
Hanya butuh waktu satu setengah jam saja pesawat yang dinaiki Tania akhirnya tiba di Jakarta. Perempuan itu berniat membawa ibu dan adik-adiknya terlebih dahulu ke kediaman Kendra, baru setelah itu menuju rumah sakit menemui suaminya.
Bu Marni dan Bu Sumi teramat senang melihat kehadiran Tania dan keluarganya. Apalagi dengan kehadiran Bu Minah disana, seolah mereka sedang reunian kembali mengingat masa-masa ketika kerja bersama.
"Alhamdulillah neng Tania pulang, kasihan sekali Tuan Kendra nggak keurus. Sekarang badannya saja kurus, makannya nggak teratur." ungkap Bu Marni langsung berhambur memeluk istri majikannya.
Tania merasa bersalah mendengarnya, biasanya perempuan itu yang paling cerewet mengingatkan suaminya agar jangan telat makan terutama ketika Kendra semakin sibuk mengurus Zaskia.
"Maafin Tania, Bi. Terkadang aku sendiri memiliki sisi egois dan ingin diperhatikan oleh suami." sesal perempuan itu.
"Gak pa pa neng. Neng kan memang lagi hamil pasti butuh perhatian lebih. Hanya saja mungkin Tuan Kendra butuh pengertian Neng Tania sebab Tuan harus membagi-bagi waktunya untuk banyak hal." tukas Bu Sumi mencoba memberi pengertian.
Tanpa terasa airmata Tania lolos dari pelupuknya. Entah mengapa perkataan Bu Sumi semakin membuatnya merasa bersalah, mungkin juga hormon kehamilan membuat mood perempuan itu gampang berubah.
"Loh neng, kok malah nangis. Maaf Neng Bibi nggak bermaksud bikin neng Tania sedih." Bu Sumi serba salah.
"Gak kok Bi. Bukan salah Bi Sumi Tania nangis. Tania cuma merasa jahat aja sama Aa." ungkap gadis itu semakin tersedu-sedu.
__ADS_1
"Sudah,Nak. Yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran supaya kamu bisa lebih sabar dan bijak dalam bertindak." Bu Minah mengusap lembut punggung putrinya untuk menenangkan.
Tania jadi ingin cepat-cepat bertemu dengan Kendra. Ia tak ingin membuang waktu untuk segera berjumpa dengan lelaki yang sebenarnya ia rindukan.
Tania berdiri dari tempat duduknya, tetapi seketika perutnya terasa menegang hingga membuat perempuan itu meringis karenanya.
Bu Minah terkesiap, ia langsung menghampiri putrinya.
"Neng mau kemana? Istirahat dulu, jangan terlalu capek. Ingat kamu sedang hamil tua. Tadi saja habis melakukan perjalanan jauh." Bu Minah khawatir.
Tania berusaha menahan rasa tegang dari dalam perutnya hingga berangsur-angsur rileks kembali.
Bu Minah tetap saja khawatir, dia bahkan sudah sangat berpengalaman masalah melahirkan.
"Kalau neng kekeuh mau ke rumah sakit, biar ibu temani ya. Sekalian silaturahmi kesana." Tania menurut saja, mungkin begitu lebih baik.
***
__ADS_1
Kendra masih menemani Zaskia diruangannya. Netranya yang sayu menatap Zaskia dengan perasaan iba. Wanita yang dulu begitu cantik kini terlihat semakin kurus dan lemah, kulitnya mengering dan rambutnya habis akibat pengaruh obat. Akhir-akhir ini Zaskia sering gelisah dan selalu mencari keberadaannya jika ia terbangun.
Wanita itu terbangun, seulas senyum terlukis diwajahnya kala melihat Kendra ada disampingnya.
"Ken." ucapnya lemah.
Lelaki itu memaksakan senyumnya, hatinya terkoyak melihat kondisi Zaskia yang sangat memprihatinkan.
"Kau bangun?Apa kau membutuhkan sesuatu?"tanya lelaki itu nampak ramah. Ia harus terlihat kuat agar Zaskia tak bersedih karenanya.
Zaskia menggeleng lemah.
"Apa belum ada kabar tentang Tania? Bagaimana aku bisa meninggalkanmu jika kau terpuruk seperti ini." netranya mulai berembun, sungguh malang sekali nasib Kendra. Disaat aib keluarganya dibesar-besarkan, Kendra harus menghadapi kenyataan ia sakit parah dan Tania pergi dari rumah.
Remuk sudah hati Kendra, ia paling tidak bisa melihat keputusasaan diwajah Zaskia. Ia dan Zaskia sudah berjuang hingga dititik ini.
"Apa yang kau katakan? Aku yakin kau pasti akan sembuh dan Tania akan kembali berada disisiku. Kita akan mulai semua dari awal, kau dan Tania akan berada disisiku dan hidup kita akan bahagia."
__ADS_1
Bersambung...