Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 95


__ADS_3

Setelah kepergian Dafa, Kendra langsung terduduk lesu disofa. Kepalanya berdenyut kencang, beberapa kali pria itu mengusak rambutnya dengan kasar.


Hatinya belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang telah melecehkan Zaskia adalah sahabatnya sendiri, bahkan anak yang dikandung wanita itu tadinya adalah anak Dafa. Lelaki itu menatap dalam pada Zaskia yang sampai kini masih menangis tergugu diatas brankar.


"Kenapa kau tidak jujur padaku? Kenapa kau menutupi semua ini dariku?" tanyanya berbalut kekecewaan. Jujur hatinya kesal, marah sekaligus kecewa merasa telah dibohongi oleh istrinya. Akan tetapi, hati nuraninya sungguh tak tega, Zaskiapun kini sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Zaskia kembali dirundung rasa bersalah, bagaimanapun ini semua berawal dari keegoisannya dulu dan kini dampaknya Kendra juga terkena imbasnya.


"Maafkan aku. Aku tak berani jujur padamu. Saat itu aku benar-benar terpuruk dan aku takut kau akan meninggalkanku."


Kendra memilih berdiri dari duduknya, tak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya. Pria itu meninggalkan ruangan Zaskia begitu saja, ia butuh waktu untuk bisa menenangkan diri dan menerima semuanya.


***


Keesokan harinya, Tania datang ke rumah sakit. Perempuan itu bingung sekaligus khawatir, semenjak Kendra pulang dini hari tadi, suaminya nampak dingin dan irit bicara. Sebelum berangkat kerja Kendra berpesan agar dirinya menjaga Zaskia hari ini.


Di rumah sakitpun kondisi Zaskia tak jauh berbeda, netranya terlihat bengkak dan masih sembab bekas airmata. Zaskia bahkan tak menyentuh sarapan pagi dari rumah sakit.


Tania mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada wanita yang sejak tadi enggan membuka kata.


"Maaf Kak. Kenapa kak Kia tidak memakan sarapannya? Kak Kia harus minum obat, jangan sampai perutnya kosong." bujuk perempuan itu mengingatkan. Zaskia sendiri enggan menjawab, hanya kepalanya saja menggeleng lemah.


Tania membuang kasar nafasnya, sekarang ia yakin memang telah terjadi sesuatu antara Zaskia dan suaminya.


"Sekali lagi aku minta maaf kak. Bukan bermaksud ikut campur urusan kak Kia dan A Kendra. Aku hanya cemas dengan keadaan kalian berdua."


"Semenjak pulang ke rumah, A Kendra terlihat pendiam dan langsung mengunci dirinya dikamar. Tadi pagipun sama, Aa hanya berpesan untuk menjaga kak Kia hari ini dan diapun melewatkan sarapan paginya. Tanpa sengaja aku melihat wajah Aa sedikit memar. Apa kalian sedang ada masalah?" tanyanya ragu.


Mendengar perkataan Tania, airmata yang sejak tadi ditahan Zaskia akhirnya lolos juga. Ia yakin Kendra masih marah dan kecewa kepadanya.


"Kendra sudah tahu semuanya. Semalam Dafa kesini dan membongkar semuanya. Mereka terlibat adu jotos. Aku takut Tania, aku takut Kendra akan meninggalkanku setelah ini." wanita itu akhirnya meluapkan segala kesedihannya.


Tania terkesiap mendengarnya, pasti suaminya terpukul dengan semua kenyataan ini. Iapun tak tega melihat Zaskia yang kondisinya tak jauh berbeda.


"Kak Kia tenang dulu. Aku yakin A Kendra bukan orang seperti itu. Mungkin Aa hanya butuh waktu untuk sendiri dan menata hatinya kembali. Nanti aku akan coba bicara dengan Aa. Kak Kia sarapan dulu ya, biar cepat pulang dan bisa menjelaskan semua sama A Kendra." bujuknya menenangkan.


Zaskia menuruti ucapan Tania, setidaknya dia memang harua segera pulang dari rumah sakit dan meminta maaf pada suaminya. Dia berniat untuk jujur dan lebih terbuka dengan suaminya.

__ADS_1


Tania meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Bi Marni akan menggantikan dirinya berjaga malam ini di rumah sakit. Kendra mengirim pesan bahwa dia sedang ada urusan sehingga tidak dapat kesana.


Hingga larut malam Kendra belum juga kembali kerumah. Tania masih setia menunggu meski sedikit terkantuk-kantuk. Perempuan itu terjaga ketika mendengar suara deru mobil sang suami diluar. Pria itu pulang hampir pukul 1 dini hari.


"Aa baru pulang?" sapanya setelah lelaki itu nampak memasuki rumah. Ia terkejut dengan penampilan Kendra yang terlihat acak-acakan.


"Kau belum tidur?"


"Aku sejak tadi menunggu Aa pulang? Aa dari mana? Tumben pulang selarut ini?" Tanya perempuan itu dengan antusias.


Kendra tak menyangka jika Tania menunggunya. Kendra sengaja pergi bersama teman kuliahnya dulu untuk mengikuti motor trail di daerah pinggir kota. Lelaki itu ingin melampiaskan kekesalannya dengan melakukan hal yang bisa memacu adrenalinnya. Ia lebih memilih hal yang positif dibandingkan pergi ke club dan mabuk-mabukan disana.


"Aku ada urusan tadi. Sekarang tidurlah, ini sudah terlalu malam, tidak baik juga untuk kesehatanmu dan bayi kita." jawabnya terkesan dingin dan datar.


