
"Bagaimana Dok? Apa ada masalah dalam tubuh saya?"
Akhirnya Kendra memutuskan untuk melakukan medical check up. Dirinya penasaran tentang apa yang membuatnya selalu mual, muntah dan pusing beberapa minggu terakhir. Dirinya khawatir jika ia mengidap penyakit yang cukup serius. Pria itu mendengarkan penuturan sang dokter dengan seksama.
"Kondisi kesehatan anda bagus, Tuan. Tekanan darah normal dan seluruh hasil pemeriksaan menyatakan bahwa anda dalam keadaan sehat. Mungkin anda terlalu stres atau kecapekan. Saya akan memberikan vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mual."
Kendra membuang nafas kasar, meskipun ia belum puas dengan pernyataan dokter bahwa dirinya baik-baik saja. Akan tetapi, setidaknya ia lega mendengar bahwa dirinya tidak menderita suatu penyakit serius.
"Sepertinya aku butuh liburan, mungkin itu bisa mengurangi beban dalam pikiranku." ia mencoba berpikir positif.
Tidak bisa dipungkiri, Kendra selama ini masih memikirkan keadaan Zaskia diluar sana. Dia termasuk suami yang protektif selama ini, baru kali ini ia membiarkan sang istri pergi tanpa meminta bodyguard mengawalnya. Dan hal itu disebabkan dirinya terlanjur kesal Zaskia pergi ke luar negeri tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu.
Beberapa hari lalu ia sempat memimpikan Zaskia. Wanita itu nampak murung dengan wajah yang pucat, Zaskia seolah memanggil namanya dalam mimpi. Tentu saja, hal itu membuat pikiran Kendra menjadi gelisah. Terkadang ia menyesali keteledorannya yang membiarkan Zaskia pergi begitu saja hanya karena emosi sesaat.
Setelah kepergian dokter pribadi Kendra, Tania memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar Kendra. Dirinya juga ikut gelisah lantaran khawatir dengan keadaan sang suami.
"Tuan? Apa kata Dokter barusan? Anda baik-baik saja bukan?" tanyanya cemas.
"Tenang, dokter bilang aku baik-baik saja. Aku hanya butuh liburan, mungkin aku terlalu lelah dan stres dengan urusan pekerjaan kantor." jawab Kendra apa adanya.
Tania ikut bernafas lega mendengarnya, "Syukurlah. Jika anda capek, aku bisa membantu memijat anda. Bukankah kata anda pijatanku sangat enak? Ibupun berkata demikian." saran Tania membanggakan dirinya.
Kendra menyeringai penuh arti.
"Ide yang bagus. Kalau begitu? Ayo,tunggu apa lagi?"
Pria itu mulai membuka piyama atasannya hingga membuat Tania susah payah menelan salivanya.
"Tu,,tuan mau apa?"
Otak Tania mulai travelling kemana-mana. Entah mengapa akhir-akhir ini ia sering sekali membayangkan adegan hotnya bersama Kendra. Sepertinya ia mulai ketagihan dengan yang namanya nikmat dunia, tetapi tentu saja ia tak berani meminta lebih dahulu kepada pria tersebut.
Kendra berjalan mendekati sang istri yang masih mematung dan menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Pria itu berdiri tepat dihadapan Tania dengan bertelanjang dada. Tangannya meraih jemari Tania dan menaruh tepat didadanya.
__ADS_1
"Apa kau mau menyentuh ini?"
Tania mengangguk seketika dan tangannya mulai meraba area perut Kendra, "wow..seksi." batinnya.
Namun, sesaat kemudian wanita itu menggeleng dan menarik tangannya.
"Tidak, Tuan. Maaf aku tidak sop..
"Euummphh.."
Belum juga Tania menyelesaikan kata-katanya, mulutnya langsung dibungkam oleh sebuah ciuman yang diluncurkan Kendra secara tiba-tiba. Entah mengapa, tubuh Kendra langsung menegang hanya karena sentuhan kecil dari Tania.
Pria itu ******* cukup kasar bibir istrinya hingga membuat Tania cukup kaget mendapat serangan yang begitu tiba-tiba. Namun, hal itu hanya berlangsung sesaat karena setelahnya mereka benar-benar menikmati ciuman panas tersebut.
Gairah keduanya mulai membara. Tangan Kendra dengan tak sabar menanggalkan seluruh pakaian Tania hingga menyisakan segitiga bermuda yang menutupi kawah kenikmatan milik sang istri.
Tania tak kalah agresif kali ini, ia memasukkan jemarinya kedalam celana bahan milik Kendra. Entah mengapa dirinya merasa begitu gemas dengan benda lentur memanjang yang ada didalam sana.
