Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 42


__ADS_3

Tania keluar dari kamar Kendra sembari membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan. Gadis itu tersenyum mengingat pertempuran panas mereka barusan.


"Tak kusangka ternyata aku bisa bermain hot juga." batinnya puas.


"Ish..Dasar otak! Kenapa kau jadi mesum begini." Tania menonyor kepalanya sendiri, ia heran kenapa pikirannya tambah mesum akhir-akhir ini.


Tania bergegas menuruni tangga, ia berharap Bi Marni telah tidur sekarang. Dengan begitu, dirinya tidak akan ketahuan jika begitu lama berada diatas.


Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Bukan hanya Bi Marni saja, melainkan Bi Sumipun tengah menunggunya di dekat dapur. Mereka kompak bersendekap dengan tatapan mengintimidasi kepada Tania.


Tania menelan salivanya susah payah, tatapan mereka seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.


" Bi Marni, Bi Sumi. Kalian belum tidur?" sapanya tersenyum kaku.


Netra Bi Sumi membulat menyaksikan keringat Tania yang masih bercucuran padahal cuaca sedang dingin malam ini.


"Astagfirulloh, Neng. Itu keringat udah segede jagung kayak orang habis kikuk-kikuk aja."


"Hush..Sembarangan kalau ngomong!" Bi Marni langsung membungkam mulut Bi Sumi yang sudah seperti rem blong itu.


Wajah Tania merona, jika saja mereka tahu bahwa dirinya memang habis "kikuk-kikuk" dengan Kendra, sudah pasti habislah dia.


" Udah Neng. Tidak usah didengerin. Bagaimana? Apa Tuan baik-baik saja? Neng Tania lama sekali diatasnya, Bibi udah mau tidur barusan." gerutu Bi Marni.


"Iya,maaf Bi. Tadi Tuan menyuruh Tania membereskan ruang kerjanya. Ini Tania baru beres makanya keringetan. " kilah Tania sembari menyapu keringat di keningnya.


"Alhamdulillah kata Dokter, Tuan baik-baik saja. Hanya kecapean karena banyak pekerjaan di kantor mungkin." tambah Tania.


"Mungkin nggak bisa tidur mikirin Non Zaskia kali. Ini udah hampir tiga bulan Non Zaskia pergi. Punya Tuan lama-lama jadi odol." timpal Bi Sumi.


"Apanya yang jadi odol, Bi?" Tania penasaran maksud Bi Sumi barusan.


"Anu.." Belum sempat Bi Sumi menyelesaikan ucapannya, nyali wanita itu langsung menciut melihat Bi Marni yang sudah mendelik kepadanya.


"Apa sih, Bi?" Tania melirik kedua orang yang tampak mencurigakan. Jika sampai mereka tak menjawab, ia akan bertanya langsung pada Kendra tentang "apanya yang menjadi odol?" itu.


"Itu Neng. Ah udah nggak usah dibahas lah nggak penting. Bukannya Neng Tania tadi habis beres-beres? Udah malam lho, mending sekarang Neng Tania cepat tidur sana." Bi Marni berusaha mengalihkan perhatian. Ia tak mau meracuni pikiran Tania dengan hal-hal mesum seperti itu.


Tania mencebik kesal, tetapi iapun tak ingin memperpanjang urusan kecuali urusan perut.

__ADS_1


"Eum..Bi? Di dapur masih ada makanan nggak? Heran aku juga, belakangan ini kalau malam pasti lapar terus. " Tania cengar-cengir sembari mengusap-usap perutnya. Dirinya sendiri tidak tahu, entah kenapa nafsu makannya bertambah besar sekarang padahal dia sudah makan tiga kali porsi besar, tapi tiap malam perutnya kembali keroncongan.


"Aduh Neng. Lauknya kebetulan habis tadi. Tapi kalau Neng Tania mau, didapur masih ada stok mi instan sama telor. Bisalah buat ganjal perut." tutur Bi Marni.


Netra Tania berbinar seketika,


" Cocok itu, Bi. Mie rebus pakai telor ditambah cabenya yang banyak. Eumm..mantap. "


Bi Marni hanya mampu geleng-geleng kepala melihat reaksi Tania yang sudah seperti cacing kelaparan.


" Ya sudah,sana buruan. Nanti keburu cacingnya pada nyanyi dalam perut." goda Bi Sumi. Keduanyapun beranjak menuju ke kamar untuk beristirahat.


"Eh..Tunggu Bi Marni satu lagi."


Panggilan Tania menghentikan langkah wanita paruh baya tersebut. Beliau sedikit kesal, sudah menunggu Tania lama sekarang gadis itu masih ada saja maunya.


