejadian semalam.
Tania tak kalah terkejutnya,
" Sejak kapan Non Zaskia datang? Apa jangan-jangan semalam.." netra Tania membola mengingat pintu kamar yang sedikit terbuka tadi malam.
__ADS_1
Tanpa sengaja dirinya menampik gelas yang ada disampingnya karena kaget.
Semua mata tertuju padanya, membuat Tania jadi tak enak hati karena telah merusak suasana.
"Ma-afkan. Saya tidak sengaja." ucapnya gugup dan dengan segera memunguti pecahan kaca tersebut.
"Aww.."
Tanpa sengaja jemari Tania tergores pecahan gelas. Menyaksikan hal itu, Kendra secepatnya membantu Tania.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa kau ceroboh sekali sih? Lihatlah tanganmu jadi berdarah begini." gerutunya lantaran khawatir pada Tania. Pria itu bahkan menyesap darah di jemari Tania agar berhenti mengalir.
"Tuan, aku tidak apa-apa. Anda tidak perlu cemas." Tania menarik tangannya dari Kendra. Ia merasa sungkan melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca. Terutama Zaskia, sepertinya wanita itu menyimpan kekesalan padanya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Lihatlah, darahnya belum mau berhenti. Bi Marni, tolong ambilkan plester dan alkohol di kotak obat." perintah Kendra dengan wajah diliputi kecemasan.
"Baik, Tuan."
"Biar aku saja, Bi."
Zaskia pergi menuju kamarnya, dadanya kembali bergemuruh melihat perhatian Kendra yang begitu besar pada Tania. Bahkan pria itu seakan tak menggubris kedatangannya sama sekali.
Ia tak menyangka kepergiannya selama tiga bulan ini adalah keputusan paling buruk dalam hidupnya. Hanya dalam waktu tiga bulan, Tania sepertinya mampu menggaet hati suaminya.
Air matanya kembali meluncur merasakan perubahan sikap Kendra sekarang. Hatinya sakit karena seakan tak dianggap lagi. Apalagi jika sampai Kendra tahu apa yang terjadi pada dirinya, tentu pria itu pasti akan meninggalkannya.
" Zaskia, kau harus kuat. Tidak ada kata terlambat, kau pasti bisa mengambil hati Kendra kembali. Bagaimanapun kaulah yang lebih lama bersamanya." Zaskia berusaha menguatkan dirinya sendiri sembari mengusap airmatanya. Dirinya teringat untuk mengambil plester dan alkohol tadi.
***
__ADS_1
"Ini."
Zaskia memberikan plester dan alkohol kepada Kendra. Ia berusaha bersikap sewajarnya meskipun saat ini dirinya tengah terbakar cemburu. Hati wanita mana yang tidak sakit jika suaminya lebih memperhatikan wanita lain dibandingkan dirinya.
Tania semakin tak enak hati, ia merebut alkohol dan plester dari tangan Kendra.
"Biar saya saja, Tuan." pintanya secara paksa.
Kendra mendengus kesal, ia merebut plester dan alkohol itu kembali.
" Kau terlalu ceroboh dan tidak hati-hati. Diam dan menurutlah, aku akan mengobatimu."
Dengan telaten Kendra mengobati luka Tania sembari sesekali lelaki itu mengomelinya.
Zaskia hanya terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa. Sakit hati tentu saja, dia lagi-lagi hanya dijadikan patung diantara mereka berdua. Kepalanya sampai pusing merasakan luka dihatinya saat ini.
Wanita itu beringsut mundur, kepalanya semakin berdenyut kencang sekarang. Tubuhnya terasa lemas tanpa daya.
"Kia!"
Hampir saja Zaskia terjatuh, untung saja dengan sigap Kendra menangkap tubuhnya.
"Kau kenapa? Wajahmu sangat pucat." ucapnya khawatir. Tanpa sengaja Kendra melihat tubuh istrinya kehilangan keseimbangan.
" Aku tidak tahu, tiba-tiba kepalaku terasa pusing." ia bergelayut pada sang suami.
Kendra segera membopong tubuh Zaskia menuju kamar mereka. Ia sampai lupa belum memasangkan plester diluka Tania.
Tania tersenyum datar, ia mencoba berlapang dada. Mungkin Zaskia lebih membutuhkan Kendra dibandingkan dirinya. Meski tak dapat dipungkiri, hatinya seolah tercubit melihat kedekatan mereka.
__ADS_1
Bersambung..
Maaf ya author sibuk sekali akhir-akhir ini sampai bingung mencari inspirasi. Tetap dukung author dengan tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya buat karyaku. Makasih sebelumnya🤗