
Setelah kondisi Zaskia berangsur membaik, wanita itu akhirnya diperkenankan untuk melakukan rawat jalan. Sebelum pulang, Kendra membawa wanita itu untuk menemui dokter, sudah saatnya Zaskia tahu akan penyakit yang dideritanya.
Gurat-gurat kecemasan terlukis diwajah Kendra ketika keduanya telah berhadapan dengan pria berjas putih didepannya. Ia menggenggam erat jemari istrinya untuk menguatkan.
"Nona, sebelumnya saya meminta maaf harus menyampaikan kabar kurang mengenakan ini. Terlepas dari semua itu, yakinlah bahwa hidup ada di tangan Tuhan dan setiap penyakit pasti ada obatnya."
Pria setengah baya itu sedikit berbasa-basi, tapi cukup menimbulkan rasa tegang dalam pikiran Zaskia. Apakah ini ada hubungannya dengan tubuhnya yang gampang sakit-sakitan akhir-akhir ini? Mendadak otaknya menjadi parno dilingkupi rasa takut akan penyakitnya.
Kendra cukup paham akan gelagat istrinya, pria itu mendekatkan kursi dan memeluk lengan istrinya demi menenangkan wanita tersebut.
"Nona, saat ini anda mengidap penyakit leukemia meiloblastik kronik stadium 4. Sel kanker anda mulai menyerang paru-paru dan beberapa organ penting lainnya. Ini sangat berbahaya dan saya sarankan untuk segera melakukan pengobatan."
DEG..
Zaskia begitu syok mendengar penuturan sang dokter. Badannya seakan lunglai jika saja Kendra tak memegangi tubuhnya. Tanpa terasa bulir bening lolos dari kedua pelupuk matanya. Wanita itu menyandarkan kepalanya diatas bahu sang suami. Sungguh berat rasanya menghadapi kenyataan ini, masalah satu belum selesai kini hidupnya semakin terbebani oleh penyakit yang baru saja ia ketahui. Seolah Tuhan sedang menjatuhkan ujian bertubi-tubi kepadanya. Mungkinkah ia sanggup menjalani semuanya?
Kendra mendekap erat tubuh istrinya, pria itu menahan airmata yang mungkin saja ikut terjatuh hanya dengan satu kedipan mata. Ia tak ingin menangis, dia harus bisa menguatkan Zaskia.
"Tenang, kau jangan takut. Aku akan selalu berada disisimu apapun yang akan terjadi. Aku pasti akan berusaha agar kau bisa sembuh dari penyakit ini." ujarnya menenangkan sang istri yang mulai sesengukan. Pria itu menatap penuh harap pada pria berjas putih didepannya.
__ADS_1
"Istriku masih bisa sembuh kan Dok? Aku ingin penanganan yang terbaik untuk istriku berapapun biayanya."
Dokter menghela nafas panjang, kenyataan ini pasti menjadi pukulan berat bagi pasien maupun keluarganya.
" Sekali lagi, Tuan. Hidup dan mati seseorang ada ditangan Tuhan. Akan tetapi, kami pasti akan mengusahakan yang terbaik. Beberapa alternatif yang mungkin bisa dilakukan adalah melalui kemoterapi atau melakukan operasi sumsum tulang." Dokter menjeda ucapannya.
"Mengingat kondisi Nona Zaskia yang sedang hamil cukup beresiko jika anda melakukan kemoterapi. Kemungkinan terburuknya janin anda mungkin tidak akan berkembang bahkan mungkin dapat mengakibatkan cacat lahir." lanjutnya menjelaskan.
" Sedangkan untuk operasi cangkok sumsum tulang belakang sendiri, membutuhkan pendonor yang cocok dan memenuhi syarat. Silahkan Nona dan Tuan berembuk terlebih dahulu, kami menunggu keputusan anda secepatnya." pungkas sang dokter.
Pilihan yang benar-benar sulit untuk Zaskia dan Kendra. Terutama Zaskia, sulit rasanya menentukan keputusan disaat dirinya sendiri baru mengetahui masalah penyakitnya.
Sekali lagi Dokter kembali menghela nafasnya,
" Maaf Nona, semua tindakan pasti ada resikonya. Untuk mencari pendonor yang benar-benar cocokpun sangatlah sulit dan anda harus segera mendapatkannya. Saya harap anda jangan berkecil hati, pasrahkan semuanya kepada Sang Pemberi Hidup." saran sang Dokter.
" Baiklah, Dok. Kami akan segera merundingkan masalah ini dan memberikan keputusan secepatnya. Kalau begitu kami permisi."
Keduanya meninggalkan rumah sakit dan berniat kembali ke kediaman mereka. Seluruh keluarga yang lainpun sedang menyiapkan penyambutan kedatangan Zaskia.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Zaskia hanya terdiam dan bergelut dengan pikirannya sendiri. Rasanya ia sudah lelah dengan kehidupan yang seolah mempermainkannya. Bagaimana bisa ia memilih mempertaruhkan janin dalam kandungannya demi keselamatan nyawanya. Iapun teringat dengan permintaan Dafa agar dirinya menjaga janin itu dengan imbalan pria itu tak akan pernah mengusik hidupnya lagi.
Kendrapun mengamati kelakuan istrinya yang sedikit murung setelah mendengar keterangan Dokter tadi. Bahkan wanita itu tidak menyadari jika keduanya telah tiba di rumah.
"Kenapa melamun, heum? Aku tahu ini pasti sangat sulit bagimu, tapi percayalah kita akan melewati ini bersama-sama." pria itu menjatuhkan sebuah kecupan dijemari sang istri.
"Aku takut."
Kata-kata itu mencuat begitu saja seiring airmata Zaskia yang bergulir membasahi pipi cantiknya. Pria itu langsung merengkuh tubuhnya, hatinya terkoyak menyaksikan salah satu wanita yang sangat berarti dalam hidupnya dirundung kepiluan.
"Jangan takut, aku akan selalu membersamaimu. Kita harus berusaha demi kesembuhanmu." ucap pria itu menenangkan.
Setelah istrinya mulai tenang, pria itupun mengajaknya untuk masuk ke dalam. Saat hendak keluar, tangan Zaskia terulur menahan pergerakan suaminya.
"Tolong rahasiakan masalah ini sementara, aku belum siap." pintanya memelas.
Kendra mengangguk, ia harus menguatkan mental Zaskia terlebih dahulu saat ini.
" Baiklah. Tapi kau harus yakin, banyak orang yang menyayangimu dan pasti akan memberikan semangat untuk kesembuhanmu."
__ADS_1
Bersambung..