Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 59


__ADS_3

Mendengar teriakan Zaskia membuat keempat orang yang masih asyik mengobrol tertegun karenanya.


"Astaga. Mama sampai melupakan Zaskia." Bu Santi tersadar telah mengabaikan menantu pertamanya.


"Biar Mama saja yang menemui Zaskia diatas. Kalian tunggulah disini."


Bu Santi segera menyusul Zaskia menuju kamar. Wanita itu masuk saat tahu pintu kamar menantunya tidak dikunci. Zaskia nampak berbaring memunggunginya, sesekali terdengar isak tangis dari menantunya.


Bu Santi duduk ditepi ranjang, ia mengusap lembut punggung Zaskia.


"Maafkan Mama, Kia. Mama tidak bermaksud membela Tania. Hanya saja gadis itu sedang mengandung cucuku, aku tidak mau cucuku lahir tanpa seorang ayah." tutur Bu Santi penuh kelembutan, beliau berusaha mengajak Zaskia untuk berbicara dari hati ke hati.


Bu Santi teringat ucapan Zaskia tempo hari di telepon. Zaskia menceritakan kesalahan yang telah ia perbuat hingga membuat Kendra menikah dengan putri Bi Minah dan sekarang Kendra lebih sayang dan perhatian pada gadis itu lantaran Tania hamil anak Kendra.


Zaskia meminta kedua mertuanya membantu agar Kendra menceraikan Tania sebab ia selalu terbakar cemburu dan tidak bisa berbagi suami dengan gadis itu. Zaskia mengatakan bahwa ia sudah benar-benar siap menjadi ibu dari anak-anak Kendra nanti.


"Sepertinya sudah tidak ada yang menginginkanku sekarang. Semua yang kumiliki telah menjadi milik Tania. Aku sudah tidak dianggap sama sekali oleh kalian." ungkap Zaskia disela isak tangisnya.


"Bukan begitu, Nak. Mama dan Papa juga sayang padamu Kia. Mama mohon belajarlah untuk menerima Tania. Mama akan meminta Kendra untuk lebih adil pada kalian berdua. Mungkin saat ini Tania sedang membutuhkan perhatian lebih sebab dia sedang mengandung. Apalagi ini kehamilan pertamanya, Mama khawatir usia Tania masih terlalu muda untuk melahirkan." Bu Santi berusaha memberikan pengertian.


Zaskia benar-benar pusing sekarang, posisinya sudah terdesak. Jikapun dirinya tak terima justru dia pasti akan benar-benar kehilangan Kendra. Ia jadi teringat kesalahannya saat berada di luar negeri, apakah ini karma sebab ia sempat ditiduri pria lain?


"Kia pengen sendiri dulu, Ma. Aku harus berpikir dengan jernih. Tolong Mama pergi dari sini." Zaskia mengusir mertuanya secara halus.


Bu Santi mengesah pasrah, tapi dirinya memang harus memberi waktu pada Zaskia. Jika dirinya berada di posisi sang menantu, pasti diapun tidak akan ikhlas jika di duakan. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kendra sudah menikahi Tania, apalagi gadis itupun tengah hamil sekarang.


"Baiklah, Mama pergi. Semoga kau bisa memutuskan lebih bijak." jawab Bu Santi. Iapun memutuskan keluar dari kamar menantunya.


***

__ADS_1


Tania merasa tak enak hati, Zaskia benar-benar marah akan kehadirannya.


"Tuan, bagaimana ini? Bagaimana jika Non Zaskia tetap tidak terima dengan keberadaanku?" Tania sendiri juga bingung, jika dia tetap bertahan, lalu bagaimana dengan Zaskia? Akan tetapi, dirinyapun tak ingin menjadi pelakor yang membuat rumah tangga majikannya jadi hancur berantakan.


"Apa sebaiknya Tuan melepaskanku saja? Bagaimanapun Non Zaskia yang pertama memiliki anda." kata-kata itu meluncur seiring tangis Tania yang tak terbendung lagi. Sangat sulit tentunya, tapi mau bagaimana lagi jika memang permasalahan mereka tak kunjung menemukan titik terang.


Kendra langsung merengkuh tubuh istri kecilnya dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Aku sangat benci hal itu dan aku tak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun. Mengenai Zaskia biar aku nanti yang akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri, kau sedang hamil dan tidak boleh terlalu banyak pikiran." ucap Kendra menenangkan.


"Tapi, Tuan.."


Belum sempat Tania berkata-kata, Kendra segera menutup mulut gadis itu dengan jari telunjuknya. Membenamkan kembali sang istri kedalam pelukannya. Hati Kendrapun sebenarnya sedang gelisah, tetapi ia tak mau Tania terbebani karenanya.


"Eherm..Eherm.."