Ia tanpa sadar melukai perasaan Tania. Padahal perempuan itu sampai melewatkan makan malam karena khawatir akan suaminya.


Kendra hampir saja berlalu begitu saja, namun gerakannya terhenti ketika rungunya menangkap desis Tania seakan menahan sakit. Iapun langsung berbalik memastikan.


"Kau kenapa? Apanya yang sakit?" tanyanya cemas. Ia hendak memegang perut sang istri, tetapi tangannya dihempas begitu saja oleh Tania.


"Tidak apa-apa. Pergi saja, aku mau istirahat." hatinya kadung kesal dengan sikap sang suami.


"Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu. Aku hanya sedang ingin menata hatiku. Bisakah kau mengerti?"


Perempuan itu menggelengkan kepala, tetapi enggan beranjak dari dekapan sang suami. Jujur ia rindu hangatnya pelukan lelaki itu.


"Aku tidak bisa mengerti dan tidak akan mau mengerti. Aku terbiasa dengan suamiku yang hangat dan penyayang. Aku tidak suka diabaikan dan aku tidak suka melihatmu bersedih."


"Aku khawatir padamu A. Aku tahu Aa sedang ada masalah dengan Kak Kia. Aku menunggumu, aku bahkan belum makan karena ingin makan bersamamu." perempuan itu kini justru memeluk manja suaminya.


Kendra jadi gemas sendiri dengan istri kecilnya, iapun merasa bersalah. Tania tidak tahu apa-apa, tetapi perempuan itu malah ikut terkena imbasnya.


"Ya sudah. Aku akan menghangatkan dulu makanannya, setelah itu kita makan bersama. Perutku juga lapar habis offroad tadi." hati Kendra menghangat, Tania memang obat untuk kegalauan dihatinya.


Keduanyapun berkutat di dapur, menghangatkan makanan bersama kemudian makan sepiring berdua dengan Kendra yang lebih sering menyuapi istrinya.


"Aa sedikit sekali makannya? Sini, Aa juga harus makan yang banyak." Tania berganti menyuapi sang suami.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kau kan makan untuk berdua. Kasihan, jagoanku pasti lapar belum makan dari tadi." lelaki itu tampak memelas sembari mengusap lembut perut buncit istrinya.


" Jagoan Aa juga nggak selera makan kalau Papanya bersedih terus. Papa harus kuat dan belajar menerima keadaan. Semua yang terjadi dimasa lalu mungkin tak sepenuhnya menyenangkan, tetapi cukup baik untuk menjadi pembelajaran. Kita semua pasti pernah melakukan kesalahan A, yang penting kita mau berubah untuk menjadi lebih baik." Tania mencoba menasehati.


"Apa Zaskia menceritakan permasalahan kami?" tanyanya penuh selidik.


Tania mengangguk menanggapi,


"Kasihan Kak Kia, A. Dia sangat terluka bahkan ketakutan jika Aa malah meninggalkannya. Kemarin juga sempat mogok makan kalau tidak dibujuk. Aku takut kondisinya malah drop nanti."


"Terlepas dari semua itu, Kak Kia juga korban A. Hatinya tetap setia untuk Aa. Meski dia akui, semua terjadi karena obsesinya dulu. Kak Kia ingin berubah menjadi lebih baik tentunya dengan bimbingan dari suaminya." bujuk Tania.


Kendra mendesah pelan, sebenarnya iapun sudah memaafkan Zaskia. Hanya saja hatinya masih syok, makanya ia memilih menepi untuk menenangkan pikirannya.


"Aku akan memaafkannya, tetapi aku mau imbalan yang setimpal darimu jika aku menurutimu." Kode Kendra mulai menggoda.


"Eh..Eh..Eh..Tahu juga pengennya apa. Siap, Yayang jabanin mau berapa ronde,heum? Tapi pijitin dulu ya, pegel kakinya." rengek perempuan itu manja.


Wajah Kendra berbinar seketika, pria itu tersenyum penuh kemenangan dan langsung menggendong sang istri ke kamar.


Tania ikut lega melihat suaminya kembali bersemangat, perempuan itu tidur berselonjor sembari memperhatikan sang suami yang bersiap membuka pakaiannya.


Pria itu hendak merangkak dengan semangat 45, tetapi Tania menahan pergerakannya.


" Idih, bebersih dulu. Kan habis daru luar, kotor lagi bajunya tadi." sorotnya memperhatikan.


Pria itu mendesah pasrah, "tapi jangan tidur ya?" pintanya memelas.


"Heum. Cepetan Aa dah nggak sabar."


Pria itupun segera melesat ke kamar mandi, membersihkan diri beberapa menit kemudian keluar dengan wajah yang begitu segar.


Akan tetapi, lagi-lagi dia harus pasrah melihat Tania telah memasuki dunia mimpinya.


"Beneran kamu emang udah nggak sabar? Nggak sabar pengen cepet bobok ternyata." gerutunya sebal. Iapun ikut merangkak ke atas ranjang, lalu memandang sekilas wajah sang istri.


"Kasihan sekali kamu sayang. Kamu pasti capek nungguin aku tadi. Selamat istirahat." iapun mengecup puncak kepala sang istri lalu beralih mencium perutnya.

__ADS_1


Pria itupun ikut terlelap bersama Tania. Malam ini dirinya bisa tidur nyenyak, istri kecilnya semakin bijak saja sekarang.


Bersambung...


__ADS_2