
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Kendra. Lelaki itu tersenyum seorang diri mengetahui siapa yang mengirim pesan kepadanya.
Tania : Tuan? Apa Tuan tahu kue balok Mang Deden yang terkenal itu?
Kendra : Iya,tahu. Memangnya kenapa?
Tania : Tidak. Aku tadi melihatnya di TV. Ramai sekali😋
Kendra : Apa kamu mau? Jangan-jangan kamu ngidam?
Tania : Tidak, Tuan. Aku hanya mau bercerita saja😁
Kendra kembali tersenyum seorang diri. Ia heran, Tania masih saja gengsi meminta sesuatu darinya. Padahal dia tahu istri kecilnya itu pasti ingin kue balok jebolan Bandung yang sedang hits di Jakarta saat ini.
Pak Dadang memperhatikan tingkah atasannya lewat kaca spion. Sebagai lelaki dewasa, pria itu yakin sang majikan pasti sedang berbalas pesan dengan Tania.
Semenjak kehadiran gadis itu, kehidupan Kendra nampak lebih bersemangat dan ceria dari sebelumnya. Bahkan kepergian Zaskiapun sepertinya tak berpengaruh besar terhadap majikannya sekarang. Tidak seperti sebelumnya, baru berpisah dengan Zaskia beberapa hari, Tuannya sudah seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Pak, Kita mampir dulu ke outlet Kue Balok Mang Deden ya."
Ucapan Kendra sontak membuyarkan lamunan pria paruh baya itu.
"Iya, Tuan. Memang Tuan mau ngapain disana?"
"Mau numpang ke toilet."
"Pengen ke toilet tinggal mampir ke pom, ngapain harus ke outlet kue balok segala Tuan?" Pak Dadang menertawakan jalan pikiran majikannya.
Kendra mendengus pasrah,
"Kalau dipom sudah biasa, kalau disana kan lumayan itung-itung sedekah sama yang bersihin toiletnya."
"Ooo...begitu."
Kendra mengelus dada, begitulah jika berurusan dengan Pak Dadang yang terkenal lemot diantara para pegawainya. Akan tetapi, dia tahu Pak Dadang orang yang paling bisa dipercaya dalam menjaga rahasianya. Hanya Pak Dadang yang tahu jika dirinya dan Tania telah menikah selama ini.
***
Mobil Kendra telah tiba di outlet Kue Balok Mang Deden. Suasana disana begitu ramai dengan antrian yang sudah mengular seperti kereta api. Kendra sudah menjelaskan pada Pak Dadang jika dirinya ingin membeli kue balok disana.
"Tuan, antriannya sangat panjang. Apa Tuan yakin mau ikut mengantri disana?" Pak Dadang mengingatkan sebab sepertinya akan butuh waktu sejam lebih untuk bisa mendapatkan kue balok tersebut.
"Iya, tidak apa-apa Pak, mengantri saja. Tapi Bapak yang ngantri, saya ada perlu sebentar."
Kendra terkekeh melihat eskspresi Mang Dadang yang seolah hendak melayangkan protes kepadanya.
"Tenang, Pak. Nanti Pak Dadang dapat jatah. Belikan juga untuk para pelayan dan security di rumah, biar semua ikut ngerasain."
Kendra memberikan beberapa lembar uang berwarna merah yang sepertinya lebih dari cukup untuk membeli kue tersebut. Ia harap dengan banyak bersedekah dirinya akan mendapat kabar bahagia yang sudah lama ia nantikan.
Mang Dadang menghitung uang pemberian sang atasan, "Lebihannya buat saya,Tuan?" tanyanya bersemangat.
"Heemm.."
"Makasih banyak, Tuan." jawabnya sumringah kemudian langsung ikut mengantri disana. Kendra sampai geleng-geleng kepala, orang lemot kalau lihat uang otaknya bisa mendadak encer juga ternyata.
__ADS_1
Kendra melajukan mobilnya menuju sebuah apotek yang berada tak jauh dari sana. Pria itu sangat penasaran dengan ucapan Bi Marni tadi pagi jika Tania kemungkinan hamil saat ini.
Pria itu membeli sebuah testpack, ia ingin memastikan istri kecilnya benar-benar hamil atau tidak.
" Ya Tuhan. Semoga kau berkenan segera menitipkan seorang bayi kecil di tubuh istriku. Aku benar-benar sangat mengharapkan kehadirannya." batin Kendra berharap saat mendapatkan alat test kehamilan ditangannya.
Pria itu segera kembali ke tempat Pak Dadang berada. Untung saja, pria itu sudah mendapatkan apa yang dia minta tadi. Yah, Kendra rasa Tania sedang ngidam ingin kue balok sekarang. Dan sebagai suami tentu dirinya bangga bisa menuruti keinginan istrinya.
" Kok cepet, Pak? Aku pikir tadi aku masih harus menunggu Pak Dadang mengantri." tanya Kendra senang sebab dia bisa pulang dengan cepat sekarang.
"Iya,Tuan. Untung Tuan minta tolongnya sama orang yang tepat, pintar lagi." jawab Pak Dadang bangga.
"Iya, tak kusangka Pak Dadang sudah pintar sekarang. Makasih ya, Pak." puji Kendra setengah menyindir padahal.
"Sama-sama, Tuan."
Keduanyapun hendak kembali masuk kedalam mobil, tetapi langkah mereka terhadang oleh beberapa orang yang tiba-tiba mendatangi mereka.
Kendra melirik Pak Dadang yang tiba-tiba saja menyengir dan bersembunyi di belakangnya. Firasat tidak enak menyelimuti Kendra sekarang.
