
Ucapan Bu Santi membuat Zaskia gelisah dan tak bisa tidur semalaman. Dirinya benar-benar takut jika ia sampai hamil anak Dafa sebab Kendra belum pernah menyentuhnya semenjak pulang dari luar negeri.
Keesokan paginya, Zaskia diam-diam pergi ke apotek yang tak jauh dari kediamannya. Ia membeli sebuah alat tes kehamilan untuk memastikan dirinya benar-benar hamil atau tidak.
"Ya Tuhan. Aku tidak mau hamil, apalagi anak pria brengsek itu." batinnya saat akan menggunakan alat tersebut.
Zaskia menempelkan alat itu pada urinenya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin." Zaskia terperangah melihat garis dua yang tercetak jelas disana. Tubuhnya lunglai seketika, dirinya begitu terpukul menghadapi kenyataan bahwa dirinya memang hamil.
"Aku tidak mau hamil..aku tidak mau! Aku tidak mau!" tangisnya langsung pecah mendapati kenyataan tersebut, ia memukul perutnya yang masih rata berharap benih yang terlanjur menempel bisa luruh dari rahimnya.
"Jangan hukum aku seperti ini, Tuhan. Aku tidak sanggup." batinnya meratap pilu.
Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Padahal dirinya berharap tidak akan lagi berurusan dengan Dafa. Akan tetapi, nyatanya pria itu justru merupakan sahabat Kendra. Dan sekarang, diapun harus mengandung anak dari baji**an itu.
Tok..Tok..Tok..
Zaskia gelagapan saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia segera menghapus sisa airmata dan menyembunyikan benda pipih pembawa sial baginya. Zaskia keluar kamar setelahnya.
"Ada apa, Bi?" tanyanya ketika melihat Bi Marni di depan kamar.
"Tuan muda dan Tania baru saja tiba. Mereka ada dibawah, Nona." Bi Marni menyampaikan.
Wajah Zaskia berbinar mendengar sang suami telah kembali. "Iya, Bi. Sebentar lagi aku akan turun." ungkapnya bersemangat.
***
"Tania? Bagaimana? Apa liburanmu menyenangkan, Nak? Bagaimana kabar Bi Minah sekeluarga? Mereka sehat-sehat bukan?" Bu Santi dan Pak Bayu barusan menyambut kedatangan anak dan menantunya.
" Alhamdulillah. Semua sehat, Nyonya. Kemarin ibu titip salam buat keluarga disini. Katanya terima kasih karena Tuan dan Nyonya sudi menerima saya menjadi bagian dari keluarga ini." jawab Tania.
__ADS_1
Bu Santi mengembangkan senyumnya, "Tentu saja. Kamu gadis yang baik, apalagi kau juga sedang mengandung cucuku. Oh ya, rasanya tidak enak kalau kau memanggil kami dengan sebutan Nyonya dan Tuan, terutama pada suamimu. Itu terkesan menciptakan jarak diantara kita. Kau panggil kami Mama dan Papa saja seperti Zaskia. Untuk suamimu, ibu serahkan padamu mau memberikan nama kesayangan apa." seloroh Bu Santi mencairkan suasana.
"Panggil saja aku Sayang, Hubby, Honey atau apa saja yang membuatmu merasa nyaman. Kadang telingaku risih mendengarnya memanggilku Tuan, Tuan." Kendra menimpali sambil menirukan gaya berbicara Tania.
Wajah Tania langsung merona, ia mencubit pinggang sang suami yang berani menggodanya di depan orang tua. Kendra berpura-pura mengaduh seraya berjingkat merasakan nyeri sekaligus geli akibat ulah sang istri.
Bu Santi dan Pak Bayu terkekeh melihat interaksi anak dan menantunya tersebut. Mereka senang menyaksikan kebahagiaan yang terpancar di wajah keduanya.
Namun, sepasang mata yang kini tengah menuruni tangga terlihat begitu sendu. Kendra terlihat bahagia bersama Tania, bukan tidak mungkin pria itu akan melepaskannya jika sampai ia tahu Zaskia hamil anak pria lain.
"Boleh aku bergabung bersama kalian?"
Ucapan Zaskia berhasil mengalihkan perhatian keempatnya.
"Kia? Tentu saja boleh. Mari bergabung kemari." ajak Kendra pada wanita itu. Pria itu memilih berdiri dan meminta kedua istrinya duduk berdampingan. Ia merasa canggung jika harus berada ditengah-tengah keduanya.
