
" Duh yang habis berkencan. Gimana Neng kencannya lancar? " Bi Sumi langsung menggoda Tania saat gadis itu tengah membantu Bi Marni memasak di dapur.
" Alhamdulillah lancar, Bi. Ini semua berkat Bi Sumi, suamiku bilang aku sangat cantik tadi malam. " jawab Tania sembari mengingat ucapan Kendra semalam. Hanya saja ketika mereka sampai ke rumah, Kendra mengatakan bahwa dirinya mendapat tugas untuk mempelajari fashion masa kini supaya lebih mandiri tanpa bantuan Bi Sumi.
Bi Sumi dan Bi Marni saling berpandangan heran. " Suami?? " ujar keduanya kompak hingga membuat Tania gelagapan seketika.
" Eh..maksud Tania pacar Bi. Tania salah ngomong. " sangkalnya sembari menyengir kuda.
Bi Sumi mencebik heran, " Memang ya anak muda jaman sekarang, masih pacaran manggilnya suami istri padahal belum menikah. Makanya banyak yang tek dung soalnya nganggep pacar jadi suami. Tania harus ingat sebelum " SAH " jadi suami istri harus tahu batasan mana yang boleh mana yang nggak boleh. Jangan mau diicip-icip dulu, kasihan suami dapat sisanya. " Bi Sumi menasehati.
"Emang makanan pakai diicip-icip? Iya, Bi. Tenang saja. Tania udah sah kok eh maksudnya Tania udah tahu kok. Pasti Tania jaga diri. " canda Tania hampir keceplosan.
Bi Sumi hanya mampu geleng-geleng kepala, lebih baik dia segera pergi keluar untuk membersihkan taman dan halaman belakang.
Ketika hendak keluar, tanpa sengaja ia bertemu sang majikan.
" Pagi,Tuan Kendra. "
" Pagi, Bi. "
Kendra tersenyum sumringah, ia sudah terlihat rapi dan tampan pagi ini. Wajahnya semakin berbinar, mungkin karena asupan gizi yang diterimanya semalam. Ia menyapa Bi Marni dan Tania dengan senyum yang mengembang sempurna.
" Pagi Bi Marni. Pagi Tania. " sapanya pada kedua orang yang tengah sibuk didapur. Ekor matanya melirik Tania yang terlihat merona melihat kehadirannya.
Kendrapun duduk diruang makan, ia memperhatikan menu yang ada diatas meja makan. Pas sekali, disaat hatinya sedang bahagia, menu makanan diatas meja juga menu kesukaannya.
Kendra memasukkan sepotong udang asam manis kedalam piringnya. Bergegas pria itu menyantap udang tersebut dan memasukkan kedalam mulut.
Namun, tiba-tiba netranya membulat sempurna saat merasakan sesuatu yang aneh dalam makananya.
Kendra berlari menuju wastafel dan memuntahkan makanan yang baru saja di telannya.
" Hoek..Hoek.."
Tania bergegas menghampiri sang majikan karena cemas. Kebetulan iapun mencuci piring didekat sana.
" Tuan, Tuan kenapa? Apa Tuan sakit? "
Tania begitu khawatir, ia memijat perlahan tengkuk Kendra supaya pria itu sedikit nyaman. Ia rasa Kendra masuk angin gara-gara semalam mereka bercinta hingga dini hari dan harus segera pulang ke rumah.
" Aku tidak apa-apa. Hanya saja perutku mual sekali. " Kendra menggenggam jemari Tania, ia tak ingin membuat wanitanya menjadi semakin cemas. Namun, tekanan dalam perut membuatnya kembali merasakan mual.
__ADS_1
" Huek..Huek.."
Tanpa keduanya sadari, Bi Marni memperhatikan kedekatan mereka. Tadinya, ia akan membawakan segelas air putih hangat untuk Kendra, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Kendra menggenggam jemari Tania.
" Bi, sini air putihnya. " pinta Tania kala melihat Bi Marni hanya mematung di belakang mereka sembari membawa segelas air putih.
" I..iya. Ini airnya. " iapun menyerahkan air tersebut pada Tania.
Lagi-lagi, wanita paruh baya itu melihat interaksi yang kurang wajar dari keduanya. Ia melihat Tania yang terlalu cemas pada Kendra, tetapi kecemasan itu mirip seperti seorang wanita pada pasangannya. Gadis itu dengan telaten membantu Kendra minum tanpa merasa canggung saat tangan Kendra juga menyentuh tangannya.
" Ah..semoga hanya perasaanku saja. Lagipula, Tuan Kendra kan tipe pria setia, masak iya selingkuh sama Tania. " Bi Marni mencoba berpikir positif.