"Mas, mana katanya mau bayarin kue balok kita? Kok malah mau kabur gitu aja." ucap salah seorang pria kesal diiringi beberapa ibu-ibu yang mengaamiininya.
Kendra tak mengerti maksud orang-orang tersebut, ia menatap penuh tanda tanya pada Pak Dadang yang masih cengar cengir di belakangnya.
"Loh. Pak Dadang memang mau membelikan kue balok buat mereka semua? Wah, Pak Dadang sepertinya banyak uang." sindir Kendra mulai tak enak perasaanya.
" Iya Mas. Katanya kalau Bapaknya boleh duluan nanti dikasih gratis sama majikannya. Katanya Mas lagi ulang tahun sekarang." seloroh salah satu ibu-ibu disana.
Dada Kendra mulai naik turun, dia harus banyak-banyak istigfar sekarang.
" Nah gitu, dong. Selamat Ulang Tahun ya Mas. Semoga semua keinginan Mas cepat terkabul." doa salah satu ibu-ibu disana."
" Aamiin. Makasih ya Bu."
Hati Kendra lega mendengarnya, bahkan rasa kesalnya pada Pak Dadang ikut luntur seketika. Ia berharap doa ibu tadi diijabah oleh Alloh SWT.
***
"Heeumm...rasanya benar-benar enak. Coklatnya lumer dimulut😋"
Kendra sedang menggoda istri kecilnya. Ia sengaja mengirim gambar kue balok yang baru saja dibelinya untuk mengiming-imingi Tania.
"Tuan, sepertinya itu enak sekali. Jahat..tidak mau membaginya denganku." balas Tania kesal.
Kendra terkekeh mendengar jawaban sang istri.
"Datanglah ke kamarku secepatnya. Sebelum aku menghabiskan semua kue ini."
Tak menunggu lama, selang lima menit terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamarnya. Kendra menyunggingkan senyum ke salah satu sudut bibirnya, ia sudah yakin siapa yang ada diluar sana.
"Masuk."
"Tuan kau masih menyisakan kue baloknya untukku kan?" seloroh Tania seketika dengan netra berbinar.
__ADS_1
Kendra mengernyitkan keningnya,
"Dimana ada kue balok?Aku hanya mendownload gambar dan mengirimkannya padamu." jawabnya datar tanpa ekspresi.
Raut wajah Tania berubah drastis, ia tak menyangka pria itu malah mengerjainya. Padahal, dirinya begitu bersemangat datang ke atas.
"Tuan. Baru kali ini, anda menyebalkan." sungutnya sembari menghentakkan salah satu kakinya. Entah kenapa Tania merasa dongkol sekali, padahal dirinya dulu sering mengalah jika hanya soal makanan.
"Kau mau kemana?" panggil Kendra saat melihat Tania hendak beranjak pergi.
"Kembali ke bawah, saya sedang sibuk." ketus Tania.
Kendra tertawa kembali," kemarilah dulu. Aku sangat merindukanmu."
Mendengar ucapan Kendra, perasaan Tania meleleh seketika. Rasa dongkolnyapun berangsur luruh berganti taman yang dipenuhi bunga-bunga cinta. Wanita itu mendekat dan duduk ditepi ranjang suaminya. Ia menundukkan wajahnya yang tengah merona saat ini.
Kendra mengambil sesuatu yang tersimpan didalam nakas.
"Ini untukmu."
Sekotak kue balok coklat lumer nyatanya mampu melelehkan hati Tania juga. Netranya langsung berbinar, bahkan air liurnya hampir menetes karena menginginkannya.
"Terima kasih, Tuan." ia memeluk Kendra seketika.
"Makanlah, sepertinya kau sangat menginginkannya."
Tania mengangguk, ia segera membuka sekotak kue balok dan melahapnya.
"Eum..benar-benar enak."jawabnya dengan mulut yang masih terisi, membuat Kendra sampai geleng-geleng kepala.
Sebuah ide mesum tercetus dikepala Kendra, apalagi melihat tampilan coklat lumer dimulut Tania benar-benar mampu membangkitkan adik kecilnya.
Kendra merebut sepotong kue terakhir dan menggigit di ujung bibirnya.
"Tuan,aku masih mau." sungut Tania kesal.
Kendra menunjuk kue balok yang ada dimulutnya. Itu menandakan bahwa Tania harus mengambilnya disana.
Tania kembali merona, tetapi dirinya sangat ingin kue tersebut. Tiba-tiba saja, wanita itu melahap kue balok yang ada dimulut Kendra.
GLEK..
Manisnya kue balok bercampur dengan manisnya bibir Tania yang sudah seperti candu baginya. Pria itu langsung ******* bibir sang istri karena sudah tak tahan lagi.
Ciuman itu mendadak menjadi ciuman panas yang menuntut. Kendra tak mampu mengendalikan diri, ia segera melucuti pakaian sang istri dan memakannya saat ini juga.
Tania tak kalah agresifnya, entah sejak kapan dirinya seolah tertantang jika bercinta dengan sang suami. Iapun mulai membuka pakaian Kendra hingga keduanya sama-sama polos sekarang.
Percintaan panaspun tak terelakkan lagi, keduanya sangat bergairah malam ini. Terutama Kendra, Tania benar-benar luar biasa baginya.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah merasakan sesak di dadanya. Tania lupa mengunci pintu ketika masuk ke kamar Kendra. Zaskia yang tadinya ingin memberi kejutan untuk sang suami, kini dirinya justru dikejutkan oleh adegan panas suaminya dengan wanita lain.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya disini ya. Maaf kemarin author sedang ada acara keluarga jadi libur up dulu. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1