Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 79


__ADS_3

Pagi ini Kendra berangkat lebih awal, rencananya pria itu akan mampir ke rumah sakit sebentar sebelum berangkat ke kantornya.


Tania tengah menyiapkan bekal untuk sang suami karena pria itu kekeuh belum ingin sarapan pagi ini. Jadi dia meminta menu sarapannya agar dibekal ke kantor saja.


"Sayang, apa bekalku sudah siap?" pria itu memeluk sang istri dari belakang. Sesekali memberi kecupan pada surai rambut sang istri yang begitu memanjakan indra penciumannya. Nyatanya Tania memanglah obat untuk mengobati kegelisahan di hatinya.


"A tolong dikondisikan ya. Malu kalau ada Bibi atau yang lain melihat." semprot sang istri sembari menata bekal ke dalam wadahnya.


Wanita itu berbalik setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Bekal untuk Aa sudah siap."


Perempuan itu menyuguhkan bekal hasil buatannya dengan netra yang berbinar. Menu sarapan sederhana, tetapi akan menjadi spesial jika dibuat dengan penuh rasa cinta. Sepotong roti panggang beserta salad buah dengan sebotol susu sebagai teman makan pagi Kendra hari ini.


"Makasih sayang. Jadi makin cinta." tanpa aba-aba pria itu mendaratkan kecupan dibibir Tania. Wajah sang istri seketika merona akibat ulahnya.


Eherm..Eherm..


Terdengar suara deheman dari arah tangga, keduanya terkejut melihat kehadiran Pak Bayu dan Bu Santi disana. Terutama Tania, rasanya ia ingin menenggelamkan kepalanya ke dasar lautan saja. Ia yakin pasti mereka melihat apa yang baru saja suaminya lakukan.


"Gitu ya kalau lagi bucin akut. Suka nyosor sembarangan, serasa dunia milik berdua yang lain nebeng aja." goda Bu Santi menyaksikan kelakuan putranya.


"Ya nggak pa-pa lah Ma. Bucin sama istri sendiri, kan jadinya pahala. Bener kan, sayang?" ekor mata Kendra melirik perempuan yang ada disampingnya.


Tania menyorot tajam pada sang suami. Sudah malu, sekarang malah dibawa-bawa dalam perdebatan ibu dan anak itu.


"Apanya yang bener? Emang nich orang suka nyosor tidak pada tempatnya. Dasar tukang mesum."umpatnya hanya dalam hati sebab kenyataannya perempuan itu hanya nyengir menanggapi obrolan keduanya.


"Tuh kan, Ma. Tania nya aja setuju." Kendra dengan penuh percaya diri memeluk pinggang sembari mengecup puncak kepala sang istri.

__ADS_1


Bu Santi dan Pak Wahyu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya. Wanita itu jadi teringat menantunya yang satu lagi, ia takut Zaskia cemburu melihat kemesraan Kendra dengan istri mudanya.


"Oh ya Ken? Tumben pagi-pagi udah rapi, nggak sarapan dulu? Mama kok nggak lihat Zaskia ya dari kemarin? Apa Kia mulai manggung lagi?"


Mendengar nama Zaskia membuat senyum diwajah Kendra berangsur menyurut.


"Zaskia di rumah sakit, Ma. Kia hamil." ungkapnya kelu mengingat istrinya hamil anak pria lain. Akan tetapi, pria itu berusaha bersikap sewajarnya.


Berbeda dengan Kendra, raut wajah Bu Santi berbinar seketika mendengar berita tersebut.


"Alhamdulillah, akhirnya keturutan juga punya cucu dua sekaligus. Kok kamu ngebiarin Kia di rumah sakit sendiri sich? Kan kasihan, dia itu lagi hamil muda, fisiknya juga kurang fit kayaknya. Harusnya kamu bilang ke Mama dari kemarin. Kalau kamu nggak bisa jaga kan Mama bisa gantiin." protes Bu Santi kesal.


"Iya, maaf Ma. Semalam Kendra pulangnya udah larut, untung ada Hesti yang gantiin jaga. Makanya pagi ini aku mau kesana dulu sebelum ngantor."jelas pria tersebut.