" Makasih, ya Bi. "
Lagi-lagi Bi Marni dikejutkan oleh suara Tania. Untung saja sepertinya gadis itu tidak curiga kepadanya.
" I,,iya Neng. Tuan kenapa? Apa Tuan sakit?" Bi Marni berusaha bersikap sewajarnya.
Kendra mulai sedikit nyaman sekarang, rasa mualnyapun sudah berkurang.
" Nggak tahu, Bi. Masuk angin kayaknya. Oh ya.. tapi aku rasa udang yang Bibi masak udah nggak fresh. Tadi baunya agak aneh, terus rasanya juga nggak kaya biasanya. " keluh Kendra.
" Masak sih, Tuan? Padahal tadi Bibi beli udang baru, biasa di langganan Bibi." sangkal Bi Marni.
" Biasalah, Bi. Terkadang penjual sekarang suka mencampur barang sisa dengan yang baru. Kalau tidak percaya, nanti Bibi coba saja. "
Bi Marni sepaham dengan apa yang disampaikan majikannya.
" Trus, makanannya nggak dimakan lagi? "
" Maaf ya, Bi. Aku lagi nggak nafsu makan, perutku rasanya kaya diaduk-aduk sekarang. " jawab Kendra memelas.
Bi Marni tak tega memaksa Tuannya, apalagi Kendra agak pucat sekarang.
" Tidak apa-apa, Tuan. Sepertinya Tuan sedang tidak enak badan. Apa tidak sebaiknya istirahat dulu dirumah? " bujuk Bi Marni.
Sebenarnya Kendrapun inginnya begitu, tetapi hari ini dia ada janji dengan rekan bisnisnya yang sangat penting. Mau tidak mau dia harus tetap ke kantor hari ini.
Setelah kepergian Kendra, Bi Marni menarik lengan Tania dan membawanya ke meja makan.
" Kenapa, Bi? "
__ADS_1
" Ini, Bibi penasaran. Masak iya udangnya basi? Jelas-jelas tadi pagi udangnya hidup dari pasar. " Bi Marni tak percaya.
Iapun memberikan sepotong udang untuk Tania dan juga untuknya.
" Eumm..,ini sih enak sekali. " ungkap Tania sembari menjilat saos yang menempel dijarinya.
" Nggak basi kan? " Bi Marni meyakinkan, udang yang dimakannyapun sama enaknya.
" Enggak, Bi. Eeum..tapi untuk memastikan lebih baik dicoba lagi. Siapa tahu salah satu diantaranya ada yang basi. " pikir Tania.
" Eh..iya-ya. Ya sudah, kita coba lagi. "
Tanpa terasa udang itupun tandas oleh Tania dan juga Bi Marni, lebih tepatnya Tania. Bi Marni sampai geleng-geleng kepala melihat Tania melahap udang dengan begitu rakus hingga tandas sampai ke saos-saosnya. Padahal biasanya gadis itu pemalu, makanpun tak berani mengambil porsi yang banyak.
" Kasihan kamu Tania. Kayak nggak makan seminggu saja. " ejek Bi Marni geleng-geleng kepala.
Tania hanya menyengir, iapun tak menyangka udang Bi Marni tandas olehnya. Mungkin saking nikmatnya masakan wanita itu, atau mungkin karena dia yang tak pernah memakan udang.
***
Sementara di Singapore, Zaskia telah selesai melakukan konsernya. Wajahnya nampak ditekuk kala melihat seorang pria yang paling ia benci datang sembari membawa buket bunga mawar untuknya.
" Selamat,Honey. Konsermu sangat sukses. Kau tampil begitu memukau malam ini." ungkap Dafa sembari mengecup puncak kepala Zaskia.
Wanita itu hanya diam tanpa mau melawan. Ia terpaksa menuruti keinginan gila Dafa untuk menjadikannya seorang kekasih. Dengan syarat, lelaki itu tak boleh menyentuh tanpa seizin Zaskia.
Itu lebih baik menurut Zaskia, agaknya Dafa Wardana bukan pria bejat yang hanya mengedepankan nafsunya belaka. Ia menuruti semua keinginan Zaskia dan berharap wanita itu mau membuka hati untuknya.
" Apa kau senang dengan bunga pemberian dariku? " tanya Dafa saat keduanya masuk ke dalam mobil.
" Tidak sama sekali, aku tidak suka bunga. " sarkas Zaskia datar.
" Tidak apa-apa. Nanti aku akan membawakan hadiah lain untukmu."
tutur Dafa tersenyum getir.
Dafa benar-benar menyukai Zaskia sejak dulu. Dirinya tak akan menyerah sebelum wanita itu mau membuka hati untuknya. Dia berencana akan menambah jadwal tour Zaskia agar ia punya waktu untuk berlama-lama dengan wanita pujaannya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak like,koment, rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍
__ADS_1