Tak perlu menunggu lama, pria itu langsung menggendong istrinya menuju ranjang. Keduanya kembali bergelut mengikuti gairah yang semakin panas hingga menaikkan suhu dalam ruang kamar tersebut.
Tubuh mereka kini telah basah oleh peluh masing-masing. Entah berapa gaya yang sudah mereka lakukan sedari tadi. Suara ******* dan erangan menjadi irama tersendiri dalam ruang kedap suara itu.
Kendra mendekap erat tubuh polos Tania saat ia akan kembali mendapat pelepasannya. Wanita itupun membalas pelukan sang suami ketika iapun mulai merasakan milik Kendra yang semakin menegang. Keduanya mengerang saat mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama.
"Terima kasih, Sayang."
Kendra mengecup puncak kepala Tania, lalu berbaring disebelah wanita tersebut. Nafasnya masih terengah-engah setelah olah raga panas yang mereka lakukan.
Tania berbalik dan mendekap tubuh polos sang suami. Ia menatap seluruh isi ruangan dalam kamar Kendra. Ini kali pertama mereka bercinta disana.
Fokusnya tertuju pada beberapa bingkai foto yang terpajang disana. Sebuah foto pernikahan besar berada ditengah-tengah dinding yang menghadap ranjang dan beberapa foto romantis Kendra bersama Zaskia, mereka terlihat begitu serasi.
Dada Tania tiba-tiba menjadi sesak, ia jadi teringat akan posisinya yang hanya menjadi bayang-bayang diantara keduanya. Dan bayang-bayang itupun suatu saat harus pergi setelah pemilik sesungguhnya kembali ke asalnya.
__ADS_1
Netra Tania berkaca-kaca, tanpa sadar airmatanya lolos begitu saja hingga terasa membasahi tubuh polos Kendra.
"Hai, kau kenapa? Apa kau tidak senang dengan percintaan kita barusan? Apa aku terlalu kasar padamu?" Kendra begitu cemas kala menyadari Tania tengah menangis. Ia memang sedikit lebih ganas dari biasanya.
Wanita itu mengulas senyumnya, "Tidak, Tuan. Aku sangat senang. Justru aku sangat nyaman berada dalam pelukan anda seperti ini. " Tania menyusupkan wajahnya di dada Kendra. Ia memang sangat nyaman dalam dekapan pria tersebut.
"Lalu, kenapa kau menangis?" tanya Kendra tak percaya.
"Tuan, apakah dulu anda sering bercinta dengan Nona disini? Pasti anda lebih senang bercinta dengan Nona daripada denganku bukan? Badanku saja kurus seperti lidi, sedangkan Nona Zaskia pasti sangat seksi." celetuk Tania.
Pria itu langsung menonyor pelan kepala istrinya, "Sudah kubilang. Jangan pernah membanding-bandingkan dirimu dan dirinya. Yang jelas kalian berdua istriku dan bagiku kalian memiliki sisi menarik masing-masing. Jika kau mau bertanya, tanyakan saja pada Bi Marni." jawab Kendra setengah bercanda, dia hanya tak ingin Tania berkecil hati. Yang jelas sekarang ia merasa sangat nyaman bersama istri kecilnya, terkadang ia merasa bersalah karena melupakan sosok Zaskia yang juga merupakan istri pertamanya diluar sana.
Mendengar nama Bi Marni disebut, Tania jadi menepuk jidatnya sendiri. " Astaga, aku lupa Bi Marni menungguku dibawah."
Wanita itu langsung melompat dari ranjang dan bergegas memunguti lalu memakai pakaiannya.
"Pelan-pelan, nanti malah jatuh." Kendra geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah absurd dari istri keduanya.
"Ini semua gara-gara Tuan. Ngapain sih malah ngajak bercinta. Tuan tidak tahu apa? Bibi menunggu dibawah karena ingin tahu keadaan anda juga. Lihatlah! Kita bercinta hampir dua jam." gerutu Tania.
Kendra mendengus pasrah, padahal tadi nyata-nyata Tania yang menggodanya dan wanita itu juga sangat menikmati percintaan mereka.
"Iya, maafkan aku. Semoga saja Bibi sudah tidur." ia memilih mengalah daripada panjang urusannya.
Tania mengangguk, ia berlari ke arah Kendra lalu tiba-tiba mengecup sekilas bibir pria tersebut. " Bye..suami tercinta." iapun berlari keluar dari kamar Kendra.
Kendra tersenyum sembari memegang bibirnya yang baru saja dikecup oleh Tania.
"Manis sekali."
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1