
Hari demi hari kesibukan Kendra semakin bertambah. Selain perusahaannya yang semakin berkembang, pria itupun juga disibukkan dengan serangkaian Kemoterapi yang harus dijalani Zaskia.
Yah, mereka mencoba metode Kemoterapi dan beberapa pengobatan alternatif lantaran sampai saat ini belum ada pendonor sumsum tulang yang cocok dengan istrinya. Dokter menyarankan agar Zaskia dibawa berobat keluar negeri sebab disana kemungkinan alat-alat medisnya lebih lengkap dan canggih.
Beban dipundak Kendra terasa semakin berat saja, apalagi Dokter mengatakan kesembuhan untuk istrinya sangatlah tipis lantaran kanker tersebut sudah mulai merusak beberapa organ penting dalam tubuhnya.
Begitupun dengan kandungan Zaskia, janin tersebut terdeteksi tidak berkembang dengan sempurna. Dokter memberikan pilihan untuk tetap mempertahankan janin tersebut atau memilih aborsi sebagai tindakan darurat.
Begitupun dengan pembukaan hotel dan apartemen yang terpaksa diundur lantaran masih ada beberapa bagian yang belum terselesaikan. Kendra mulai berencana untuk mengangkat seorang asisten pribadi agar jadwal kerjanya lebih teratur dan ada yang mengurus semua kegiatannya.
Beberapa kandidat nama telah terseleksi, pria itu memilih salah seorang pelamar terbaik yang dirasa memiliki dedikasi tinggi dan telah memenuhi syarat kualifikasi serta lolos tes yang diselenggarakan.
"Tuan, calon asisten pribadi yang anda tunjuk sudah ada diluar."
"Persilahkan masuk." jawab lelaki itu yang nampak sibuk mempelajari beberapa dokumen di tangannya.
__ADS_1
Tak berselang lama, seorang pemuda dengan perawakan rupawan masuk keruangannya.
"Permisi Pak. Saya Zayyan, kandidat yang anda tunjuk sebagai calon asisten pribadi anda." pemuda itu memperkenalkan diri.
"Mari silahkan duduk."
Kendra dan Zayyan sama-sama terkesiap kala mengetahui siapa yang berada dihadapannya. Mereka jelas teringat dengan peristiwa tak mengenakkan hampir dua bulan yang lalu.
Kendra mencoba menormalkan sikapnya, disini ia dituntut untuk mengesampingkan urusan pribadinya. Meskipun ada rasa gondok kenapa ia bisa memilih pemuda ini yang tentunya akan sering berinteraksi dengannya nanti.
"Katanya kau punya usaha cafe yang ramai, untuk apa cari pekerjaan sampai disini? Bangkrut?" ketus Kendra yang terdengar menyebalkan di telinga Zayyan. Masih ada rasa cemburu dihati keduanya sebab hati mereka terpaut pada wanita yang sama.
"Tentu saja tidak. Saya mengelolanya bersama teman-teman, jadi masih ada yang menghandle. Akan tetapi, usahaku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan usaha anda. Saya benar-benar ingin belajar banyak disini." mencoba tenang dan lebih bersabar, bagaimanapun ia belum ingin didamprat dari sini.
"Baiklah. Aku sudah membaca seluruh data milikmu. Aku tidak akan mencampur adukkan ini dengan urusan pribadi kita. Terlepas dari semua itu, kau telah lulus kualifikasi dan layak menempati posisi ini. Selamat bergabung di perusahaan ini dan semoga kita bisa bekerjasama dengan baik." keduanyapun berjabat tangan dan menunjukkan sikap profesionalnya.
__ADS_1
***
Malam ini Kendra pulang cukup larut, langkahnya terhenti kala berhadapan dengan lorong yang mengarah ke kamar istri keduanya. Ada rasa bersalah yang bersemayam di benaknya, ia akhir-akhir ini jarang berinteraksi dengan Tania. Hanya saat jam sarapan dan jam makan malam, itupun jika dirinya pulang tepat waktu. Ingin sekali rasanya ia melangkah kesana, tetapi kemungkinan wanita itu pasti telah tertidur.
Pria itupun berjalan gontai menuju kamarnya diatas. Suasana rumah cukup sepi, sepertinya para penghuni rumah sudah tidur atau beristirahat di kamarnya. Ia pun membuka pintu kamarnya perlahan supaya tak mengganggu penghuninya di dalam.
Assalamualaikum..
Ucap pria itu perlahan kemudian melonggarkan dasi yang sedari tadi membelit lehernya. Pria itu hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tetapi netranya tanpa sengaja menangkap sosok lain tertidur diatas ranjangnya.
"Tania?"
Ia bingung melihat kedua istrinya tidur diranjang yang sama.
Bersambung..
__ADS_1