"Ya sudah. Kamu cepetan berangkat duluan. Ntar Mama sama Papa nyusul habis sarapan."


"Oke, Ma. Ajak Tania juga ya, tadi dia pengen ikut, cuma ku suruh bareng Mama aja biar ada temennya juga disana." pinta Kendra yang diangguki oleh sang Mama. Pria itupun berangkat terlebih dahulu setelah berpamitan pada istri dan kedua orang tuanya.


"Uhuk..uhuk..uhuk..uhuk.."


"Ini, Kia minum dulu."


Hesti begitu mencemaskan sahabatnya, Kia seakan kesakitan akibat batuk yang terasa nyeri hingga menembus dadanya.


"Makasih, Hes. Uhuk..uhuk.." Kia sendiri tak mengerti, semakin lama tubuhnya semakin melemah rasanya. Apa mungkin bawaan hamil seperti ini? Akan tetapi, menurutnya ini terlalu sakit jika dianggap sebagai bawaan hamil.


"Mas Kendra belum kesini?"


Sudah beberapa kali wanita itu mencari-cari keberadaan suaminya. Sejak jam 3 dini hari tadi ia sudah terjaga, tetapi dirinya kecewa lantaran tak menemukan keberadaan sang suami.

__ADS_1


Zaskia menangis histeris, ia sungguh takut Kendra meninggalkannya. Untung saja ada Hesti yang mencoba menenangkan sekaligus meyakinkan jika Kendra tidak mungkin meninggalkannya.


"Paling sebentar lagi sampai Kia. Tadi aku chat katanya masih dalam perjalanan. Kamu nggak usah banyak pikiran ya bestie. Kasihan anak dalam kandungan kamu." Netra Hesti berkaca-kaca, sungguh iba rasanya melihat kondisi Zaskia sekarang.


Yang disebut ternyata berumur panjang, tak berselang lama Kendrapun datang memasuki ruangannya.


"Mas Kendra. Uhuk..uhuk..uhuk.." niat hati Zaskia ingin menyambut suami dengan binar kebahagiaan, apa daya batuknya kembali menyerang.


Kendra segera duduk ditepi brankar istrinya. Hatinya kembali ngilu melihat kondisi Zaskia yang semakin memburuk sepertinya.


"Baby, maaf aku semalam meninggalkanmu sebentar. Sudah,sudah. Sekarang kau beristirahatlah. Aku akan menemanimu sebentar sebelum nanti berangkat kerja. Nanti Mama dan Papa akan kesini menengokmu." ungkap pria tersebut seraya mengelus dan mengecup puncak kepala Zaskia.


Seketika wanita itu bergeming, ia khawatir Kendra memberitahukan kehamilannya dengan pria lain. Ia takut mertuanya pasti marah dan akan membenci dirinya.


"Mas, apa Mama sama Papa tahu aku.."


Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, sang suami segera menutup bibirnya dengan jari telunjuk.


"Shutt..Mereka hanya tahu kau hamil dan anak dalam kandunganmu itu adalah cucu mereka." ungkap Kendra menenangkan, meski dalam hati tentu sulit baginya menerima semua ini.


"Makasih, mas. Kamu masih mau menerimaku dan juga janin yang ada dalam rahimku ini." bulir airmata Zaskia meluncur begitu saja. Ada rasa haru menyelimuti mengingat kesabaran sang suami yang mau berlapang dada menerima kenyataan.


Kendra mengulas senyumnya, " InsyaAlloh mas ikhlas. Yang terpenting kau harus cepat sembuh dan kembali seperti sedia kala. Demi aku dan orang-orang yang menyayangimu." ujarnya menyemangati.


Tak berselang lama, Dokter melakukan visit diruangannya. Setelah memeriksa kondisi pasien, Kendrapun diminta untuk kembali menemui Dokter diruangannya.


Melihat raut keseriusan sang Dokter membuat Kendra semakin gelisah mengenai kondisi sang istri yang sebenarnya.


"Semoga kondisi Zaskia semakin membaik." batinnya berharap meski ia ragu mengingat tubuh wanita itu terlihat semakin melemah sekarang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2