Tania segera mendorong tubuh Kendra lantaran tak enak dengan sang mertua. "Maaf, Tuan Besar." ucapnya tanpa berani mendongakkan kepalanya.


Kendra berdecak kesal, disaat seperti ini Papanya justru membuat Tania menjadi tidak nyaman.


"Papa apaan sih? Mending Papa istirahat di kamar. Papa pasti lelah kan baru datang dari Bandung?" usir Kendra secara halus.


"Siapa bilang Papa capek? Kesini saja Papa disupirin Pak Udin. Di mobil juga Papa sama Mama udah tiduran jadi nggak ngantuk sekarang." Pak Bayu sengaja mengerjai putranya.


Kendra bertambah kesal, Papanya seperti tidak mengerti anak muda saja. Padahal Kendra ingin memeluk, mengecup Tania supaya gadis itu lebih tegar menghadapi masalahnya. Tetapi yang ada Tania pasti malu bermesraan didepan mertuanya.


"Ya kalau gitu Papa ngerjain apa gitu? Tugas kantor atau apa? Kan pasti pekerjaan Papa terbengkalai jika ditinggal kesini." bujuk Kendra kembali.


"Tenang saja, Ken. Kan ada Usman, asisten pribadi Papa yang sangat bisa diandalkan. Kamu itu Ken, harusnya minta izin Bi Minah dulu karena udah nikahin anaknya secara paksa. Apalagi sampe mlendung gitu. Ceck.. Heran Papa. Padahal Papa sudah mengajarimu jadi pria mandiri dan bertanggung jawab." sindir Pak Bayu sengaja ingin memojokkan putranya.

__ADS_1


"Iya, iya Kendra tahu. Nanti Kendra pasti akan ngomong secara langsung sama Bi Minah. Papa nggak usah khawatir, Kendra sudah memikirkan hal itu." seloroh Kendra. Sebenarnya ia malu dijelek-jelekan Papanya di depan Tania. Padahal selama ini imagenya selalu bagus dimata istri kecilnya itu.


"Ya kalau gitu kamu yang pinter, Tania. Kalau Kendra mau minta izinnya sama ibumu nanti, berarti kamu kasih jatah suamimu nanti saja kalau sudah dapat izin dari ibumu. Sesuatu yang baik itu harus disegerakan, jangan ditunda-tunda. Jangan mau dimanfaatkan, dimintai yang enak-enak kalau dia belum sepenuhnya bertanggung jawab sama kamu." Pak Bayu berganti memanasi Tania.


Wajah Tania langsung memerah karena malu. Ia tak menyangka mertuanya yang terkesan dingin dan kaku ternyata meluber sampai tumpah-tumpah kalau ngomong. Bahkan untuk masalah yang tabu menurutnya.


"I, iya Tuan Besar." jawabnya gugup.


Kendra langsung mendelik ke arah Papanya. Bukannya mendukung, papanya justru malah memojokkan sekaligus menjatuhkan imagenya di depan Tania.


"Kenapa Ken melotot gitu? Papa bener kan ngomongnya? Usaha dikitlah, perusahaan punya kamu sendiri nyari waktu senggang saja nggak bisa. Katanya perusahaan besar, masak nggak ada yang bisa dipercaya? Kayaknya masih kalah sama Papa."sindir Pak Bayu kembali.


Kendra mencebik kesal, "Sayang, besok aku akan mengajakmu ke kampung halamanmu. Aku akan meminta restu pada ibumu sekalian kita jalan-jalan disana. Kamu mau kan?" bujuk Kendra sembari menyelipkan anak rambut Tania yang sedikit berantakan." ia bangga karena sudah merasa berhasil membungkam papanya.


"Memang Tuan nggak sibuk? Bagaimana kerjaan Tuan jika ditinggal secara mendadak? Apa tidak masalah?" Tania tak ingin menyusahkan suaminya.


"Kamu nggak usah khawatir. Aku bisa membawa pekerjaanku kemanapun. Yang terpenting sekarang, kamu." ucap Kendra sembari mengecup kening istrinya.


Tapi tak berhenti sampai disana, iapun mencium kedua mata, pipi, hidung dan berlabuh di bibir istrinya. Tania berusaha mendorong, tetapi Kendra menahan dan justru semakin menghimpit tubuhnya.


Pak Bayu mendengus kasar, kalau sudah begini iapun harus pergi dari pada jadi gerah melihatnya.


" Dasar anak nggak ada akhlak! Eh ralat..soleh tapi nggak bisa ngerem anunya." batin Pak Bayu kesal. Ia tak jadi mengumpati anaknya sebab ucapan orang tua doa mustajab bagi sang anak. Akhirnya dia harus mengibarkan bendera putih tanda kekalahan.


Kendra tersenyum smrik, akhirnya ia bisa menang telak dari papanya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗

__ADS_1


__ADS_2