"Kia? Bagaimana Nak? Apa kau sudah mengetesnya? Apa kau juga sedang hamil seperti Tania?"
" Ma-af Ma. Aku belum bisa memberikan kabar gembira seperti yang Mama harapkan. Aku kemarin hanya masuk angin biasa." Zaskia menundukkan wajahnya. Ia berusaha menahan genangan airmata yang sedikit lagi bisa saja tertumpah. Hatinya sungguh terluka, ini pasti mengecewakan dan akan semakin mengecewakan jika semua tahu kenyataan dirinya hamil anak pria lain.
Tania menggenggam erat jemari Zaskia. Ia sadar perempuan disebelahnya sedang bersedih saat ini.
"Nona, anda jangan pesimis. Waktu anda masih panjang, apalagi anda masih baru mengawali program kehamilan. Aku yakin, sebentar lagi Tuhan akan dengan senang hati menitipkan janin di rahim anda ini." perempuan itu mencoba menyemangati.
Seulas senyum terbit di wajah ayu Zaskia. "Terima kasih." dirinya berharap ucapan itu memang tulus padanya.
"Kau benar, Nak. Ibu yakin sebentar lagi kau juga akan hamil. Ken, ini PR untukmu. Sepertinya kau harus lebih giat bercocok tanam diladangmu." kelakar Bu Santi. Wanita itu berusaha untuk mencairkan suasana.
Kendra cukup terkesiap mendengarnya, ia bahkan belum menyentuh Zaskia semenjak wanita itu pulang.
"Pasti, Ma." jawabnya seraya menatap istri pertamanya yang terlihat sendu. Ada rasa kasihan yang menghinggapi hati Kendra.
__ADS_1
Satu persatu dari mereka mulai membubarkan diri. Kini tinggal Tania, Zaskia dan Kendra diruang keluarga. Pria itu bingung harus mengajak yang mana, ia takut salah satu diantara mereka ada yang kecewa.
Tania mengerti keadaan, " A Kendra, Non Zaskia, aku pamit ke kamar dulu ya. Aa temani Non Zaskia saja di kamarnya. Non Zaskia pasti sangat merindukanmu." cukup kikuk rasanya gadis itu memanggil sang suami. Akan tetapi, mengingat Kendra ada darah sunda juga seperti dirinya, ia memilih memanggil pria itu dengan sebutan Aa.
Kendra ingin mencubit pipi Tania saja rasanya karena gemas melihat cara memanggil gadis itu yang terlihat kaku. Tapi dia harus bisa menetralkan perasaannya, "Baiklah. Kia, ayo kita keatas. " ia merengkuh pinggang Zaskia dan mengajaknya menuju kamar mereka.
Zaskia merasa hangat melihat Kendra memeluk pinggangnya. Wanita itu menyandarkan kepala dibahu sang suami seraya merengkuh pinggang suaminya.
Keduanya masuk dan duduk ditepi ranjang. Kendra ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beristirahat dan menemani Zaskia. Lelaki itu berniat mengambil pisau cukur yang kemarin baru ia beli.
Zaskia terkesiap melihat Kendra hendak membuka nakas tempat dirinya menaruh testpack tadi.
"Jangan! " ucapnya spontan saat pria itu hendak membuka laci. Kendra sendiri heran melihat tingkah sang istri.
Zaskia langsung berdiri saat pria itu tak bergeming.
"Jangan, mas. Kau mau cari apa? Biar aku yang ambilkan."ucapnya gugup.
"Kau kenapa? Memang apa yang sedang kau sembunyikan?" sikap Zaskia justru membuat Kendra menjadi curiga.
"Aku menyimpan pembalutku disini. Aku malu jika kau melihatnya. Tadi terlanjur kubuka, tapi keburu Bi Marni memanggilku." ungkapnya memejamkan mata, ia harap alasannya bisa diterima.
Kendra terkekeh mendengarnya, " Kupikir apa? Ya sudah. Tolong ambilkan pisau cukurku. Aku mau mandi sebentar." Kendrapun membiarkan Zaskia membuka laci, wanita itu mendorong benda pipih itu kedalam dan mengambilkan pisau cukur suaminya.
"Makasih, Baby. " Kendra mengecup pipi Zaskia kemudian berlalu ke kamar mandi.
" Huh..untung saja." gumam Zaskia lega.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karyaku ini ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍
__ADS_1