"Apalagi sih, Neng?"jawabnya sembari menguap menahan kantuk.


"Bibi besok ke pasar,kan? Tania boleh nitip rujak nggak, Bi? Hawanya pengen yang seger-seger terus. Disini nggak ada penjual rujak lewat sih." pintanya memelas.


"Kamu ada-ada aja sih, Neng. Kayak orang nyidam aja. Ya sudah besok Bibi belikan kalau ingat." Bi Marni langsung mengiyakan, lebih cepat lebih baik supaya beliau bisa cepat tidur.


"Makasih ya, Bi." jawab Tania kegirangan.


Tania mengingat perkataan wanita itu barusan.


"Hamil? Masak iya aku hamil? Bibi ada-ada saja." batinnya tak percaya. Namun, sesaat dirinya teringat bahwa dirinya sudah cukup lama tidak mendapatkan tamu bulanannya.


"Ahh.. nanti saja dipikirkan. Yang penting sekarang bikin mie huh..hah.." Tania jadi ingat perutnya yang meronta-ronta.


***


Kendra sedari tadi hanya membolak-balikkan badannya diatas ranjang. Ia merasa tidak nyaman sama sekali, dirinya heran bagaimana bisa dokter menganggapnya baik-baik saja?


Lelaki itu bangkit dan membuang kasar nafasnya. Ia mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Senyumnya merekah kala membuka kontak " Si Penganggu ".


"Ahh..kenapa susah sekali dihubungi sih! Apa dia tidurnya sudah seperti orang pingsan." gerutunya sembari mondar- mandir didalam kamarnya.


Mungkin ucapannya sudah benar-benar diaamiinkan. Tania kini benar-benar mengganggu dan menari-nari dikepalanya. Kendra tidak sadar sejak kapan gadis itu membuatnya hampir setengah gila seperti sekarang.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang pria itupun turun menggunakan lift pribadi menuju lantai bawah. Kendra mengendap-ngendap seperti maling dirumahnya sendiri menuju kamar Tania.


Senyumnya mengembang sempurna setelah akhirnya ia tiba didepan pintu kamar istrinya. Dan lebih beruntungnya lagi, seperti biasa Tania lupa mengunci pintunya. Jadi dengan leluasa Kendra bisa masuk ke kamar Tania.


Hati Kendra merasa tenang melihat Tania yang tidur begitu pulas seperti bayi. Pria itu enggan membangunkan wanitanya, ia memilih berbaring disebelah wanita itu. Ranjangnya sempit, namun sangat pas untuk mereka berdua. Setelah ini Kendra yakin bisa tidur dengan nyaman.


***


Tania mulai membuka matanya saat mendengar alarm paginya berbunyi. Wanita itu terkejut saat menyadari sebuah tangan menyelusup kedalam bukit kembar miliknya. Ia tahu betul tangan siapa itu, tapi dirinya tidak sadar sejak kapan pria itu berada di kamarnya.


" Tu,,tuan. Saya mau bangun." ia menarik tangan Kendra dari dalam sana, kalau sadar begini dirinya bisa merasakan geli-geli enak saat pria itu memainkan pucuk aset miliknya.


" Aku belum puas. Tidur sebentar lagi, bisa?" gumam Kendra enggan membuka matanya.


Tania mendengus pasrah, ia tak tega melihat Kendra masih nyaman dengan posisinya. Dirinya teringat perkataan Bi Sumi semalam yang sukses membuatnya penasaran.


"Tuan? Apa anda jadi banyak pikiran karena kehilangan Nona Zaskia?" tanyanya meski dalam hati ia merasa sesak jika mengingat hati suaminya terbagi dua tapi sepertinya tidak rata.


"Eeum..tidak juga." jawab Kendra singkat, tapi masih enggan membuka mata.


"Tapi katanya anda sangat kehilangan sampai punya Tuan menjadi odol." Tania mengerucutkan bibirnya.


Kendra langsung membuka mata mendengar ucapan Tania barusan.


"Memang siapa yang bilang?" Kendra tak habis pikir ada yang menggunjing masalah hal pribadi miliknya.


"Bi Sumi." jawab Tania tanpa rasa bersalah.


"Tuan. Apanya yang jadi odol sih?" tanyanya kembali.


"Beneran kamu mau tahu? Atau mau cobain?" Kendra kini ikut menggoda.


"Memang bisa dicoba?" Tania seakan memancing milik Kendra.


"Bisa. Enak banget malahan." pria itu menyeringai penuh makna.


"Iya gitu? Boleh boleh." Tania kegirangan.


Gimana reaksi Tania selanjutnya ya..Author pasrah ke temen-temen aja biar pada halu sendiri😂

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa dukung selalu novel ini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat author. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2